Cakrawala

Cakrawala
Episode 46


__ADS_3

-Kendra-



"Kebanyakan mikir lo nyet."


Gue lirik cowok yang mulutnya mengepulkan asap rokok itu. "Monyet pala lo. Punya batang berapa berani manggil gue monyet?" Emang dasar produk gagal aqiqah, nggak liat apa bintang gue di pundak jumlahnya lebih banyak daripada punya dia. Untung kita lagi lepas dinas, kalau sampai dia manggil gue monyet waktu pake seragam, langsung pendek tuh tiang listrik gue setrap.


"Ampun bos. Punya satu aja nggak abis-abis. Makanya jadi laki tuh punya greget gitu loh bos. Jadi kan batangnya bisa berpetualang, nggak dipingit terus di dalem celana. Karatan ntar"


"Berpetualang kepala lo peyang. Kena penyakit baru tau rasa"


"Ya mainnya yang bersih dong bos. Jangan cuma dibersihin mulu pake sabun tapi nggak pernah di reyen"


"Lo kira motor di reyen?"


"Loh, onderdil penting ini. Punya gue udah tenaga torpedo. Masak punya pak bos masih tenaga kura-kura. Malu lah sama pangkat"

__ADS_1


"Bacot"


Tristan nggak berenti-berentinya ngetawain gue. Sialan emang. Mana gue nggak bisa bales lagi kalau sudah membahas masalah perbatangan. Boro-boro mau bales, membela diri sendiri aja nggak bisa. Nasib.. nasib.


"Bukannya bu dokter ngebet banget sama lo?"


"Ya itu.. gue nggak tau dia bener-bener mau sama gue atau cuma perasaan sesaat aja. Lo tau sendiri kan gimana tingkahnya?"


"Khanza tuh straight-forward banget orangnya. Kalau suka ya bilang suka, kalau enggak ya nggak ditutup-tutupi. Walaupun kelakuannya belangsakkan tanpa dipikir dulu gitu tapi dia nggak pernah mainin hati orang. Tapi lo-nya malah kebanyakan mikir, keburu diembat orang ntar."


"Mau sampai kapan sih bos lo biarin cewek nunggu. Nggak kasian? Cowok tuh kodratnya mengejar, bukan dikejar."


"Iya Tan, gue tau. Eh bentar, lo kok tau banyak sih soal Khanza?" Sebenernya sejak lama gue curiga kalau Tristan udah kenal lama sama anaknya pak Mayor Jendral. Mana tuh cewek manggil Tristan pake embel-embel 'Mas' lagi. Hmm... mencurigakan.


"Lo udah kenal lama sama Khanza?"


"Eh.. itu.." Tuh kan tingkahnya makin mencurigakan. Mana kelabakan gitu jawabnya. Bukannya kasih jawaban dengan jelas malah garuk-garuk kepala.

__ADS_1


"Ya tau aja. Kan Egi banyak cerita"


"Perasaan Regina bukan tipe orang yang banyak omong" pepet gue.


"Aduh gue kebelet pup. Sakit perut nih. Bentar ya" langsung aja tuh kucing garong ngacir kabur. Mana gelas kopinya belum dibayar lagi. Dasar guguk. Untung kopinya bukan Starbucks.


Selesai membayar segala tagihan, termasuk satu bungkus Gudang Garam yang dibawa kabur monyet rabies tadi, gue melangkahkan kaki keluar kedai. Pamitnya ke kamar mandi tapi udah dua puluh menit nggak balik-balik. Konstipasi apa ngocok? Mending gue tunggu di mobil.


Posisi gue lagi ada di kota. Seperti biasa, sekarang jatah gue jemput barang kiriman dari pusat. Pagi tadi kita berangkat menggunakan dua mobil. Satu mobil dinas yang dipake gue sama Tristan, dan satu lagi mobil khusus yang dipinjamkan bapak Bupati untuk transportasi si investor sipit itu.


Tentu saja mobil bermerek BMW 640i Coupe M-sport warna silver itu tidak hanya ditumpangi pak investor seorang. Tapi ada dua manusia lain yang ikut naik di dalamnya, Khanza dan Regina. Dongkol gue kalau inget gimana tadi pagi dengan hebohnya bu dokter itu dandan karena mau diajakin jalan-jalan ke kota sama pak investor. Mana lipstiknya merah banget lagi. Belum dressnya yang selutut pun nggak ada. Waktu gue protes malah dibilang, "Kan cuma temen. Nggak usah ngatur-atur". Jadi pengen memaki diri sendiri.


Aduh lagi ngapain ya mereka berdua sekarang? Inget tingkahnya Khanza yang nggak bisa diprediksi gue jadi was-was. Untung ada Regina yang nemplok. Setidaknya gue merasa lebih tenang.


"Loh, Regina?" gue kaget ketemu bodyguard wanita itu di seberang jalan, tempat gue memarkirkan mobil. Tapi kok dia sendirian? Mana Khanzanya?


__ADS_1


__ADS_2