Cakrawala

Cakrawala
Episode 73


__ADS_3

Untung ada Mas Dion, usianya emang lebih tua dari gue, tapi secara pangkat gue yang lebih tinggi. Dia gue panggil Mas karena emang orangnya respectable banget. Sama-sama orang Jawa juga, jadi mengedepankan unggah-ungguh. Mas Dion yang paling jago masak di antara kita. Jadilah gue minta bimbingan dan arahan dia buat urusan dapur. Ditambah lagi resep dan tutorial dari ibunda tersayang yang rela gue recokin lewat video call.


Bela-belain naik gurun turuni lembah untuk mencari bahan-bahan membuat gudeg seperti nangka muda, gula aren, santan kelapa tua, bahkan daun jati, akhirnya gue berhasil menciptakan gudeg spesial dengan cita rasa khas Jogja. Jangan pikir membuat gudeg itu hanya sekejap mata, pengorbanannya luamaaa bro.. Harus marutin kelapa, nyacahin nangka muda, belum lagi masaknya berjam-jam. Tapi nggak pa pa, pengorbanan gue terbayarkan ketika calon mertua dengan lahap menyantap hidangan makan siang kali ini. Mana Mas Dion dari tadi muji-muji di hadapan khalayak ramai kalau menu kali ini gue yang masak. Sttt... tapi jangan bilang-bilang ya kalau gue udah nyogok Mas Dion buat muji-muji gue di depan bokapnya Khanza.


Membangun imej, itu juga hal yang penting. Harus jaga sikap dan perilaku di depan calon mertua. Kalau perlu lebih perhatian dong sama calon mertua. Barang-barangnya dibawain, ruangannya dibersihin, dateng apel paling pagi, menjawab salam paling semangat. Tidak lupa selalu kasih perhatian, misalnya dibikinin camilan tradisional seperti ubi goreng, kacang rebus, atau mendoan hasil buatan tangan sendiri, dan tentu saja minuman andalan gue, wedang ronde. Ya, si bapak suka banget sama tang yuan asal negeri tirai bambu yang udah dilokalin itu. Apalagi kalau sore-sore atau malem-malem. Nggak cuma suka, tapi ketagihan. Katanya wedang ronde buatan gue rasanya mengingatkan dia sama wedang ronde pojokan alun-alun Jogja yang sering didatengin beliau sama mendiang Mamanya Khanza dulu waktu kencan.


Sikap bokapnya Khanza ke gue cukup welcome. Beliau selalu menjaga keprofesionalitasnya dan nggak antipati sama gue. Tapi yang nggak gue pahami, kenapa susah banget dapet lampu ijo buat ngenggandeng putri semata wayangnya. Hingga malam ini, gue nemuin jawabannya.

__ADS_1


Malam sebelum Pak Mayor Jendral bertolak ke Jakarta, gue dipanggil ke kantornya. Setelah mengetuk pintu dan diperkenankan masuk, gue lihat ada Satriya di dalam. Mereka duduk saling berhadapan dengan dua cangkir teh yang sudah mulai habis. Tampaknya, mereka sudah cukup lama berbincang-bincang.


"Ah. Kamu sudah datang. Masuk" isyarat lelaki paruh baya itu.


Gue mendekat hingga jarak antara gue dengan dua orang itu cukup untuk sekedar menguping pembicaraan mereka.


"Terima kasih, Pak"

__ADS_1


Baru saja pria jangkung itu berdiri, Pak Mayor Jenderal kembali menyela, "Ah, sesuai rencana, setelah surat pemindahan tugas kamu keluar, pernikahan kamu dengan Khanza akan segera dilaksanakan. Sudah terlalu lama kalian menunda, kali ini tidak ada alasan lagi untuk menolak"


Gue terdiam. Otak gue membeku, tubuh gue membatu. Berulang-ulang gue mencoba mencerna ucapan Pak Mayor Jenderal, tapi yang terputar hanyalah kata pernikahan.


Pernikahan? Pernikahan siapa yang mereka bicarakan? Khanza? Perempuan yang sudah menjungkir balikkan dunia gue? Dia akan menikah? Dengan atasan sekaligus sahabat gue sendiri? Enggak... nggak mungkin kan dunia mempermainkan gue sekejam ini? Katakan ini hanya mimpi.. Katakan kalau gue salah denger...


Tapi tidak.. sebesar apapun gue menolak, kenyataan tetaplah kenyataan.

__ADS_1



__ADS_2