
š **WARNING ++**š
Pacar gue nurut. Kancingnya gue lepas, dan resletingya gue tarik turun. Sekarang kita udah sama-sama telanjang. Ups..Ā say helloĀ dulu ah sama Pisang Raja Ambon kesayangan.. ketemu lagi sama nih sama gue. Makin gedhe aja sih lo, dikasih makan apa sama majikan lo.
Tiba-tiba gue punya ide cemerlang. Tubuh Kendra gue bimbing supaya bangun dalam posisi duduk dengan gue dipangkuannya. Payudara gue bergelantungan tepat di depan wajanya, dan di bawah sana, kewanitaan gue hanya berjarak beberapa centimeter dari kejantanan Pak Tentara. Tangan gue menangkup senjata rahasia pria berpangkat Letnan Kolonel itu, mengurutnya sebentar, dan mengarahkannya ke selangkangan gue.
"Sa, jangan!" Kendra memperingatkan.
"Nggak pa pa. Cuma digesek-gesek aja. Nggak sampai masuk. Katanya tadi yang penting akunya tetep utuh"
"Tapi nanti kalau kelepasan gimana"
"Enggak. Cuma diluaran."
__ADS_1
"Tapi kamu nggak pa pa? Kemarin aja kamu-Ā ahh" kepala Kendra menengadah ke belakang merasakan ujung sarafnya menyentuh permukaan kulit kewanitaan gue. Bibirnya langsung bungkam digantikan desahan nikmat yang tak henti-hentinya keluar. Apalagi waktu gue bergerak maju mundur, mengampit kejantannya dan menggesek-geseknya tanpa ampun. "Khanza...Ā ahh... mmph.. eung ahh....sa...yanghh..Ā ahh". Gesekan kulit antar kulit kita semakin lama semakin licin. Lendir basah dan lengket keluar dari lubang kewanitaan gue akibat rangsangan kulit kejantanan Kendra. Semakin lama semakin becek dan gerakan kita pun semakin cepat. Tidak, kejantanannya tidak sampai masuk menerobos bibir labia gue. Hanya menikmati gesakan kulit dengan kulit, tanpa terhalang selembar kain pun. Tapi itu cukup untuk membakar libido kita masing-masing. Gue membawa wajahnya mendekat ke payudara gue, membiarkan mulut dan lidahnya bermain-main di dua bukit kembar itu. Sementara tangan gue memeluk kepalanya, meremas-remas rambutnya yang sudah mulai berantakan.
"Akh..Mas..Ā emph... isepin yang kuaath..ah.. enak Mas..Ā eungh.. enak banget...akh" rancau gue yang sudah kembali banjir di bawah sana. Bisa gue rasakan nafas Kendra di dada gue makin panas dan memendek. Kejantannya juga makin bertambah besar. Gue menarik diri melepaskan pangutan Kendra di bukit kembar gue. Tangan gue kemudian bergerak turun dan kembali menangkup benda panjang yang bertambah tegang di bawah sana. Tidak mau kalah, Kendra juga menangkupkan tangannya di kewanitaan gue, menggesek-gesek jarinya di sana, terkadang menjepit, terkadang menekan tonjolan daging merah muda dan mengalirkan ribuan voltase yang membuat tubuh gue menegang hebat.
Satu tangan gue berpegang pada bahunya, mencengkeram kuat saat gelombang kenikmatan mulai menari-nari lagi di bagian bawah perut gue. Sementara tangan gue yang satu masih berjuang mengurut benda tumpul berukuran jumbo itu naik turun. Gue mendesah, Kendra mengeram, dan tidak lama kemudian, cairan kenikmatan gue mendesak keluar, membanjiri paha dalam gue hingga menetes sampai ke sprei, meninggalkan pola basah di atasnya. Disusul dengan tumpahan gairah Kendra di tangan gue. Dia mengerang nikmat, kepalanya terlempar ke belakang, mulutnya sedikit menganga dengan kedua mata terpejam. Dadanya bergerak naik turun menikmati detik-detik kenikmatannya di tuntaskan.
Setelah nafasnya kembali normal, Kendra megambil tisu di atas nakas. Dibersihkannya cairan lengket di paha gue dan daerah kewanitaan gue. Setelah itu, dia mengambil beberapa lembar lagi untuk membersihkan sisa-sisa pelepasannya di tangan gue, baru kemudian di tubuhnya sendiri. Kendra mengambil kaos putih miliknya yang terjatuh di samping ranjang. Dipakaikannya kaos itu ke tubuh gue. Ukurannya cukup besar untuk menutup hingga sampai ke paha atas. Sementara baju yang gue kenakan tadi sudah terlempar jauh ke ranjang kosong di sebelah, bersamaan dengan bra dan celana gue.
"Makasih sayang.." ucapnya dalam seraya mengusap-usap rambut gue.
Tubuh gue bergerak maju, tangan gue merengkuh tubuh polosnya dan menelusupkan wajah gue di dada bidangnya, "Khanza sayang Mas Kendra" ucap gue dengan sedikit nada manja.
Dapat gue rasakan bibir lelaki itu terangkat naik, "Suka banget aku dipanggil Mas. Tapi kamu juga manggil mantan kamu Mas"
__ADS_1
Aduh, dibahas lagi.
"Terus aku harus manggil apa dong?"
"Em.. apa ya.. Ah, Tan aja. Singkatan dari setan. Cocok tuh"
Gue menyeringai kecil, "Terserah Mas Pacar aja. Aku kan penurut. Tapi aku di puk-puk dong boboknya. Mas kan udah bikin aku keluar dua kali, lemes banget ini."
"Anak kecil banget sih kamu.. Sini.."
Dan malam itu, dengan tepukan pelan di bahu, Kendra membawa gue hingga terlelap jauh ke negeri mimpi.
__ADS_1