Cakrawala

Cakrawala
Episode 77


__ADS_3

šŸ™ WARNING.. KALAU TIDAK MERASA NYAMAN BOLEH SKIPĀ šŸ™


Bibirnya langsung mendarat di leher gue, menginvasi titik-titik paling sensitif yang membuat desahan gue keluar. "Akh.. Mas..Ā emph" tangan gue mencari-cari ujung kasos pria itu dan menariknya ke atas. Dia berhenti sejenak, membantu gue melepas kaos itu dari tubuhnya lalu membuang entah kemana. Disusul baju dan lace bra warna nude yang dengan sekejap menghilang dari tubuh gue. Tanpa menunggu lama, tangan Kendra meremas-remas gundukan kembar yang menyembul tanpa halangan. Bibirnya menyentuh ujung merah muda itu, memainkannya dengan lidah, sebelum **** sepenuhnya dan menyesap-nyesap tanpa jeda.


"Aaahh.. Mas..Ā ngh ngh.." suara desahan gue bersahut-sahutan dengan suara decakan lidah dan geraman dari mulut Kendra. Badan gue menggeliat panas. Remasannya semakin menjadi-jadi. Dengan usaha yang cukup keras gue menarik kepalanya dari atas payudara gue, kemudian membungkam bibirnya dengan bibir gue. Baru sebentar gue sudah kehabisan nafas. Kita saling menyesap, bertukar saliva, dan menghisap satu sama lain.Ā Ugh, permainan lidahnya lebih gesit daripada yang terakhir kali. Kewalahan, gue menarik kepalanya menjauh. Sambil terengah-engah gue berkata, "Mas.. udah becek nih"


Mengerti apa yang gue inginkan, ciuman Kendra bergerak turun. Dari bibir, leher, payudara, perut, hingga akhirnya paha bagian dalam gue. Dia menatap gue sejenak, seolah meminta ijin untuk bergerak lebih jauh. Gue mengangguk. Tangannya perlahan-lahan membuka restleting celana gue, menurunkan bersamaan dengan celana dalam gue hingga akhirnya gue terpampang polos di hadapannya.


Tangan kekar pak tentara membuka lebar paha gue. Untuk beberapa detik, dia mengangumi kelembaban yang tersembunyi di antara selangkangan gue itu. Wajahnya mendekat, bibirnya dia sentuhkan di lipatan labia bawah gue, dan detik itu juga gue serasa ingin menjerit. "Emph.." gue menggigit bibir berusaha mengendalikan desahan yang ingin keluar, tangan gue meremas kencang sprei warna cokelat milik Kendra, dan jari-jari kaki gue ikut menekuk bersamaan dengan sensasi panas dan basah benda lunak milik Kendra yang menari-nari lincah menelusup kedalaman kewanitaan gue.

__ADS_1


"Ken..draah..Ā eung.. ahh.." makin lama makin kencang desahan gue yang keluar. Gerakan Kendra juga semakin menggila. Menghisap, menggigit, dan menyodok dengan lidahnya. Kepala gue bergerak ke kanan dan ke kiri, pinggang gue sedikit terangkat, memberikan akses yang lebih luas untuk dijamah. Paha gue mengapit kepala Kendra, mendorongnya masuk lebih dalam, lebih liar, dan lebih buas. Ini hanya pemainan lidah, tapi gue sudah mengejang tak mampu menahan rasa nikmat yang datang bertubi-tubi. Hanya lengkingan desahan dan suara hisapan yang memenuhi ruangan. Keringat gue mengalir turun. Rasanya, ada yang mendesak ingin dituntaskan dari dalam perut gue. Gue makin menjadi-jadi, menggerakkan pinggul gue berlawan dengan gerakan bibir Kendra di bawah sana. Dan akhirnya...Ā aahhhh... gue keluar.


Pandangan gue masih memutih. Nafas gue masih terputus-putus. Bisa gue rasakan selangkangan gue basah dibanjiri cairan kepusan milik gue sendiri. Tapi lidah Kendra dengan cekatan membersihkan sisa-sisa kenikmatan yang mengalir turun dari kewanitaan gue. Remasan gue di sprei Kendra sedikit mengedor saat nafas gue berangsur normal. Pria yang baru saja memberikan pelepasan hebat itu merangkak naik, menyejajarkan wajahnya dengan wajah gue. Dia tersenyum tulus kemudian mencium kening gue. Sangat dalam dan sangat lama. Begitu menarik diri, dia berucap, "Waktu di hotel itu, cuma Mas yang dapet pelepasan. Sekarang impas, gimana? Enak enggak?"


Gue menahan tawa. Laki-laki dan insekuritasnya setelah berhubungan intim. Ya, meskipun kategori kita masih intim tipis-tipis, tapi tetap saja lelaki butuh pengakuan atas kegagahannya di ranjang. Pacar gue nggak ada bedanya.


"Mas jago banget sih. Aku sampe kelonjotan gitu. Keluarnya juga banyak banget. Nih sampe muncrat ke pipi kamu" puji gue ke Mas Pacar sambil mengusap sisa cairan gue yang masih menempel di pipinya.


"Udah ya. Ntar aku nggak bisa nahan diri"

__ADS_1


"Tapi kan Mas belum dapet pelepasan. Biar aku urut-urut dulu, ya?"


"Nanti pake sabun juga bisa"


"Punya pacar kok masih nyariin sabun sih. Lagian nggak bagus nahan-nahan kayak gitu. Kalau udah nggembung ya harus dikeluarin. Mau apa kalau ntar malah disfungsi ereksi?"


"Aduh bu dokterku cerewet banget sih. Ya ya, terserah bu dokter aja"


"Nah gitu dong. Sini lepasin dulu celananya"

__ADS_1



__ADS_2