Cakrawala

Cakrawala
Episode 75


__ADS_3

"Halah bo'ong" timpal gue mengompori.


"Nggak usah jelek-jelekin cowok gue ya?"


"Emang cowok lo jelek? Mau apa lo?" gue malah nantang.


"Nggak usah bentak-bentak cewek gue. Ngomong nyantai aja bisa kan?" Ups, pawangnya ngamuk.


"Lo juga ngapain bentak cewek gue? Nggak gentle banget jadi laki" Uhui.. gantian gue dibelain Mas Pacar.


"Apaan sih nyolot gitu sama bebeb gue." Eh malah mak lampir satu ini ikut-ikutan nyalahin Mas Pacar. Gue nggak terima dong, "Nggak usah nyalah-nyalahin laki gue. Siapa suruh nyolot duluan"


"Bukannya elo yang nyolot duluan?" tentu saja sahutan Bapak Komandan muka rata yang bucen banget sama ibu perawat.


"Lo juga pake ngompor-ngomporin. Tinggal ngaku aja kalau takut kecoa apa susahnya sih" Aseek.. dibelain calon imam lagi. Lup yu muah muah sayang.


"Terus kenapa kalau takut kecoa? Itu kan manusiawi" Masih aja mak lampir ngebelain.


"Manusia kok mukanya rata kek tembok." Ups, body-shaming.


"Emang cowok lo enggak? Tuh malah idungnya yang rata"


Mau ngajak berantem? Oke gue ladenin, "Siapa bilang rata. Itu mah mancung ke dalam. Pesona cowok masa kini."


"Heleh ngeles. Dari dulu nggak berubah emang ya lo, ngeles mulu"


Gue memutar mata, "Daripada elo. Gesit banget kalau suruh nikung-menikung. Udah berapa cowok gue lo tikung? Belum termasuk gebetan."


"Kok jadi nyalahin gue? Orang mereka yang deketin gue. Lo-nya aja yang nggak bisa mertahanin"


"Eh kok nyolot. Dulu siapa yang duluan ngechat pacar-pacar gue. Ngajak jalan pake sejuta alasan. Siapa? Ha? Ngaku lo?"

__ADS_1


"Kapan? Pacar yang mana?"


"Halah pake sok amnesia. Yang nggandeng pacar gue waktu acara perayaan ulang tahun sekolah itu siapa, ha? Setan?"


"Emang itu pacar elo? Kalian kan nggak jadian"


"Siapa bilang? Jelas-jelas dia nembak gue"


"Bukannya elo yang nembak dia? Tapi difriendzone-in."


"Enak aja friendzone. Kita pacaran ya"


"Pacaran cuma dua puluh lima hari doang. Pff.."


"Daripada elo. Paginya diaku pacar sorenya diputusin."


"Sembarangan. Jelas-jelas gue yang mutusin Mas Tristan."


"Ck.. Yang bela-belain nggak ikut ekskul basket cuma buat nememin gue cari bahan prakarya itu siapa? Sampai-sampai telepon lo nggak diangkat kan sama dia?"


"Brengsek. Jadi elo biang keroknya?"


"Lo duluan yang ganjen sama Mas Tristan. Ngelendat-lendot aja kerjaannya"


"Emang Mas Tristan pacar lo? Waktu itu kan dia jomblo. Bebas dong mau dideketin."


"Tapi kan gue duluan yang nggebet dia"


"Enak aja gue duluan ya"


"Gue duluan"

__ADS_1


"Gue duluan"


"Gue duluan"


"Gue duluan"


"Ehem.." Suara deheman dari bangku samping seketika menyadarkan kami. Saking sibuknya meributkan masa lalu, baik gue maupun Talitha sama-sama lupa ada siapa di samping kita saat ini. Ya, Mas-Mas pacar dengan tampan garang dan tangan bersedekap di depan dada tengah menatap kami tajam. Mampus.. ada yang marah pemirsah.


"Oh, jadi karena Mas Tristan kalian jadi kayak kucing sama anjing gini?" sindir Kendra memberikan tekanan pada kata Mas.


"Mas Tristan? Kayak kenal?" cibir Pak Komandan. Tidak mau kalah, dia juga memberikan penekanan spesial pada kata Mas.


Apesnya, di saat yang sangat tidak tepat sekali, Mas Tristan muncul dari balik pintu. "Wuih... pada ngumpul di sini. Double date ya? Hehehe.. Mon maap nih interupsi. Habis perut gue laper. Di dapur masih ada makanan nggak?"


Kendra dan Satriya menyunggingkan senyum penuh misteri. Mereka beranjak dari kursi sambil mengucap, "Mau makan apa? Granat? Masih ada G-37 AS di gudang" jawab salah satu dari mereka.


"Atau UT-166? C4? TNT?" timpal cowok satunya.


"Eh, pada kenapa sih?" Mas Tristan dengan bodohnya nggak paham isyarat yang gue dan Talitha sampaikan agar dia segera kabur menyelamatkan diri.


Terlambat. Keburu Kendra dan Satriya membekuk tiang listrik itu dan menyeretnya ke tengah lapangan.


Dan yang akhirnya terjadi adalah, tanpa tahu apa salahnya, Mas Tristan dihukum lari  mengelilingi lapangan dengan membawa beban berkilo-kilogram dipundaknya.


"Bos.. hh..hh.. udah du..a.. puluh...kali..hh" lapor lelaki itu dengan sedikit ngos-ngosan.


"Tambah dua puluh kali lagi" suara tegas Satriya memberi perintah.


"Salah..hh.. gue.. apa..sih bos??"


"Pikir aja sendiri" teriak dua atasannya penuh kesal.

__ADS_1



__ADS_2