Cakrawala

Cakrawala
Episode 37


__ADS_3

Sebenernya kaki Kendra nggak parah-parah banget. Cuma sedikit bengkak karena terkilir. Tapi gue perban aja biar nggak tambah parah. Gue juga larang dia buat ikut kegiatan fisik selama beberapa hari. Lumayanlah, biar dia istirahat juga.


"Gue aja yang nganterin makanannya ke Kendra" gue mengambil alih nampan dari tangan Mas Tristan. Bukannya Kendra nggak bisa jalan ke ruang makan, gue aja yang melebih-lebihkan. Kalau gini kan gue jadi ada alasan buat nemplok si seksi dua puluh empat jam. Ngelayanin ini itu, duh... berasa jadi istri berbakti deh gue. Tinggal kasih layanan ranjang aja nih yang belum *eh.


Begitu sampai di dalam kamar Kendra, gue liat dia sedang sibuk menelepon seseorang. Tapi ketika liat gue masuk, buru-buru dia matiin sambungan ponselnya. Hmm.. gue jadi curiga kan.


"Eh mau kemana? Makanannya udah siap ini?" tanya gue setelah meletakan nampan di atas meja.


"Bentar. Mau ke kamar mandi" balasnya sambil membenarnya alat bantu jalan sementaranya.


"Gue bantuin?"


"Nggak usah"


Yah, gagal dong liat sneak peak senjata rahasianya si bapak.


Tidak lama kemudian, ponsel Kendra kembali berdering. Karena penasaran, gue intip layarnya. Sebuah panggilan video dari nomor yang diberi nama 'ndoro putri'. Huh, itu lagi itu lagi. Eh tunggu dulu.. kesempatan emas nih.


Gue celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri mengamati apakah situasi aman terkendali. Setelah memastikan Kendra masih anteng di kamar mandi, gue buka dua kancing baju teratas gue. Gue acak-acak rambut gue biar kayak cewek habis dianu-anuin, dan tidak lupa gue berantakin kasur pak tentara, memastikan kamera ponsel dapat menangkap gambar gue dan kasur berantakan ini sebelum menggeser tombol hijau.

__ADS_1


Cewek itu sedikit kaget mendapati gue yang mengangkat panggilannya.


"Loh, bukannya ini HP-nya mas Kendra?" dia kebingungan.


Semprul.. pake mas-masan segala lagi.


"Iya, Kendra lagi di kamar mandi. Ini siapa?"


"Lha ini siapa?" perempuan itu balik bertanya.


"Gue... ceweknya Kendra" jawab gue penuh percaya diri.


"Cewek?" dia terlihat agak berpikir, "Pacar?" matanya semakin membulat tidak bertanya.


"Beneran ini pacarnya mas Kendra?"


"Iya beneran"


Gue kira ada masalah dengan koneksi internetnya ketika gambar cewek di seberang sana mematung sesaat. Baru gue mau membuka suara, cewek itu tiba-tiba teriak, "Ibuuukk.. ibuuukk... Mas Kendra punya pacaaaar"

__ADS_1


Dan dengan sekejap layar ponsel menampilkan dua wajah, wajah daun muda itu dan satu lagi wajah perempuan paruh baya yang di keningnya ada sedikit perban.


"Mana nduk.. mana pacarnya Mas mu?"


"Ini loh buk. Yang lagi video call sama Nisa ini"


"Mbaknya yang ini?" Perempuan paruh baya itu nunjuk-nunjuk gue, "Mosok ayu tenan koyo ngene gelem karo mas Mu (Masak cantik banget kayak gini mau sama Mas kamu)"


"Tadi mbak e bilang sendiri buk. Iya kan mbak? Mbak e pacarnya mas Kendra?"


Sebentar-sebentar. Otak gue lagi buffering memproses apa yang sedang terjadi.


"Ngapain Sa?" Gue kaget mendengar suara Kendra yang nongol tiba-tiba dari belakang.


"Lah itu mas Mu.." suara ibuk-ibuk tadi mengalihkan perhatian Kendra ke ponselnya yang sekarang ada di tangan gue. "Jadi bener le, mbaknya ini pacar kamu? Kok ndak cerita sama ibuk kalau udah punya pacar?" Alis Kendra terangkat bingung, dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


Gue cuma cengengesan. Saatnya cari muka di depan calon mertua, "Eh ibuk.. Assalamualaikum buk" aduh sok kalem banget sih gue.


Ngomong-ngomong soal kalem... Oh tidak!  Apa kabar rambut gue yang berantakan? Apa kabar kancing baju gue yang kebuka atasnya? Apa kabar kasur Kendra yang berantakan? Jangan bilang calon mertua gue liat semuanya tadi. Mampus, hancur sudah pencitraan gue...

__ADS_1


 


 


__ADS_2