Cakrawala

Cakrawala
Episode 59


__ADS_3

-Kendra-


Gue bener-bener hilang kendali. Otak gue langsung blank seketika saat tangan gue menyentuh lembut kulitnya. Kepala ini rasanya bener-bener nggak bisa berpikit jernih. Minuman bangsat itu berhasil membakar hormon testosteron gue hingga ke level paling tinggi. Percuma menahan diri, setan-setan dari dalam diri gue sudah berlarian keluar, membutakan logika, membuang kewarasan seketika.


Perjalanan dari Bar Lounge ke dalam kamar ini bener-bener menjadi saat-saat paling menyiksa. Tangan halus wanita itu terus saja bergerilya di titik-titik paling tersembunyi di tubuh gue, menyebarkan sensasi gila yang tak sanggup gue lawan. Mulutnya sangat terampil bermain-main dengan bibir gue. Kita saling berebut nafas, mencecap satu sama lain. Tidak peduli dengan kamera CCTV yang mungkin menangkap kegiatan mesum kita selama di dalam lift, Khanza memojokkan tubuh gue, mengalungkan tangannya di leher gue, dan **** bibir gue ganas. Keganasan wanita itu membangkitkan singa yang lama tertidur, membuat gue semakin berani meraba-raba setiap bagian terlarang dari tubuhnya.


Kamar ini bukanlah kamar yang gue dan Tristan tempati, juga bukan kamar Khanza dan Regina. Gue hanya mengikuti kemana perempuan ini membawa pergi. Otak gue terlalu blank untuk melogika kemungkinan wanita itu sengaja memesan satu kamar lagi.


Kebuasan Khanza semakin menjadi-jadi setelah pintu kamar tertutup. Di sela-sela cahaya temaram, pakaian gue secara brutal dirobek hingga kancing-kancingnya terlepas dan menggelinding di lantai. Dia juga membantu gue menanggalkan satu persatu pakaiannya. Mulai dari mini dress seksi yang mengekspos pahanya mulusnya, lingerie transparan yang bahkan nggak gue tau dia dapat dari mana, menyisakan tubuh yang hanya berbalut celana dalam segaris menyembunyikan rahasia di balik selangkangannya.


Hanya dengan sekali tarik lingerie hitam berenda itu terlepas. Menampakkan tubuh bagian atas wanita jelmaan bidadari itu. Leher yang menggoda, payudara yang montok, dan perut yang datar dan rata. Shit, dia nggak pake bra. Awas aja kalau dia masih berani keluyuran dengan **** yang menggantung bebas tanpa tedeng aling-aling. Tapi sekarang gue nggak punya waktu untuk marah. Bukit kembar itu bergelayut manja menghipnotis gue untuk mengecupnya mesra.

__ADS_1


Akhirnya, ketemu lagi sama barang kembar yang selalui menghantui malam-malam kesepian gue.


"Mas.. kok dianggurin. Remesin dong" desahan Khanza membuyarkan logika gue.


Bagai kucing dikasih Royal Canin, tangan gue langsung menangkup gundukan lembut yang padat sempurna itu dan memerahnya gemas. Rengekan manja sekaligus nikmat cewek yang lagi gue garap membuat gerakan gue makin liar. Memijat-mijat dan memelintir pucuk merah muda yang semakin lama semakin menegang.


"Akh.. Mas.. emph"


"Enghh" gue ikut menggeram. Serangan tiba-tiba tangan Khanza yang menelusup masuk ke celana dalam gue membuat gue makin menggila. Mulut dan tangan gue masih beroperasi memainkan payudara perempuan itu sementara di bawah sana kejantanannya gue diurut-urut naik turun tanpa ampun.


"Khanzahh.. emph" otak gue hilang kendali merasakan sensasi mengejutkan saat kulit hangat telapak tangan Khanza bermain-main di ujung kejantanan gue.

__ADS_1


"Mas tambah gedhe. Gantian Khanza yang emutin punya Mas ya"


Pikiran gue terlalu kacau untuk mencerna ucapan Khanza. Yang jelas, setelah mengatakannya tubuh gue didorong ke belakang hingga jatuh ke atas ranjang. Perempuan itu segera menindih gue dengan tubuhnya. Wajahnya begitu dekat dan tatapan matanya begitu sayu dan menggoda. Kedua tangan gue ditarik ke atas kemudian diikat ke kepala ranjang dengan kain yang entah dia dapat dari mana. Dikira gue nggak bisa melepaskan diri? Tapi tunggu dulu, gue pengen tau apa yang mau dia lakukan.


"Mas nikmatin aja, biar Khanza yang ngenakin Mas"


 


 


__ADS_1


__ADS_2