Cakrawala

Cakrawala
Episode 41


__ADS_3

Kendra mencoba merebut benda segiempat itu dari tangan gue. Untung gue cepat tanggap. Segera amankan di balik badan.


"Dapet dari mana?" dia masih berusaha mengambil ponsel gue.


"Rahasia" Gue bersiap melarikan diri tapi lengannya berhasil menyandera tubuh gue.


"Apus nggak?" ancamnya.


"Nggak mau. Malah mau gue jadiin wallpaper"


"Nggak usah macem-macem"


"Biarin wleek"


Tentu saja gue tau, akan sangat gampang buat Kendra ngambil ponsel dari tangan gue. Makannya sebelum lelaki itu berhasil meraih tangan gue, ponsel itu gue masukin ke dalam bra. Huahaha... Mau apa lo sekarang?


"Kalau mau nih ambil sendiri" ancam gue balik. Payudara gue sodorin ke depan. Si bapak malah mundur ke belakang.


"Hapus nggak?" Kali ini suaranya sangat tegas dan nge-bass. Ugh.. andaikan suara itu buat mendesah pasti gue langsung basah.


"Nggak mau"


"Khanza!" Waduh. Si bapak jadi galak.


"Ya udah deh gue hapus. Tapi lo harus mau foto sama gue dulu ya"


"Tapi beneran lho dihapus?"


"Iya bener"


Aseek.. wallpaper gue otw ganti.


"Buruan bapak rebahan disamping sini"


"Ngapain harus rebahan? Gini aja bisa"


"Berisik. Udah buruan"


Langsung aja gue dusel bahu kokohnya. Cekrek.. cekrek.. cekrek... baru beberapa kali pencet si bapak minta udahan. Huh dasar.. nggak tahan lama.




"Eits mau kemana?" tangan gue megangin bajunya.


"Kan udah fotonya"


"Tapi gue masih pengen dusel-duselan"


Tanpa meminta persetujuan, gue langsung nemplok ke dada bidangnya. Aduh... nyaman banget.


"Sa.."

__ADS_1


"Udah diem" tangan gue melingkar di pinggang Kendra, menghirup wangi maskulin yang menguar dari tubuh kekarnya.


Baru aja menikmati detik-detik langka ini, suara pintu terbuka menganggu kekhusyukan aktivitas ibadah malam gue. Huh, siapa lagi kalau bukan temen satu kamarnya si seksi.


"Ups.. gue ganggu ya?" ucap Mas Tristan sok kaget.


"Udah tau nanya" jawab gue kesel.


Pak tentara udah mau bangun aja tapi gue tahan biar tetep rebahan. Nggak cuma pake tangan, kaki gue ikut nindih si seksi biar tetap anteng di tempat.


"Wow.. malam semakin larut pemirsah" sindir Mas Tristan melihat kelakuan gue.


"Lo kalau masih mau di sini terserah. Tapi gue nggak jamin kesejahteraan dan ketenangan batin lo malem ini" ancem gue.


"Ini kamar gue! Gue mau tidur"


"Ya udah tidur sono. Gue juga mau tidur di sini nemenin ganteng akuh"


Tak hanya Mas Tristan, tapi bola mata Kendra juga ikut membesar ketika gue ngomong mau tidur di sini.


"Ya ganteng yaa... gue temenin boboknya. Mau kelonin juga boleh" rengek gue manja.


Mas Tristan mengernyit jijik sementara Kendra menghela nafas kasar, "Sa... bercanda jangan kelewatan ah. Sana balik ke kamar, udah malem"


"Enggak bisa. Lo kan pasien gue hari ini. Jadi harus nurut"


"Sa.."


"Gue nggak denger.. gue nggak denger.. gue nggak denger" wajah gue nyungsep ke dadanya Kendra. Terserah dia mau nguliahin gue apa, malem ini gue pengen dikelonin pak tentara.


Gue mendongakkan kepala, "Ya udah Mas Tristan keluar sono"


"Trus gue tidur di mana?"


"Bodo. Terserah juga kalau Mas Tristan masih mau di sini. Tapi awas, jangan gumoh."


"Tau ah. Gue mau tidur" ucapnya sekilas sebelum menuju ranjang di sebelah kanan.


Udah dibilangin suruh keluar ngeyel. Gue kan pengen berduaan sama si ganteng. Awas aja tuh tiang listrik, jangan harap bisa betah lama-lama di sini.


Doa gue ternyata dijabah. Nggak perlu banyak berkilah, bala bantuan menghampiri begitu saja. Dari balik dinding yang bersumber pada kamar pak Komandan, tiba-tiba terdengar suara desahan-desahan syahdu yang menggelitik telinga. Hmm... ada yang olahraga ranjang nih malem-malem. Ah, jadi pengen.


"Pak tentara" panggil gue dengan penuh sensualitas.


"Hmm.."


"Tetangga sebelah lagi ngapain sih? Ribut amat"


"Tauk.. ngejar maling kali"


"Pak tentara nggak mau ikut ngejar maling juga?"


"Enggak"

__ADS_1


"Tapi malingnya ganggu banget ini" bibir gue mepet daun telinganya si seksi. "Tembak aja pak malingnya, pake senapannya bapak" goda gue.


"Kaki gue lagi sakit. Nggak bisa nangkap maling"


"Ya udah malingnya aja yang nangkap bapak gimana? Ditangkep, diketatin, terus diremes-remes, uugh.. Udah kedutan ini lho pak"


"Gue nggak denger" Kendra membalikkan tubuhnya.


"Ken..draahh emmph.." gue tiruin desahan dari kamar sebelah. "Becek nih"


Gue dan Kendra dikagetkan oleh suara orang menggerang frustasi dari tempat tidur di sebelah. Dia mengacak-acak rambutnya kasar sebelum membawa bantal dan selimutnya melangkah menuju pintu keluar. Hehehe... rasain, udah gue bilang nggak bakalan betah masih aja ngeyel. Terimakasih Mas Tristan sudah meninggalkan diriku dan si ganteng berdua malem ini. Jangan salah masuk kamarnya mbak Egi ya...


"Tuh kan.. elo sih"


"Kok gue?"


"Makanya diem aja ini mulutnya"


"Disumpel pake senapan ntar diem deh"


Kendra memijat kepalanya yang pening karena tingkah gue.


"Lo maunya apa sih, hmm?"


"Keloniiin" rengek gue manja.


"Ya udah sini"


"Eh beneran?"


Kendra mengangguk.


"Asiik"


"Tapi cuma kelonin aja lho ya"


"Dipuk-puk juga bokongnya."  Tangan Kendra gue tarik ke pantat, "Kayak waktu lo bobokin Kalere itu" jelas gue.


"Sa!" Kendra mencoba melepaskan tangannya yang gue paksa nemplok di bongkahan pantat sintal nan aduhai gue.


"Iya deh iya" gue ngalah, "Peluk aja ya" Tanpa menunggu jawaban, langsung gue tubruk badannya yang kokoh itu.


"Nina bobokin gue dong" pinta gue nggak tau malu.


"Gue nggak bisa nyanyi"


"Rambut gue dielus-elus aja"


"Udah nih. Sekarang merem"


"Disuruh merem segala. Mau dicium ya?"


"Iya. Tapi di dalam mimpi."

__ADS_1


Iiih syebel.


__ADS_2