Cakrawala

Cakrawala
Episode 94


__ADS_3

-Khanza-


Salah besar. Mana bisa gue kencan berdua. Gue kan punya buntut (baca: Mbak Egi), dan buntutnya gue juga punya buntut (baca: Mas Tristan). Jadilah kita kencan rame-rame.


Seperti janji Kendra, lelaki itu membawa gue menikmati deru ombak dan pasir putih yang membentang sejauh mata memandang. Memang, rasanya belum komplit jika bersinggah di sisi timur negeri ini kalau belum menikmati pantainya. Konon katanya, keindahan alam bawah laut di gugusan kepulauan sebelah timur ini adalah salah satu yang terbaik di dunia, menduduki peringkat kedua setelah laut Karibia. Bali mah nggak ada apa-apanya. Soalnya pantai-pantai di sini masih banyak yang alami, belum terlalu banyak terjamah tangan-tangan manusia.


"Ayang, ini namanya pantai apa? Seger banget" tanya gue sambil menikmati hembusan angin laut yang asin dan bermanja-manja ria di lengan kokohnya si seksi.


"Nggak ada namanya"


"Kok nggak ada"


"Pantai ini bukan tempat wisata"


Pantes. Sepi banget. "Terus?" gue penasaran.


"Buat latihan angkatan laut" jawabnya singkat sebelum menunjuk ke suatu tempat, "Nah, itu dia"


Gue mengikuti kemana jari Kendra menunjuk. Sebuah kapal besi tertutup muncul dari permukaan air. Deru mesinnya terdengar jelas di antara sapuan ombak. Kapal itu lambat laun menepi sebelum akhirnya pintunya terbuka. Seorang lelaki berseragam biru berjalan keluar dari sana. Badannya tegap, tingginya kira-kira tiga centimeter lebih tinggi dari pacar gue. Melihat seragamnya gue tahu, orang ini adalah anggota pasukan angkatan laut.


Pria berseragam biru itu memberi hormat pada Kendra, yang segera dibalas dengan hormat juga. Keduanya nampak bertegur sapa sejenak, kemudian si seragam biru mengisyaratkan kami agar segera masuk ke dalam benda baja yang tadi dikendarainya.


"Kita mau kemana?" tanya gue saat Kendra menggandeng tangan gue memasuki kapal. Diikuti Mbak Egi dan Mas Tristan yang ngekor di belakang. Enak banget tuh berdua, numpang ngedate.


"Liat-liat bawah laut"


"Oh.. jadi ini yang namanya kapal selam?"

__ADS_1


Kendra mengangguk. "Kamu belum pernah liat kapal selam?" Pacar gue membantu gue menaiki geladak kapal.


"Belum" jawab gue singkat menerima uluran tangannya. "Ayang kenal sama nahkodanya tadi?"


Deru mesin berbunyi. Benda besi yang kita naiki pun mulai bergerak meninggalkan bibir pantai. Gue dan Kendra masih berada di atas kapal. Menikmati desir angin dan pemandangan lepas pantai dari atas sini.


"Itu temen aku. Dia pasukan angkatan laut. Dulu pernah aku bantuin, jadi kita malah deket. Di militer itu gitu, kalau kita kasar sama orang, orang pun akan kasar sama kita. Tapi kalau kita bantu dengan suka rela, mereka bakal bales bantuin kita balik dengan suka rela. Semacam give and take gitu" jelas Mas Pacar panjang lebar sambil meluk-meluk gue dari belakang. Aduh, udah kayak Jack-Rose aja ini. Tinggal gue ngerentangin tangan, kepala hadap belakang, terus isep-isepan bibir.


"Makanya Papa juga gitu. Makin aku nyolot, Papa juga ikutan nyolot. Makin aku diem, Papa juga diem." gue menarik kesimpulan.


"Nah, itu tahu"


"Maaf ya yang aku suka emosian ngadepin Papa."


"Nggak apa-apa. Mulai sekarang lebih sabar lagi ya"


"Iya, kalau nggak lupa"


"Aduduh yang, geli.." Sayangnya gue main cium-cium pipi. Pake acara digigit-gigit segala. Situ kira ini bakpao?


Lagi asyik-asyiknya mendusel ria, suara deru mesin menggema, menandakan kapal sebentar lagi akan menyelam.


"Udah mau nyebur ini. Masuk yuk" gue mengikuti arahan calon imam yang menuntun gue masuk ke dalam mesin baja besar ini.


"Aslinya, kapal selam yang dipakai Angkatan Laut lebih gedhe lagi. Yang ini cuma buat latihan atau patroli aja. Coba deh sini" Kendra mengajak gue duduk di sebuah bangku lebar dekat jendela. Dari situ gue bisa melihat keindahan laut yang tersembunyi di bawah air. Ada koral warna warni, ikan-ikan berbagai ukuran nari-nari, dan biota laut lainnya yang hilir mudik kesana kemari.


"Iih lucuk. Itu udangnya berantem" dengan senyum lebar gue menunjuk ke arah dua binatang warna pink yang lagi rebutan makanan.

__ADS_1


"Kayak kamu sama Talitha ya"


"Enak aja. Kita berantemnya lebih classy ya"


Muka gue udah mepet ke jendela, sementara tubuhnya Kendra ngungkung gue dari belakang. Ugh, enak.


Wajahnya tiba-tiba nyembul dari perpotongan leher gue, pipi kita saling nempel. Duh, tumben Mas Pacar romatis gini. Gue kan jadi jedag-jedug.


"Itu liatin sana. Masak udah jauh-jauh diajak nyelem yang diliat muka aku"


"Habis ayang gantengnya muncrat-muncrat sih. Mana tahan"


"Udah itu liat ikan-ikannya aja" Tangan Mas Pacar mengarahkan wajah gue ke jendela. "Bagus nggak?"


"Hm, kayaknya enak ya kalau digoreng. Apalagi dibakar. Itu tuh ada yang gendut. Mantep pasti dagingnya"


"Ya ampun Khanza. Dimana-mana kalau orang diving itu mengangumi keindahan alam, lah kamu malah mikir makanan."


"Ya nggak pa pa dong. Katanya apa yang ada di laut itu halal." Gue membalikkan tubuh menghadap Mas Pacar. Tangan gue kalungkan di lehernya, "Jadi, mumpung di bawah laut, nggak pa pa dong kalau-"


"Nggak ada" Kendra memotong ucapan gue.


"Dikit aja. Nggak ada yang liat juga"


"Khanza"


Bodo. Gue serang lo duluan.

__ADS_1


Cup. Asek, bibir kita udah nemplok. Saatnya lumat-lumatan.



__ADS_2