Cakrawala

Cakrawala
Episode 32


__ADS_3

-Khanza-


 


Cahaya keemasan melingkup kubah langit. Kilau warnanya merambat di antara gumpalan awan yang tertiup angin. Burung-burung terbang bergerombol pulang ke sarang, meninggalkan hamparan rumput hijau yang lambat laun mulai termakan sepi.


Punggung gue masih bersandar di dada bidang Kendra, dengan kedua otot-otot bisepnya di kanan dan di kiri, memenjarakan tubuh gue dalam kehangatan rengkuhannya. Gue tenggelam bersama buaian senja yang terlukis indah di garis cakrawala.


"Cantik.." kata pujian itu keluar dari bibir gue begitu saja. Baru kali ini gue menikmati indahnya matahari tenggelam di pegunungan.


"Iya. Sangat cantik" suara Kendra menimpali. Gue tersenyum seraya mendongakkan kepala, ingin melihat ekpresi Kendra menikmati warna emas di ujung langit sana. Namun, yang gue dapatkan bukanlah wajahnya yang memandang lurus ke depan, namun matanya jatuh memandangi wajah gue.


"Em.. itu.. sunsetnya cantik" gue mempertegas sekali lagi sambil menunjuk-nunjuk ke arah langit.


"Iya.. cantik banget" Kendra mengangguk, namun matanya tidak lepas dari wajah gue.


Gue nggak tau perasaan apa ini, tapi rasanya warna merah merambat ke pipi. Mata gue tidak mampu bertemu pandang dengan matanya. Dan tiba-tiba gue menjadi sedikit salah tingkah.

__ADS_1


Please Khanza, brace yourself.


Berulang kali gue mengatur nafas, mencoba menenangkan suara gemuruh dari dalam dada gue.


"Gue rasa gue jatuh cinta.." Deg. Kendra dan suara beratnya menghentikan waktu dalam sekejap.


Jarum jam.. kenapa engkau enggan bergerak hanya dengan satu kalimat yang diucapkan Kendra? Apakah ini yang disebut waktu terasa berhenti?


"Hah? Eh? Apa?" gue gelagapan sendiri.


"Iya. Gue rasa gue jatuh cinta... pada senja"


"Yah. Gue kalah dong sama senja" ucap gue sedikit dongkol.


Kendra mengacak-acak rambut gue yang emang sudah berantakan dipermainkan angin, "Kamu aneh-aneh aja sih. Masak membandingkan diri sama senja"


"Haduh bapak, jangan diacak-acak dong rambut saya. Nanti saya jadi tambah seksi lo, kayak orang bangun tidur abis di anu-anuin. Nanti kalau bapak khilaf kan saya yang senang"

__ADS_1


"Orang jadi gimbal kayak nggak sisiran seabad gini kok mau bikin khilaf."


"Yakin nih nggak bikin khilaf?" Nggak tanggung-tanggung gue goda aja sekalian pak tentara ganteng satu ini. Jari-jari gue bermain-main di paha kokohnya yang menghimpit kedua paha gue. Namun dengan sekali tangkap, tangan gue diamankan. Kedua lengan besarnya menyandera tangan gue di depan dada. Membuat dia memeluk gue dari belakang.


"Nggak usah senyum-senyum" ucap Kendra menyindir.


"Biarin dong. Kapan lagi bapak peluk saya kayak gini?"


"Kalau nggak diginiin tangan kamu udah merayap kemana-mana"


"Aduh, jadi seneng deh"


"Gue juga seneng"


"Eh? Apa?"


"Itu.. liatin matahari tenggelam. Gue seneng liatnya"

__ADS_1


Sudah gue duga. Dasar, pemain hati wanita. Huh. Untung hati gue dilapisin semen Gresik, kokoh tak tertandingi. Padahal gue pengennya dilapisin semen Holcim, biar 'membangun bersama', bersama hati bapak tentara maksudnya. Hehe..


__ADS_2