Cakrawala

Cakrawala
Episode 61


__ADS_3

Gue menarik nafas dalam, mencoba menenangkan detak jantung yang bergemuruh. Melawan sekuatnya dorongan yang menguar untuk mencumbu tubuh polos gadis di bawah kungkungan gue ini. Bibir gue turun mengecup lembut keningnya. Tangan gue menarik selimut dan menutup tubuh polos Khanza sebelum akhirnya gue menjatuhkan diri ke sampingnya.


"Eh.. kok?" Wanita itu kebingungan mendapati gue yang tiba-tiba menghentikan aktivitas kita.


Gue hanya diam. Masih bertarung dengan libido gue. Namun tangan gue meraih Khanza dan mengelus-elus rambutnya.


"Tadi aku cuman kaget. Itu-nya aku belum pernah kesentuh barang kayak gitu soalnya. Jadi refleks aja. Bukan minta berhenti" wanita itu menjelaskan panjang lebar.


Eh sebentar?


"Belum pernah kesentuh?" gue memincingkan mata.


Perempuan sefrontal Khanza gue kira sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Tapi tadi dia bilang belum pernah?


"Jadi kamu belum pernah gitu-gitu?" tanya gue dengan bahasa yang sebisa mungkin tidak akan melukai harga dirinya.

__ADS_1


Ekspresi di wajah Khanza melunak "Cari tau sendiri. Nih tinggal masukin"


Berarti bener dong. Perempuan gue masih gadis. Belum pernah direyen. Dan sekarang wanita sempurna ini adalah hak milik gue seutuhnya.


"Bukannya dilanjut malah senyam-senyum" tegurnya kesal.


Eh, keliatan banget ya gue bahagianya? Ya iyalah, laki-laki mana yang nggak bahagia. Sebenernya gue nggak terlalu mempermasalahkan keperawanan. Toh gue udah terlanjur dipelet sama Khanza, mau dia janda anak satu pun gue mau. Tapi nggak mau munafik juga, sedikit rasa kecewa pasti ada jika tubuh perempuan kita pernah dicicip lelaki lain. Ya, lelaki memang brengsek. Dirinya udah bekasan tapi kadang nggak mau barang bekas. Gue bukan pengecualian. Buktinya gue pengen loncat-loncat bahagia mendapati fakta punya Khanza masih utuh. Meskipun gue yakin gadis segila dia pernah main-main juga, tapi setidaknya gue masih punya harapan menjadi yang pertama menerobos benteng penghalangnya.


"Ayang lanjutin yuk.. Kepalang basah ini" Khanza sudah bersiap menyerang tubuh gue lagi, namun gue berusaha sebisa mungkin mengunci pergerakannya.


"Tapi.."


"Sstt.." Gue membawa Khanza ke dalam pelukan, rambutnya gue elus-elus, dan pucuk kepalanya gue cium kecil-kecil. Hufh, hampir saja gue merusak berlian berharga ini. Khanza, dia berhak mendapatkan perlakuan yang terbaik. Tidak hanya kenikmatan sekejap dalam balutan nafsu seperti ini.


"Gue mau-"

__ADS_1


"Nanti Khanza.. nanti."


"Nggak ma-"


"Aku sayang kamu" protes wanita itu terhenti mendengar pengakuan sayang dari mulut gue. Ini adalah pertama kali gue bilang sayang sama dia. Bahkan ketika gue minta dia jadi pacar gue, sama sekali tidak ada kata cinta, apalagi sayang. Mungkin itu yang membuat tubuhnya membatu seperti saat ini.


"Kamu mungkin tidak paham, tapi buat aku, kamu lebih berharga dari apapun yang aku miliki. Jadi ijinkan aku melindungi kamu dengan caraku sendiri."


Bisa gue rasakan deru nafasnya perlahan mereda. Pergerakannya menjadi lebih tenang. Dia menatap gue dalam-dalam. Pandangan mata kita saling bertemu, menyelamai kedalaman pikiran masing-masing. Seperti terhipnotis, serangkaian kata itu keluar begitu saja dari mulut gue, "Khanza.. Aku cinta kamu"



 


 

__ADS_1


__ADS_2