
-Kendra-
Keringat Tristan mengucur deras. Lengan bajunya dia gulung sampai siku. Wajah dan tangannya sudah belepotan asap hitam dan oli mesin. Namun mobil yang menjadi sarana transportasi kita belum juga mau berjalan.
"Masih belum bisa juga?"
Tristan mengusap bulir-bulir keringat di dahinya, "Gue nyerah. Bengkel di deket sini sebelah mana sih?"
Malam semakin larut tapi kita berempat malah terjebak di kota. Tristan mencoba mengotak-atik mobil tumpangan kita yang tiba-tiba mogok. Tapi hasilnya nihil.
Lelaki berawakan tinggi kekar itu menghela nafas kasar, "Heran, perasaan ini mobil sehat-sehat aja. Tadi pagi juga udah gue cek. Kok jadi macet kayak gini?"
"Ya udah, makan dulu aja yuk" gue mengajak Tristan bergabung dengan Regina dan Khanza yang sedang duduk-duduk di salah satu warung makan jajajan lokal di sudut Pasar Senggol. Meskipun namanya Pasar Senggol, tapi tempat ini sama sekali tidak mirip pasar tradisional, melainkan pusat jajanan kuliner, seperti night market-nya Chinatown.
__ADS_1
"Aduh bebihku, pangeranku, calon imamku, capek ya. Sini-sini gue lap-in, uh sampe keringetan kek gini" seperti biasa, pacar gue yang cantiknya tiada tara selalu memperlakukan gue layaknya anak sultan. Dia narik gue duduk di deketnya, trus dahi gue dielapin, tidak lupa dia kipas-kipasin gue biar nggak kegerahan.
"Itu pacar apa sate?" jomblo ngenes sirik aje. "Pak bos mah apa, pegang mesin aja kagak. Nih gue udah mandi keringet kek gini" lanjut Tristan tidak terima melihat pemandangan di depannya. Ngomong aja lo mupeng.
"Gi, lo nggak kasian apa sama gue? Mau juga dong dikipasin, dipijit-pijit juga boleh" Tuh kan bener, si raja sepik mulai beraksi.
Regina cuma diem, tapi tangannya mengambilkan satu gelas es teh dan diletakkan di depan meja Tristan. Waw, kemajuan yang sangat pesat sekali pemirsah. Sejak kapan si cuek Regina peduli gitu sama si tukang perawanin wanita.
"Pijitan gue enak nggak pak?" Kali ini pacar gue yang cantik nggak mau kalah cari perhatian. Emang bidadari satu ini, selalu aja minta diperhatiin.
"Gue udah minum vitamin. Pokoknya dijamin kuat sampai subuh"
Kan, pasti kata-katanya suka menjurus. Gue ladenin aja kali ya.
__ADS_1
"Kuat ngapain?"
"Kuat anu-anuan lah. Nih tangan gue juga jago lho buat mijit-mijit yang lain"
"Yang lain itu apa?"
"Itu tuh.. yang nongol itu" Khanza menunjuk ke arah selangkangan gue. Otomatis langsung gue tutupi. Masak sih nongol, orang gue lagi nggak ereksi. Intip ah..
"Ikut ngintip dong, Pak" lirih Khanza di dekat telinga gue.
Gue mendengus kasar. Heran, dulu waktu nyiptain ini cewek, Tuhan ambil tanah dari mana sih?
__ADS_1
Berkali-kali gue dapet tatapan maut dari Regina seolah-olah mengancam kalau-kalau gue berani kurang ajar sama anak semata wayang bos-nya ini. Bukan kurang ajar dalam artian gue ngapa-ngapain Khanza. Semua orang juga tau di antara gue dan Khanza, bukan gue yang ngapa-ngapain, tapi malah gue yang diapa-apain. Regina cuma memastikan gue bisa jagain cewek ini dengan benar. Sejak kita kabur dari warung makan tadi, sebenerya Regina selalu mengikuti kita dari belakang. Tapi dia menjaga jarak, membiarkan Khanza dan gue menikmati waktu berdua.