
-Khanza-
"Makannya pelan-pelan Sa" pak tentara seksi memperingatkan.
Bodo. Laper banget gue. Belum pernah gue makan singkong bakar seenak ini. Apalagi ini produk organik, tidak ada penambahan pupuk dan insektisida, asli dibesarkan dengan unsur hara tanah yang belum tercemar polusi lingkungan. Ditambah lagi perut gue belum keisi apapun sejak semalem. Mana harus keluar tenaga ekstra buat bantuin gotong royong bersih desa dan pembuatan saluran air. Pokoknya gue mau makan sepuasnya.
"Lo kecil-kecil doyan makan juga. Awas ntar buncit tuh perut" cibir Kendra.
"Enak aja. Perut gue punya abs ya"
"Cewek bisa punya abs juga?"
"Belum tau aja lo.. Mau liat? Nih.." satu tangan gue memegang ujung baju, bersiap menari ke atas.
"Nggak usah" buru-buru Kendra menarik turun ujung baju gue yang sudah sedikit tersibak.
__ADS_1
"Beneran..? Entar penasaran loh.." goda gue sambil menunjuk-nunjuk wajahnya dengan jari.
"Enggak"
"Tapi kalau bapak mau bikin perut saya buncit sembilan bulan boleh lah.."
"Hush! Mulut dijaga" Kendra menyentil dahi gue.
"Hehehe.. maap pak, cuma bercanda"
"Kemana?"
"Kabur bentar. Mumpung pak komandan nggak liat"
Iih... suka deh kalau si bapak yang inisiatif gini. "Mau dibawa kemana saya pak? Buncitin perut ya?"
"Udah diem. Nanti juga tau"
__ADS_1
Ya udah, nurut aja. Tumben-tumbenan si seksi yang mendominasi.
"Pak ini mau kemana sih? Jalannya gini amat?" baru berjalan beberapa meter gue udah ngeluh. Namanya juga warga ibu kota, mana pernah gue halang rintang diantara batu-batu segedhe perut ondel-ondel gini.
"Katanya punya abs. Tapi jalan di medan kayak gini aja protes?"
"Absnya kan dibikin di gym, bukan di alam liar kek gini, Pak"
"Capek ya? Apa mau gue gendong?"
Ya kali.. ketahuan kalau gue berat entar.
"Enggak, nggak usah. Digandeng aja udah cukup kok"
Asek.. gue bisa modus ini. Lumayan lah dapet skinskip banyak banget. Sok-sokan mau jatuh biar ditangkep, nempel-nempel karena takut kepeleset, pura-pura letih tak bertenaga biar digandeng terus, hmm... keker banget sih ini lengan, pas buat bantalan bobok.
"Sudah sampai" susah payah gue terbayar begitu melihat pemandangan yang terhampar tepat di depan mata gue. Emang bener ya apa kata orang, ada harga yang harus dibayar untuk mencapai tempat-tempat yang indah. Kayak sekarang ini, rasa lelah gue tiba-tiba hilang disuguhi pemandangan yang menyejukkan mata. Padang rumput hijau membentang luas, terlihat begitu sejuk dan asri. Hewan-hewan dibiarkan berkeliaran dengan bebas tanpa kekangan. Dimana-mana ada sapi yang sedang merumput atau kuda yang sedang menikmati hangatnya sinar mentari. Di bagian tengah terdapat sebuah mata air yang begitu jernih dan segar, tempat hewan-hewan itu melepas dahaga. Savana ini begitu luas, dengan langit biru dan arakan awan putih sebagai kubahnya serta gunung-gunung tinggi sebagai bentengnya.
__ADS_1