
Perempuan ini.. selalu saja bisa membuat gue tersenyum dan tersenyum lagi.
Gue melangkah ke depan, menyejajarkan wajah gue dengan wajahnya, memandangi paras memukaunya beberapa saat dan berkata, "Kamu cantik pake seragam gini"
Strike. Lagi-lagi pipinya memerah. Heran, kenapa makin hari gue makin jago ngegombal sih.
Priiiit.... suara peluit dari tengah lapangan menandakan semua harus segera berkumpul. Gue mengacak-acak rambut Khanza seperti biasa sebelum berlari ke tengah lapangan.
Suara desingan peluru terdengar di sana sini. Ada yang tiarap menghalau rintangan, ada yang berkubang di lelumpuran, dan ada yang berjalan di atas tongkat keseimbangan. Sementara gue berfokus membidik sasaran bergerak yang dipasang jauh di ujung lapangan.
"Bravo" suara itu otomatis menyita perhatian gue. Begitu menyadari siapa yang ada disamping, senapan dan kacamata hitam segera gue turunkan. "Siap Pak" gue memberi hormat, sebuah kode etik antar anggota TNI untuk saling menyapa.
__ADS_1
"Saya dengar waktu pendidikan kamu lulus ujian menembak dengan nilai paling tinggi."
Jangan bilang dia udah ngecek background gue?
Gue menelan ludah, takut memberikan respon yang tidak sesuai untuk orang yang paling berharga bagi cewek gue ini, "Terimakasih, Pak. Tapi masih banyak yang lebih baik daripada saya"
"Mau duel dengan saya?"
Kita segera memosisikan senjata masing-masing, "Satu.. Dua..Tiga" tepat dihitungan terakhir peluru gue melesat kencang. Gue menembaki sasaran berbentuk bayangan manusia itu satu persatu. Hampir tidak ada yang meleset. Benda itu roboh seiring desingan peluru yang keluar dari senapan gue.
Tapi ada yang aneh, sepertinya belum ada satu peluru pun yang keluar dari senapan Pak Mayor Jendral. Sudah sepertiga dari target gue roboh tapi target pria berpangkat bintang dua itu masih utuh. Yang selanjutnya terjadi membuat gue diam tak berkutik untuk beberapa detik. Dengan runtutan peluru yang keluar, dua bahkan tiga target dapat dirobohkan sekaligus oleh Pa Mayor Jendral. Keringat gue semakin mengucur deras. Jelas lelaki ini jauh lebih terampil dalam menyiasati pergerakan. Lambat laun gue semakin tertinggal jauh. Dan itu membuat telapak tangan gue basah, tenggorokan gue kering, dan fokus gue buyar. Banyak dari tembakan gue yang meleset. Hingga akhirnya, kekalahan pun harus gue terima.
__ADS_1
Meskipun gue sudah menebak kemana arah pembicaraan ini, namun gue tetap mendengar dengan atentif. "Khanza cepat merasa bosan dengan sesuatu. Dulu waktu kecil, dia selalu merengek dibelikan mainan. Namun baru dipakai satu dua minggu, Khanza sudah bosan dan minta yang baru. Bahkan sampai sekarang, koleksi tas, baju, sepatu banyak yang tidak tersentuh lagi."
Orang tua itu berhenti sesaat, memilah kata-kata yang tepat untuk diutarakan, "Antara kamu dan anak saya.." Jantung gue rasanya berhenti berdetak, "Saya anggap itu hanya percikan jiwa muda yang sesaat" lanjutnya. "Seperti yang saya bilang tadi, Khanza mudah sekali merasa bosan. Jadi jangan terlalu diambil hati."
Lelaki itu menghela nafas, "Saya sudah semakin tua. Di usia sekarang ini saya hanya ingin memastikan anak saya satu-satunya mendapatkan yang terbaik. Tidak mungkin selamanya saya bisa bersama anak itu. Oleh karenanya, saya sudah menyiapkan masa depan sendiri untuk Khanza. Mungkin anak-anak masih muda seperti kalian tidak paham bagaimana jalan berpikir orang tua seperti saya. Tapi percayalah, setiap keputusan yang diambil orang tua, suka atau tidak suka, itu hanya untuk kebaikan sang anak."
Sekali lagi pria dengan pangkat lebih tinggi daripada gue itu menepuk sebelah bahu gue, "Saya bicara bukan sebagai atasan kepada bawahan.. tapi sebagai seorang ayah yang hanya memiliki satu orang putri untuk dijaga."
Dan detik itu juga gue sadar, hubungan gue dan Khanza tidak mendapat restu.
__ADS_1