Cakrawala

Cakrawala
Episode 74


__ADS_3

-Khanza-


Kita berempat duduk mengitari meja persegi panjang di ruang makan. Gue disebelah Kendra, dan Talitha di sebelah Satriya. Tidak ada yang membuka suara. Suasana cukup hening hingga suara tarikan nafas Kendra mengawali pembicaraan kita, "Jadi kalian dijodohkan?"


Duh, kenapa suasananya jadi tegang sih. Kalau burungnya Mamas yang tegang sih asik. Lha ini?


Mulut gue yang biasanya berkicau tanpa kenal lelah kini terkunci. Sumpah, gue nggak sanggup natap pacar gue. Raut mukanya bener-bener nggak enak. Dan ketika gue tau apa yang membuat dia tiba-tiba bersikap sangat dingin seperti ini, gue nggak bisa berbuat apa-apa. Ya, gue tau cepat atau lambat Kendra akan tau yang sebenernya, tapi gue nggak sangka akan secepat ini.


"Kita memang dijodohkan, tapi nggak akan ada pernikahan" bukan gue, tapi suara pria berpangkat tiga golongan perwira menengah yang duduk berhadapan dengan pacar gue yang menjawab.


Gue menyeringai pelan, "Coba lo bilang itu dihadapan bokap lo. Berani nggak?"


Satriya sedikit bergeming dari posisi duduknya. Bibirnya terlihat ingin bergerak namun tak ada suara yang keluar. Mempunyai keluarga besar berlatar belakang militer membuat pria itu tumbuh dalam kedisiplinan dan kepatuhan. Bukannya dia belum pernah menentang keinginan sang ayah, hanya saja tidak semudah itu mengalahkan watak keras orang tuanya. Dan gue paham benar akan hal itu.


"Kalian dijodohin tapi lo masih bisa pacaran sama Talitha?" Pacar gue menginterupsi.

__ADS_1


"Gue sama Khanza nggak pernah punya perasaan satu sama lain. Salah kalau gue pacaran sama Talitha?" sang komandan membela diri.


Kendra beralih bertanya pada gadis yang sedari tadi hanya duduk terdiam di hadapan gue, "Lo juga nggak tau kalau Satriya udah dijodohin?"


Talitha menggeleng dengan lesu. Sorot matanya begitu sayu. Seperti ingin menangis tetapi ditahan-tahan.


Pria yang berstatus sebagai kekasihnya itu bergerak mendekat, tangannya mengelus pelan punggung Talitha seolah ingin memberi sedikit kenyamanan. "Beb, aku kan udah jelasin. Aku nggak maksud nyembunyiin dari kamu. Tapi aku janji, perjodohan itu nggak akan pernah terjadi."


Malam tadi, baik Kendra maupun Satriya hilang entah kemana. Nggak ada yang tahu kemana perginya dua orang itu. Bahkan Mas Tristan dan anggota-anggota TNI yang lain selalu mengendikkan bahu jika ditanya dimana keberadaan dua perwira mereka. Baru tadi pagi mereka menampakkan batang hidungya. Dengan wajah ditekuk dan sikap dingin Kendra menemui gue. Dan disinilah kita sekarang, membahas kelangsungan hubungan kita masing-masing.


Satriya menimpali, "Gue bakalan ngomong ke orang tua gue ka-"


"Kita udah ngomong ribuan kali, Sat" ucapan Satriya gue potong, "Tapi apa? Mental semuanya. Omongan nggak akan bisa nyelesein ini. Lo tau sendiri gimana keras kepalanya bokap lo. Kita butuh aksi. Aksi nyata!"


"Aksi gimana lagi yang lo mau, Sa? Ngelawan orang tua? Berontak kayak anak ABG? Apa kawin lari terus ngehamilin cewek lain?"

__ADS_1


"Nah boleh juga tuh yang paling belakang" jawab gue santai.


"Kenapa nggak lo aja yang hamil? Kalau lo punya anak dari cowok lain otomatis perjodohan kita gagal. Selesai kan?"


Gue sih biasa aja digituin. Lagian nggak ada yangs salah juga dari usulan Pak Komandan. Tapi Mas Pacar nggak terima, "Jaga omongan lo! Gue nggak peduli lo atasan apa bawahan gue, sekali lagi lo ngomong gitu ke cewek gue, abis mulut lo" Wuidiih... ngeri juga Mas Pacar. Pentolan padepokan silat mana ini, auranya menguar-nguar nggak bisa dibendung. Jadi makin seksi deh calon imam gue.


"Ayang udah ah.. marah-marah mulu dari tadi. Tapi kalau dipikir-pikir ucapan Satriya bener juga ya yang. Coba kalau aku tekdung, nggak bakalan lagi dijodih-jodohin sama cowok takut kecoa" Niat mau mencairkan suasana tapi malah dapet pelototan tajam dari Mamas, "Iya..iya nggak jadi. Aku diem aja di sini. Duduk anteng" ucap gue sebelum menutup mulut.


"Enak aja ngatain cowok gue takut kecoa" Hm.. Mbak Pacar posesip ngebelain.


"Loh bener kan? Ada kecoa terbang aja telepon mobil pemadam kebakaran. Emang lo nggak tau?" Nggak jadi anteng, ada yang nyolot.


Talitha berbalik menghadap pria disebelahnya, "Emang bener beb?"


Yang ditanya cuma geleng-geleng kepala dengan ekspresi datar. Nggak mau ngaku.

__ADS_1



__ADS_2