Cakrawala

Cakrawala
Episode 18


__ADS_3

-Khanza-


 


"Kalau mbak Egi nggak mau nyariin ya udah Khanza pergi sendiri" semoga ancaman gue berhasil.


"Eh tunggu dulu. Ini udah malem. Besok aja kenapa sih? Lagian HP-nya juga nggak keburu di pake kan?"


"Enggak mau. Khanza maunya sekarang. Udah mbak Egi diem aja di sini kalau nggak mau bantuin. Biar Khanza cari sendiri aja. Mana senternya?"


"Ya udah..ya udah.. mbak Egi aja yang pergi nyariin. Kamu diem di sini jangan kemana-mana."


Yes. Rencana gue berhasil.


Sebenarnya ponsel gue nggak ilang. Itu mah cuma alasan gue aja biar bisa berduaan sama mamas ganteng. Setelah mbak Egi pergi, gue suruh Mas Tristan buntutin dari belakang. Baik kan gue nyuruh orang buat nemenin dan memastikan keselamatan bodyguard gue tercinta.


"Pokoknya Mas Tristan harus bikin mbak Egi nggak cepet pulang. Terserah mau diputer-puterin dimana"


"Itu mah gampang. Serahin semuanya sama gue"


"Nih ponsel gue. Kalau kira-kira udah pagi Mas Tristan pura-pura aja nemuin ponsel ini tergeletak di tanah. Biar mbak Egi nggak curiga."


"Siap laksanakan." Lagaknya pake hormat-hormat segala, "Tapi pelan-pelan aja ya Sa, jangan brutal. Bos gue masih belum berpengalaman. Jangan ngambek kalau dia crot duluan" bisiknya sambil terkekeh-kekeh.

__ADS_1


Langsung aja gue tendang tulang keringnya. Ya kali gue mau anu-anuan di tempat kayak gini. Dikutuk jin penunggu hutan entar.


Rumah sudah sepi. Wa'i, Malahar, dan Kalere tertidur pulas di kamar mereka. Hanya ada gue dan mamas ganteng di ruang depan. Si bapak tentara seksi udah melepas jaketnya. Sekarang dia cuma pake kaos hitam polos yang bikin aura ke-macho-annya makin menguar kemana-mana. Otot-otot tangannya terlihat jelas walaupun penerangan di ruangan ini sangat minim. Dengan cekatan dia menggelar dua sleeping bag ukuran jumbo di atas tanah.


"Udah siap nih tempat tidur lo" ucap si mamas ganteng sebelum masuk ke kantong tidurnya sendiri.


Enak aja, lo pikir gue mau tidur situ. Ya enggak lah. Gue maunya dikelonin sama lo, seksi.


"Eh eh.. kok lo masuk sini. Ini kan kantong tidur gue." Si manis gula jawa kelabakan karena gue tiba-tiba masuk ke sleeping bagnya dan rebahan di sampingnya.


"Gue nggak mau pilek. Gini aja lebih anget" jawab gue seraya memeluk tubuh Kendra, mengunci pergerakannya agar dia nggak beranjak dari tempatnya sekarang.


"Tapi nggak gini juga dong Sa. Lo tuh cewek. Gue cowok" kilahnya masih berusaha melepaskan diri dari gue.


"Ya kali cowok-cewek tidur sambil peluk-pelukan kek gini"


"Loh, bukannya itu normal. Kalau lo tidur peluk-pelukan sama cowok itu baru namanya aneh"


"Tapi kan kita nggak ada hubungan apa-apa."


"Emang nggak boleh kalau nggak ada hubungan apa-apa peluk-pelukan kek gini?"


"Ya bukannya gitu. Gue cuma nggak nyaman aja. Gue nggak mau dianggep manfaatin lo"

__ADS_1


"Kalau lo nggak nyaman sama hubungan kita sekarang, kenapa nggak jadiin gue pacar aja? Bisa kelonan tiap hari kita"


Satu kedipan genit gue hadiahkan buat si seksi. Eh, tiba-tiba aja tubuhnya menegang kaku. Apa kelakuan gue terlalu menohok ya?


"Gimana? Pacaran aja yuk?" gue semakin menyudutkan mamas ganteng. Nggak tau juga kenapa gue bisa seberani ini. Mungkin kalau Kendra tipe-tipe cowok kerdus atau cuma tukang umbar janji doang, nggak akan mungkin gue berani mepet duluan kek gini.


"Emang lo cinta sama gue?" Pertanyaan Kendra sukses buat gue berpikir sejenak. Iya ya? Sebenernya gue cinta nggak sih sama ini cowok? Gue akuin kalau gue tertarik sama dia. Bukan cuma karena body-nya tapi juga karena sifat dan kepribadiannya. Tapi kalau cinta.. gue sendiri bingung. Yang jelas gue nyaman sama dia dan gue selalu pengen ada di deket dia.


"Nggak tau." jawab gue singkat sambil mengendikkan bahu.


"Kalau lo nggak yakin sama perasaan lo sendiri, kenapa ngajakin gue pacaran?"


"Ya gue suka aja sama lo. Emang lo nggak suka sama gue?"


Kendra terdiam. Meskipun cahaya temaram membuat gue tidak bisa melihat dengan jelas perubahan di raut wajahnya, namun dapat gue rasakan dia juga bingung dengan perasaanya, sama kayak gue.


Ingin mendengar jawaban sejujurnya dari mulut lelaki itu, gue menggeser tubuh gue ke samping dan menindih dada Kendra. Dengan posisi gue di atas, dia di bawah, dan dada kita saling menempel, gue bisa melihat lebih jelas rona merah yang terlukis di wajahnya.


"Jadi, lo suka nggak sama gue?" tanya gue sekali lagi. Bola mata gue menatap lurus ke arahnya. Wajah kita saling berhadapan. Hembusan nafas panasnya menerpa muka gue. Dia menelan ludah. "Gue nggak tahu" jawabnya singkat.


"Tapi gue bisa denger jantung lo berdetak keras banget"


Kendra makin salah tingkah. Mukanya tambah merah. "Eh, itu karena... gue gerah. Panas banget ini satu kantong tidur di pake berdua"

__ADS_1


"Oh ya? Kalau gitu kita cari tau sama-sama.. perasaan lo sebenarnya sama gue"


__ADS_2