Cakrawala

Cakrawala
Episode 45


__ADS_3

"Udah nggak pa pa gini kakinya. Lo udah sembuh. Sana balik, gue mau siap-siap pilih outfit buat makan siang"


"Tapi ini masih kerasa sakit"


"Nih gue kasih obat pereda rasa sakit."


"Kok main kasih obat. Diperiksa dulu lah"


"Udah gue periksa lo nggak kenapa-napa. Udah sembuh total"


"Kalau nggak mau periksa gue minta tolong Talitha nih.." semoga ancaman gue berhasil.


"Terserah"


Eh? Kok nggak cemburu sih?


"Beneran nih?"


"Kebetulan banget kalau dia mau ngurusin lo, jadi gue bisa pilih-pilih outfit buat makan siang. Gue panggilin sekalian deh Talithanya biar cepet."


Kenapa malah jadi kayak gini? Aduh, gue harus bertindak cepat.


"Awh.. aduh.. sakit banget ini"


Khanza yang baru saja ingin melangkah pergi membalikkan badannya.


"Duh, kenapa lagi sih?"


"Ini sangit banget. Infeksi kali ya"

__ADS_1


Bu dokter satu itu kembali mencermati bekas luka gue.


"Masak sih? Waktu itu kan udah diobatin. Bengkaknya juga sudah sembuh"


"Ya diperiksa lagi dong. Pokoknya lo nggak boleh pergi kalau gue belum sembuh"


"Kok gitu?"


"Tanggungjawab lah. Kan waktu itu cuma elo yang ngobatin gue. Talitha mau bantuin kasih obat aja lo cegah. Kalau ada medical error gimana?"


"Eh.. medical error"


Gue perhatikan raut wajah Khanza mulai menggelap. Dia mengigit sedikit bibir bawahnya, seperti merasa khawatir kalau-kalau apa yang gue ucapkan benar adanya. Padahal gue nggak kenapa-napa. Tapi gimana lagi, gue harus bohong biar dia nggak kemana-mana.


"Tapi kemarin lo nggak pa pa" wanita itu terlihat sedang beradu dalam pikirannya, "Udah disteril, udah dikasih obat. Malahan gue tambahin perban biar nggak kena kotor. Apa perbannya yang nggak steril ya, tapi masak sih."


Selesai bergulat dengan pikirannya sendiri, Khanza bertanya ke gue, "Emang keluhan lo apa? Sakitnya nyeri, apa perih, apa gimana?"


Kaki gue kembali diamati, "Apa tulangnya ya. Coba gue tekan gini kerasa sakit nggak?"


Saatnya berakting, "Aduh.. "


"Sakit ya?"


Gue mengangguk, tidak lupa memasang wajah sememelas mungkin.


"Wah, kalau kayak gini nggak ada cara lain. Kaki lo harus diamputasi"


"Hah? Amputasi?"

__ADS_1


"Iya. Kalau bisa secepatnya. Gue hubungin dulu rumah sakit di kota. Kalau-kalau ada dokter bedah"


"Eh bentar.. bentar"


Ups, gue lupa. Gue kan lagi berakting kakinya sakit. Malah tiba-tiba berdiri ngambil ponsel di tangan Khanza. Jadi ketahuan kan boongnya.


Bu dokter menatap gue tajam. Dia menyilangkan tangan di depan dada. "Sudah gue duga. Lo boong kan?" Jari telunjuknya kini mengacung tepat ke wajah gue.


"Eh aduh... sakit ini.. sakit" Gue berakting lagi. Tapi terlambat Kendra, lo nggak berbakat jadi bintang film.


"Nggak usah akting. Gue udah tau ya kalau lo cuma boong. Dasar tukang boong..tukang boong..tukang boong!"


"Aw..aduh.. Sa.. stop... sakit.. aduh"


Gila tabokkanya mantep banget. Kalau cowok udah gue keluarin nih jurus pencak silat gue, tapi masak ya gue mau gulat sama cewek.


Aha! Gue punya ide.


Saatnya mempraktekan adegan-adegan drama Korea yang sering muncul di laptopnya adek gue. Tangkap tangannya, olengkan keseimbangannya, dan jatuhkan di ranjang terdekat. O iya, tidak lupa gue tindih dari atas.. Tuh kan, berhenti dianya.


Tapi..tapi..


Kok jadi jantung gue yang disko kek gini.


Gila... nih cewek cantik banget. Dari atas gini gue bisa liat dengan jelas wajahnya yang begitu menawan. Kulitnya putih berseri. Hidungnya mancung kek perosotan. Dan matanya.. oh matanya... kenapa harus natep gue sayu kek gitu. Rambutnya tergerai berantakan. Belum lagi bibir tipisnya yang merah menggoda. Dadanya bergerak naik turun seiring dengan hembusan nafasnya. Begitupun leher jenjang yang tersaji begitu nikmat dan nyata.


Seperti tertarik magnet, wajah gue mendekat dengan sendirinya.  Dekat dan semakin mendekat. Hampir tidak ada lagi jarak antara bibir gue dan bibirnya. Mata kita sama-sama terpejam. Namun tiba-tiba saja sebuah kalimat keluar dari mulutnya, "Kan cuma temen. Nggak boleh ciuman"


Mampus.

__ADS_1


Jadi ini yang dinamakan bom bunuh diri?



__ADS_2