Cakrawala

Cakrawala
Episode 33


__ADS_3

"Kenapa lo suka sunset?" tanya gue penasaran,


"Bukan sunsetnya yang gue suka. Tapi ada satu titik di langit yang sangat gue suka"


"Titik?"


Kendra mengangguk, "Iya. Satu titik yang bernama Cakrawala"


"Kenapa?"


"Karena di titik itu siang bertemu dengan malam, bumi bertemu dengan langit, dan mimpi bertemu dengan harapan."


Gue menengadah memandangi wajah Kendra, tidak paham apa yang ingin dia utarakan.


Laki-laki itu hanya tersenyum, kemudian dia meletakkan dagunya di atas kepala gue sembari bercerita, "Gue terlahir bukan dari keluaga yang mampu secara finansial. Dulu waktu kecil, gue sering merasa iri dengan teman-teman sebaya gue. Mereka punya baju-baju bagus, sepatu bagus, tas yang bagus, bahkan mainan-mainan terbaru. Tapi gue? Ketika kebanyakan temen-temen gue berlari ke kantin begitu bel berbunyi, gue hanya duduk sendirian di kelas, menikmati bekal ala kadarnya yang disiapkan ibuk untuk makan siang. Gue juga pengen seperti mereka, tapi gue tau, kondisi orang tua gue yang pas-pasan tidak bisa memenuhi segala permintaan gue."


Gue menyimak ceritanya dengan tenang, "Gue cuma punya mimpi. Memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dari waktu itu. Dan lo tau apa yang membuat gue berani bermimpi?"


Gue menggeleng.


"Satu titik bernama cakrawala. Jika siang dan malam dapat bersatu di satu tempat, jika bumi dan langit dapat bertemu di satu tempat, maka mimpi dan kenyataan juga dapat berjumpa di satu tempat. Maka dari itu, setiap pagi dan sore, gue suka memandangi warna langit, mencari satu titik dan menggangtungkan mimpi gue di titik itu. Hingga akhirnya, gue bisa menjadi seperti sekarang ini"


Gue mengangguk-anguk. Dari kecil, Papa selalu mencukupi segala kebutuhan gue. Jadi gue nggak tau gimana rasanya hidup prihatin seperti Kendra. Salut gue sama dia, lelaki itu berani melangkah untuk mewujudkan mimpinya. Mimpinya aja dijaga, apalagi yang lain.. Hehe.


"Papa pernah bilang pelatihan menjadi tentara itu sangat sulit." Gue inget cerita-cerita Papa setiap kali dia nasehatin gue. Gimana Papa harus merayap di lumpur dengan desingan peluru  berjatuan di sisi kanan dan kiri dengan jarak begitu dekat, gimana Papa harus tahan berlari naik-turun medan yang terjal dengan menanggung berat senjata di bahunya, dan gimana Papa harus menahan teriknya matahari dan dinginnya malam dalam kondisi ala kadarnya. Maka dari itu Papa selalu menginginkan gue untuk hidup nyaman dan bercukupan, termasuk  menjodohkan gue dengan salah satu anak rekannya.


"Tidak ada yang mudah di dunia ini, Sa. Tapi pastinya usaha lo untuk bisa meraih gelar dokter lebih berat daripada pelatihan gue menjadi tentara."

__ADS_1


Gue tersenyum. Memori-memori kehidupan gue semasa perkuliahan terputar kembali. Saat-saat dimana gue menjadi mayat hidup yang hanya berkutat dengan buku-buku tebal dan jurnal-jurnal berbahasa asing. Entah, apa yang merasuki kepala gue sampai-sampai gue mengambil jurusan yang bisa membuat rambut gue memutih lebih dini.


"Gimana lo menghadapi masa-masa itu?" tanya gue.


Ujung bibir Kendra sedikit terangkat. Dia melepas genggaman tangannya dari tangan gue dan mencari-cari sesuatu di kantong celananya.


"Karena... ini" laki-laki itu mengeluarkan sebuah bola kristal transparan dan menunjukkannya ke hadapan gue.


"Apa itu?" tanya gue heran.


"Bola kristal"


"Bola kristal?" gue mengangkat alis.


"Coba lo liat.." Kendra mengarahkan benda transparan itu ke arah matahari terbenam, hingga replikanya terlukis indah di dalam bola kecil dalam genggamannya, "Matahari yang jauh di langit sana bisa gue gengam lewat bola kristal ini. Setiap kali gue menemukan sesuatu yang rasanya sulit untuk digapai, gue selalu memakai bola kristal ini, menangkap bayangan benda itu hingga terpantul dalam bola transparan ini, dan membayangkan hal yang gue inginkan itu sudah berada di genggaman gue. Begitulah cara gue menyemangati diri sendiri hingga gue bisa melalui masa-masa sulit itu."


Mata gue menyipit ketika menyadari semburat merah terlukis di pipi Kendra, ujung bibirnya juga sedikit terangkat.


"Dari mana?" tanya gue sekali lagi dengan sedikit nada tegas.


"Seseorang"


"Siapa?"


Kendra mengendikkan bahu. "Entahlah. Gue juga nggak inget"


"Iiih.. siapa sih? Cewek ya?"

__ADS_1


"Udah sore. Pulang yuk"


"Jawab dulu siapa?"


Tanpa mempedulikan rengekan gue, Kendra menarik tali kekang kuda jantan itu dan membawa gue kembali pulang.


"Iiihh jawab dulu siapa? Gebetan lo? Cinta pertama lo?" gue masih memojokkan.


"Udah gue bilang gue nggak inget"


"Fix deh kalau ini, cinta pertama lo ya?"


"Nggak tau"


"Iiih kok gitu?"


"Apa mau gue inget-inget?"


"Nggak. Nggak boleh. Udah lupain aja. Pokoknya yang boleh lo inget hanya gue"


"Maksa banget"


"Biarin."


Hufh, gimana caranya gue bisa bersaing dengan cinta pertama?


 

__ADS_1


 


__ADS_2