
-Khanza-
(Teras rumah Bapak Mayor Jenderal, 20:24)
Gue masih nggak percaya wajah Mas Ganteng terpampang nyata dihadapan gue.
"Aduh, Sa.. mau dibolak-balik sampai kapan muka aku?" protesnya. "Adududuh... malah digigit. Sakit tau." Si ganteng mengelus-elus pipinya yang jadi sasaran aksi kebrutalan gue.
"Berarti bener. Ini bukan mimpi. Terimakasih ya Allah. Bentar, mau sujud syukur dulu. Kiblat mana kiblat". Pokoknya asal njengking aja, nggak tau juga gue doa sujud syukur itu kayak apa. Yang penting saking terharunya gue mau ngucapin terimakasih karena Yang Diatas udah ngabulin doa-doa gue.
"Kamu nggak papa kan? Sehat-sehat aja kan? Kok baru muncul sekarang? Kamu kemana aja? Gimana cerita-" gue nerocos gitu aja.
"Shh.. satu-satu sayang"
Sayang..? Pen nangis. Udah lama nggak denger kata itu keluar dari mulutnya Kakanda.
"Loh..loh.. kok mewek lagi. Jangan dong. Ntar aku disidak Papa kamu karena bikin anaknya nangis" Kendra celingukan mengamati keadaan di dalam. Oke, situasi masih aman. Papa lagi asyik bercengkerama sama calon mertua. "Udah sini. Eyeliner kamu luntur nih"
"Masak sih?" Buru-buru gue nengok ke pantulan kaca di teras rumah. "Sialan. Katanya waterproof. Cuma menang merek doang. Kampret." Ups, kelepasan ngomong kotor di depan calon imam.
__ADS_1
"Mulutnya masih lemes ya?"
"Kurang emutan sih. Kamu kelamaan perginya? Nggak ada kabar lagi. Dateng-dateng main lamar bawa keluarga. Pokoknya kamu utang penjelasan sama aku!"
Si Mamas terkekeh, "Ceritanya panjang Sa"
"Malem juga masih panjang kok." tawar gue.
Kendra tampak menghela nafas sebelum dia mulai bercerita, "Aku nggak tau harus mulai dari mana. Tapi yang jelas, rasa trauma akan kejadian itu masih membekas sampai sekarang. Aku nggak inget berama lama terlunta-lunta di tengah laut. Siang disengat terik matahari, malam diterpa angin yang dingin. Tidak ada makanan, minum pun air laut yang asinnya tidak terkira"
Atensi gue sepenuhnya tercurah pada lelaki ini. Terlihat jelas bagaimana pahitnya kisah itu masih membekas di di raut wajahnya.
"Manusia bisa jadi sangat egois dan menakutkan jika sudah menyangkut hidup dan matinya. Aku juga nggak nyangka bisa sejahat itu sama orang, Sa."
"Aku sudah mencelakai orang, Sa" lirihnya penuh lara. Ada perasaan bersalah tertoreh di setiap kata yang dia pilih, "Kita semua ingin bertahan hidup. Aku dan orang-orang yang hanyut bersamaku waktu itu. Satu demi satu dari kita mati perlahan. Aku masih inget banget gimana mayat mereka mengambang di sekitarku, bahkan baunya pun masih terngiang di hidung. Saking parahnya, ada bapak-bapak ngebunuh anaknya yang udah sekarat biar nggak kelamaan ngerasain sakit. Ada yang rebutan bongkahan kayu untuk mengapung. Pokoknya semua yang bisa membuat kita bertahan hidup jadi rebutan."
Suara Kendra sedikit bergetar, laki-laki itu mengambil jeda sebentar sebelum melanjutkan ceritanya "Aku bener-bener nggak sengaja waktu itu Sa, dia duluan yang cari gara-gara. Dia nyerang aku, kita rebutan batang kayu. Aku nggak maksud bikin dia sampe tenggelam kayak gitu. Aku..aku.." Kendra tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Matanya memerah, pipinya basah karena luapan air mata, dan bibirnya terus bergetar ketakutan.
Gue segera memeluk lelaki itu erat-erat, menyandarkan kepalanya di bahu, dan mengusap rambutnya pelan, "Sshh, it's okay baby. Kamu nggak salah. Kamu nggak sengaja waktu itu. Lagi pula memang situasinya genting" Tangan gue terus mengelus rambutnya pelan, memberikan kenyamanan dan rasa aman. Mungkin bahu ini tidak sekokoh miliknya, namun akan selalu siap menjadi tempatnya bersandar walau hanya sebentar.
__ADS_1
Kendra menarik diri setelah perasaannya membaik. Dengan senyum yang dipaksakan lelaki itu berkata, "Maaf aku jadi cengeng kayak gini."
Gue menangkup kedua pipinya, mengelap sisa-sisa air mata di sana, "It's okay to cry baby. You have gone through the worst."
Kendra mengambil kedua tangan gue di pipinya dan menggengammya erat. "Waktu itu aku bener-bener putus asa. Rasanya mau nyerah. Sempat terpikir untuk mati saja daripada bertahan dalam situasi menyakitkan seperti itu. Tapi, aku udah janji sama kamu untuk pulang."
Kini mata gue yang berkaca-kaca. Dimana lagi gue nemuin laki-laki yang rela melawan apa saja demi gue. Thank's God, You sent him back for me.
"Setelah berhari-hari minum air laut, akhirnya ada tim relawan yang sampai ke sana dan nolong aku. Mereka bawa aku ke tempat evakuasi. Aku nggak inget apa yang terjadi tapi katanya aku pingsan berhari-hari. Dan ketika membuka mata, aku cuma diem. Nggak ngerespon apapun yang mereka bicarakan. Sampai berbulan-bulan." Kendra menelan ludah sebelum mengungkap apa yang terjadi padanya waktu itu, "PTSD. Dokter bilang aku mengalami trauma berlebihan"
Poss Traumatic Stress Dissorder. Nggak usah dijelasin panjang lebar gue yang notabennya seorang dokter sangat memahami apa itu. Setelah apa yang dilalui Kendra, sangat wajar jika dia menderita trauma pasca kejadian.
"Yang nolongin aku waktu itu namanya Pak Hasyim. Dia seorang ustadz yang mengelola salah satu pondok pesantren di Kupang. Karena aku masih pake seragam TNI, Pak Hasyim segera melapor ke batalyon terdekat. Setelah itu aku dikirim ke Magelang, untuk menjalani terapi pengobatan."
"Jadi karena itu kamu nggak ada ngehubungin aku sama sekali?"
Kendra mengangguk. "Aku bener-bener kacau waktu itu. Diajak ngomong pun nggak ngerespon. Untungnya, ada Papa kamu. Berkat dia aku bisa sembuh dan kembali ke hadapan kamu."
"Papa?" mata gue membulat.
__ADS_1
"Iya. Papa kamu."