Cakrawala

Cakrawala
Episode 25


__ADS_3

Gue mengangguk, "Iya. Katanya buat dikasihin ke pacarnya gitu. Berarti ini buat lo." Ucap gue sambil memindahan bungkusan kotak itu ke pangkuan Kendra.


"Ada banyak macemnya loh" gue menjelaskan sambil membuka satu-satu, "Ini flavored, katanya ada rasa-rasanya, yang ini dotted, lucu deh ada tonjolan-tonjolannya gitu, geli nggak ya kalau dipake? Yang transparan banget ini namanya super thin, pasti sensitif banget, berasa nggak make mah kalo ini. Dan yang terakhir glow in the dark, lumayan nih bisa dijadiin penerangan kalau mati lampu."


Kendra mengambil nafas panjang sebelum mengeluarkan sebuah perintah "Kita balikin!"


Gue buru-buru nahan tangan pak tentara yang udah bersiap membuka pintu "Eh..jangan gitu. Nggak baik nolak pemberian orang. Pamali"


Kendra berdecak kesal.


"Ini segini banyaknya buat apa? Siapa juga yang mau make?" bapak tentara mencak-mencak.


"Loh, kata Mas Tristan bapak belum berpengalaman. Nanti kalau bapak crot duluan kan bisa buat ganti-ganti"


"Siapa bilang gue bakalan crot duluan. Gue tahan lama"


"Masak sih? Coba buktiin dong"


Si pak tentara mengacak rambutnya frustasi. Gue malah ketawa-ketiwi. Sampai kapan ya si seksi bisa nahan diri?

__ADS_1


Kendra melajukan mobil tanpa menggubris keberisikan gue. Sesampainya di barak, gue terheran-heran melihat barak tiba-tiba jadi rame banget. Banyak orang-orang berjas putih dengan tanda cross merah di dadanya. Gue hafal banget kalau itu adalah identitas tim medis. Tapi kenapa tiba-tiba barak dikepung oleh rombongan medis?


"Sa.." suara Satriya memanggil nama gue.


"Ini ada apaan sih?" gue balik nanya.


"Lo bilang sama bokap lo kalau lo sakit?"


"Ya.. gitu deh. Gue bo'ong sedikit. Hehe.." gue menggaruk-garuk kepala gue yang gatal.


"Satu rombongan tim medis komplit dikirim bokap lo, katanya buat meriksa keadaan lo"


Buset. Niat banget bokap gue. Cuma ngerengek pura-pura flu aja bikin geger satu pleton. Haduh Papa, luv you banyak-banyak deh. Maafin Khanza udah bo'ong sama Papa.


Eh, tunggu dulu. Tiba-tiba aja gue dapet ide yang sangat brilian.


Dengan meminjam alat transportasi militer, gue angkut tuh pasukan berjas putih menuju ke desa.


"Ini kita mau dibawa kemana ya?" tanya salah satu koordinator tim medis.

__ADS_1


"Menaburkan benih di surga" jawaban gue nggak jelas banget emang.


"Hah? Maksudnya?"


Sampai di tempat yang dituju, gue membalikkan badan menghadap seluruh rombongan.


"Oke bapak-bapak, ibu-ibu, kakak-kakak, dan adek-adek tim kesehatan yang terhormat, kita telah sampai di perkampungan. Silahkan kalian berkeliling kampung memberikan pemeriksaan serta pengobatan gratis tis tis pada setiap warga. Untuk biaya tidak usah dipikirkan karena akan disubsidi langsung. Kalau sampai saya melihat ada yang bermalas-malasan, saya tidak tahu apa yang akan saya laporkan ke atasan kalian. Jadi, selamat bekerja dan... jangan lupa tersenyum. Fighting!" Sedikit maksa memang. Tapi kalau tidak diancam, mereka bakalan ngeluh. Toh tujuan awal mereka ke sini kan bukan buat bakti sosial..


Selesai memberi komando, ini saatnya gue menuju rumah Malahar. Tunggu sebentar ya Wa'i, Khanza akan segera datang membawakan obat yang Wa'i butuhkan. Setelah ini Wa'i bakalan bisa beraktivitas seperti biasa lagi, merawat cucu-cucu Wa'i dan melihat mereka tumbuh besar.


Dengan langkah penuh semangat gue melangkahkan kaki ke gubuk tua itu. Tapi semakin mendekat, gue lihat kerumunan orang semakin banyak. Mereka berkumpul di depan rumah Malahar. Tiba-tiba saja perasaan gue nggak enak. Ada apa ini? Kenapa banyak sekali warga mengerumuni rumah Wa'i?


Gue menelusup kerumunan itu hingga sampai di depan pintu rumah Malahar. Dari daun pintu gue bisa melihat dengan jelas Malahar yang menangis sesengukan dengan Karele di dekapannya. Disampingnya terbaring tubuh Wa'i yang sudah memucat dengan bibir putih dan  mata tertutup. Buru-buru gue berlari mendekat. Tidak, ini tidak mungkin.


Wa'i...


Khanza sudah datang membawakan obat untuk Wa'i..


Tapi kenapa.. kenapa Wa'i tidak mau membuka mata..

__ADS_1


__ADS_2