Cakrawala

Cakrawala
Episode 36


__ADS_3

-Khanza-


Nggak. Gue nggak kebelet pup. Gue cuma mau menyelamatkan diri kalau-kalau mbak Egi berubah jadi Nyi Blorong lagi. Syereem... Nggak tanggung-tanggung tuh bodyguard satu kalau udah ngasih pelajaran ke gue.


Fuih.. gue bernafas lega mengetahui mbak Egi nggak ngejar. Dengan langkah santai gue berjalan menuju klinik. Nampaknya semua orang sedang sibuk menata kiriman barang dari pusat. Tumben bulan ini nggak ngaret lagi. Mana dikasih bonus alat-alat medis baru. Nyogok nih ceritanya?


Gue tersenyum mendapati bocah yang beberapa waktu lalu gue tolong. Sekarang dia sudah berbaur dengan tim medis. Ya, Malahar. Sesuai janji gue, setiap pulang sekolah Malahar mampir ke klinik dan menyumbangkan tenaganya untuk membantu tim medis di sini. Meskipun Malahar masih kecil, tapi harus gue akuin tingkat kecerdasannya di atas rata-rata anak seusianya. Malahar mampu menangkap ilmu dengan sangat cepat. Hafalannya juga luar biasa. Selain itu dia punya semangat belajar yang tinggi. Baru beberapa kali gue ajarain tentang ilmu obat-obatan dasar dan pertolongan pertama pada kecelakaan, dia sudah bisa langsung menguasai. Ya meskipun keterampilannya masih perlu diasah, tapi secara teori dia sudah cukup baik.


Eits... Sebentar.


Mata gue tiba-tiba tertuju pada sesosok tubuh kekar yang amat sangat gue kenali sedang duduk bersandar di salah satu ranjang pasien. Di sampingnya berdiri seorang cewek berkulit putih yang secara telaten mengompreskan sebongkah es batu ke pergelangan kaki Kendra. Gue segera gerak cepat. Pemandangan seperti ini nggak bisa dibiarin. Apalagi setelah gue tau Kendra pernah punya sejarah sama Talitha.


"Ganteeeeeng..." lengkingan suara gue menghentikan aktivitas ibu perawat yang sedang menangani pasiennya. "Aduh... lo kenapa bisa jadi kayak gini?" dengan sekali senggol gue gusur badan Talitha kesamping biar nggak deket-deket si seksi lagi.


"Nggak pa pa. Tadi cuma terkilir waktu operasi tapal batas." Sudah biasa emang bagi seorang prajurit dapet luka-luka kecil kayak gini. Tapi tetep aja kan gue nggak tega. Kakinya terkilir, lutut sama sikunya berdarah. Pasti tadi jatuhnya di tempat-tempat berbatu. Pokoknya habis ini gue mau protes sama pak Komandan biar nanti kalau Kendra dikasih tugas operasi tapal batas nggak dikirim ke hutan-hutan pelosok lagi.


"Aduh..aduh... alkohol mana alkohol. Ganteng gue harus cepet disteril sebelum ada kuman-kuman nakal."


"Udah gue bersihin tadi lukanya." Talitha menimpali.


Bukan cuma kuman di luka Kendra yang harus dibersihkan. Tapi kuman kayak lo juga..! Pengen banget gue teriak kayak gitu ke mukanya.


"Yang sakit mana yang sakit? Kaki? Tangan? Atau..." suara gue berubah pelan dan menggoda, "..yang diselangkangan?".


Kendra jadi salah tingkah, mana mukanya berubah nggak enak gitu, mungkin karena suara gue kedengeran Talitha. Reaksi cewek itu mah biasa aja, udah apal dia gimana tingkah polah gue.


"Udah gue bilang kan ngomongnya di filter" bisik Kendra waktu gue agak mendekat memeriksa bagian kakinya yang sedikit bengkak.

__ADS_1


Bodo amat. Mulut-mulut gue.


Talitha udah bersiap dengan cotton bud di tangan kanannya dan sebuah salep di tangan kirinya "Gue olesin obat dulu lukanya" tuturnya.


"Eits.. biar gue aja" cegah gue buru-buru.


"Lah lo kan lagi mau masangin perban di kaki. Kelamaan ntar"


"Kalau gue bilang gue aja ya gue aja. Di sini gue dokternya. Udah sana lo jauh-jauh. Tuh ditungguin pak Komandan tuh. Sana..sana.. hush" gue usir-usir aja tuh cewek biar cepet ngilang. Pokoknya jangan sampai si ganteng deket-deket dia. Gue nggak sudi.


Asek.. Tinggal gue berdua sama si seksi. Waktunya main dokter-dokteran. He..he..


"Bapak buka baju dong pak, mau saya periksa ini" gue cengengesan ngarep dapet rejeki penampakan dada perkasa yang minta dielus-elus itu.


"Ngapain harus buka baju? Kan yang sakit tangan sama kaki?"


"Luka hati?"


Gue menggangguk, "Ditolak pacarnya pak Komandan misalnya"


Kendra mengangkat satu alisnya, "Maksudnya?"


"Heleh. Bapak nggak usah ngeles. Gue tau kok, bapak pernah naksir Talitha kan?"


"Ya elah... itu mah cerita lama."


"Jadi udahan nih? Nggak ada rasa-rasa lagi?" tanya gue memastikan.

__ADS_1


"Rasa apa? Strawberry, Blueberry, Cokelat?"


"Iiihh si bapak nih, ditanyain beneran malah bercanda"


"Cemburu ya?" si ganteng noel-noel dagu gue.


"Iya" jawab gue singkat, padat dan jelas.


"Jadi jelek kayak gini kalau manyun" Kendra mencubit batang hidung gue.


"Jelekan mana? Gue apa Talitha?"


"Jelekan lo lah"


"Ish.. lo tuh yang jelek"


Kendra malah ketawa, "Lo jelek gue jelek. Sama-sama jelek dong"


"Ups.. jangan-jangan kita jodoh ya Pak"


"Mulai lagi"


"He..he. Jadi kapan nih bapak buka bajunya. Gue udah siap stetoskop ini"


"Harus banget dibuka?"


"Kalau mau sekalian buka celana juga nggak pa pa kok." ucap gue cengengesan.

__ADS_1


"Yeee.... modus"


__ADS_2