Cakrawala

Cakrawala
Episode 93


__ADS_3

"Maafin Khanza ya Pa, Khanza udah marah-marah dan ngomong jelek sama Papa."


"I-ini Khanza yang ngomong?"


Tuh kan, pasti Papa nggak percaya gue minta maaf duluan, "Iyalah Pa. Siapa lagi"


"Khanza anak Papa?"


"Bukan. Anak pungut Papa yang ditumbalin buat nikah sama kucing garong." Ups, gue dipelototi Mamas. Langsung insyaf deh. "Eh, maaf Pa. Mulut Khanza emang suka lemes."


"Nah gini baru anak Papa. Tumben kamu minta maaf kayak gini"


"Hasil didikan calon imamnya Khanza ini Pa. Katanya nggak boleh durhaka sama Papa"


"Nah itu tahu kalau nggak boleh durhaka."


"Tapi durhaka dan menjaga hak asasi manusia itu dua hal yang berbeda Papa. Jangan disamakan. Meskipun Papa itu orang tuanya Khanza tapi Khanza masih punya hak asasi untuk menikah sama siapapun yang Khanza inginkan. Sebagai aparat penegak hukum, masak Papa nggak bisa menjunjung tinggi hak asasi sih? Malu dong sama pangkat"


"Aduh omongan kamu bikin Papa migrain."


"Pada intinya, Khanza tetep nggak mau pulang. Titik"


"Udah, nanti kita bicarain lagi kalau kamu sudah pulang."


"Papa..!"


"Pulang dulu. Nanti kita bicara baik-baik. Udah, itu aja pesen Papa."


Sambungan telepon putus dengan bibir gue yang masih manyun.


"Udah nggak pa pa" si Pacar mencoba menghibur gue.

__ADS_1


"Kawin lari aja yok"


"Hush. Nggak usah macem-macem"


"Habis Papa alot kayak lemak kambing"


Kedra ketawa.


"Kok malah ketawa?" gue nggak terima dong.


"Persis ya sama kamu. Sama-sama alot"


"Iih.. lagi nggak pengen becanda"


"Manyun mulu sayangnya aku. Ntar ilang loh cantiknya"


"Nggak akan. Kecantikan gue lapis tujuh"


"Banyak banget. Sabarnya lapis tujuh juga enggak?"


Eh, gue diketawain lagi. Mana rambut gue diacak-acak gemes gitu. Berantakan kan..


"Coba sini dengerin dulu" Pasti mau ceramah lagi nih, pake acara dikekep-kekep segala, "Yang namanya menikah itu ibadah. Nggak cuma sekedar ganti status. Nanti kedepannya akan banyak ujian. Jadi harus diawali dengan niat yang baik dan restu orang tua. Gimanan Tuhan akan meridhoi kalau orang tua aja nggak merestui. Apalagi yang berhak menikahkan kamu itu Papa kamu."


Bener juga sih. Gue bakalan sah kawin kalau udah diijab-qabulin sama Papa. Eh, Papa nggak akan nekat ngijab-in gue tanpa persetujuan kan? Gimana kalau pulang nanti gue disekap di kamar. Terus Papa panggil penghulu dan pengantin cowoknya. Habis itu mereka bilang sah. Tidaaak....!


"Yang. Buat anak yuk" ide gila gue tiba-tiba muncul. Kalau gue hamil kan Papa nggak bisa maksa-maksa gue lagi.


"Hush. Ngawur"


"Serius ini. Daripada cebong-cebong unyu kamu dibuang percuma mending disimpen di rahim aku. Kalau udah ada calon cucu kan Papa nggak bisa maksa-maksa lagi"

__ADS_1


"Ya nggak gitu juga dong Sa. Yang ada nanti aku digorok Papa kamu"


"Enggak akan. Masak Papa ngebiarin cucunya lahir tanpa ayah"


Kendra membuang nafasnya pelan, "Terus kalo kamu hamil semua masalah bakalan selesai? Iya, mungkin kita bakal nikah, tapi nanti ke depannya? Kamu nggak mikir nasib anak kita nanti gimana? Nama baik keluarga kamu, nama baik kamu? Nggak akan bisa masalah diselesaikan dengan masalah lain, sayang."


"Terus gimana dong?"


"Usaha dan doa"


"Dari kemarin udah usaha terus"


"Berarti dikencengin doanya. Hayo, kamu sholat aja males-malesan kan?"


Aduh tertohok.


"Aku juga gitu. Tapi sejak aku memutuskan untuk memperjuangan kamu, aku nggak mau telat-telat lagi sholatnya. Masak mau ngimamin kamu tapi jadi imam untuk diri sendiri aja nggak becus. Makanya aku mikir, mungkin Tuhan belum kasih kamu buat aku karena emang aku belum layak jadi imam kamu. Sedikit demi sedikit, aku lagi memantaskan diri, minimal memantaskan diri di hadapan Tuhan, supaya Tuhan mau ngasih kamu buat aku. Kamu sendiri gimana? Udah seberapa siap jadi makmum aku?"


Siapa yang ngiris bawang di sini sih. Terharu aku tuh..


Gue jadi mikir, perjuangan gue akan hubungan kita ternyata nggak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan Kendra. Kesel dikit aja gue ngamuk-ngamuk. Gimana bisa gue meluluhkan hati Papa kalau nggak punya kesabaran. Kendra bener, untuk menghadapi Papa gue harus berlatih buat ngalah. Ngalah bukan berarti kalah. Batu dilawan batu nggak akan pernah berhasil.


Melihat gue cuma diem, Kendra mengambil alih, "Kamu suntuk banget sih hari ini. Kencan yuk"


Eh, apa? Mas Pacar ngajakin kencan duluan? Ini kuping gue sehat?


"Diem aja. Mau enggak?"


"Mau-mau" gue langsung angguk-angguk sebelum Mas ganteng berubah pikiran.


"Ya udah siap-siap. Aku panasin mobil dulu"

__ADS_1


Aseek.. kencan berdua sama pacarku yang seksi. Pokoknya harus nginep.



__ADS_2