Cakrawala

Cakrawala
Episode 50


__ADS_3

-Khanza-


Daftar teratas tempat kencan favorit gue:


Bioskop


Bioskop Row A paling atas


Bioskop Row A paling atas dengan film paling nggak populer karena penontonnya bakal sedikit.


Tau kan kenapa?


Minim pencahayaan. Bebas berekspresi. Dan tentu saja masih dalam skala aman. Kalau misal temen kencan gue cowok sangean kan tinggal teriak aja. Langsung deh semua mata tertuju pada kita, dan dia nggak bakalan berani ngapa-ngapain. Pinter kan gue. Oke, makasih.


Tapi sebelum mendapat peluang gue ajak ke bioskop, tentu saja ada quality test yang harus mereka lalui. Cuma cowok-cowok yang lolos quality control aja yang bisa ngajak gue ke tempat paling favorit di daftar teratas tempat kencan gue, terutama untuk nomor tiga. Kalau gue inget-inget paling pol mantan gue cuma berhasil sampai ke nomor satu, nggak ada yang pernah sampai ke nomor dua, apalagi tiga.


Tapi semenjak ketemu Kendra, tempat kencan favorit gue berubah, yaitu:


Di kamarnya


Di atas ranjang kamarnya

__ADS_1


Di atas ranjang kamar gue


Oke, gue udah merasakan nomor satu dan nomor dua. Ya meskipun waktu itu kita masih belum pacaran. Tapi seenggaknya gue udah icip-icip dikelonin sama si seksi. Nagih uy.. jadi pengen lagi. He..he..


Berhubung gue lagi di kota, mau dong merasakan sensasi baru. Enak kali ya gelap-gelapan di bioskop sambil mencoba peruntungan kalau-kalau si bapak khilaf. Oleh karenanya, selesai menghabiskan indomie rebus di warteg, gue culik Mas Pacar buat nge-date berdua. Ya masak kencan pertama udah dibuntutin aja sih. Untung ada Mas Tristan, jadi mbak Egi bisa diamankan.


"Ini mau kemana sih, Sa?" Mas Pacar nggak berenti-berentinya nanya. Lengannya gue gandeng seerat mungkin biar semua orang tau kalau dia pacar gue. PACAR GUE.


"Ya kencan dong. Mumpung lagi di kota. Kalau ntar udah balik ke barak mau kencan dimana coba? Rawa-rawa? Ntar yang ada kesambet setan, terus enak, terus gue seneng, terus nagih. Hehe.."


"Kesambet setan kok seneng"


"Berarti nggak ada bedanya dong kamu sama setan. Sama-sama ngajak khilaf"


"Makanya imam-in dong pak. Biar lurus-lurus aja jalan gue"


Mas Pacar berdehem canggung, kemudian bergumam, "Belum sehari jadi pacar, udah ditodong jadi imam."


"He..he.. cuma mengingatkan aja pak. Kalau si bapak harus siap-siap punya makmum kayak gue"


Bukannya nanggepin, si ganteng malah mengalihkan perhatian "Gue mau dibawa kemana sih sebenernya? Emang lo tau jalan daerah sini?"

__ADS_1


"Dibawa ke pelaminan boleh nggak?" jawab gue cengar-cengir.


"Itu harusnya kata-kata gue. Bukan elo"


"Ya udah gantian si bapak yang nanya dong"


"Nanti"


"Nanti? Kapan?"


"Ya nanti kalau nggak lupa"


"Iiih" gue cubit perutnya. Ups, keras banget sih tuh perut. Jadi pengen elus-elus..


"Awh.. sakit tau" protes Kendra sambil mengusap daerah yang menjadi korban cubitan maut gue. "Sa, lo sebenernya pengen ngajak kemana sih? Dari tadi muter-muter terus"


"Emm.. nonton yuk. Di sini bioskopnya mana?"


"Bioskop? Di sini nggak ada bioskop"


__ADS_1


__ADS_2