
Gue mengunci pandangannya hingga dia berbalik menatap lurus ke arah gue. Wajah gue bergerak maju, semakin mengikis jarak antara bibirnya dan bibir gue. Gue memejamkan mata. Detak jantung gue sama berdebarnya dengan detak jatung lelaki yang kini terbaring di bawah gue. Ketika kulit bibir kita sudah saling bersentuhan, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dari dalam kamar Malahar. Kita sama-sama kaget. Kendra buru-buru menggeser tubuh gue ke samping dan berlari ke sumber suara.
Sial, padahal tinggal lumat aja tadi. Aish, bibir tebel seksi yang jago ngemut.. kapan lagi gue bisa dienakin lo..
Gue masih dongkol di pojokan ketika Kendra tanpa rasa bersalah mondar-madir di depan gue menenangkan Kalere dalam gendongannya.
Enak banget sih tuh bayi bisa gelendotan di lengan kekarnya mamas. Gue kan juga pengen..
"Sa, coba lo periksa Kalere deh. Jangan-jangan dia juga sakit. Nangis terus dari tadi"
Walaupun dongkol, tetep aja gue nggak bisa mengingkari sumpah dokter yang pernah gue ucapkan dulu. Harus tetap mengabdikan diri untuk menolong orang tanpa pandang bulu. Akhirnya, gue cek dahi, lidah, dan bola matanya. Nggak ada yang mencurigakan.
"Jadi gimana?" tanya si seksi nggak sabaran, "Kalere sakit apa?" lanjutnya.
"Nama penyakitnya laper" ucap gue dengan nada kesal, memberi tekanan pada kata terakhir.
"Oh laper" Kendra celingukan mencari-cari sesuatu di dalam rumah. "Tidak ada susu" lontarnya. Kemudian dia membuka-buka isi tas, menemukan roti kering yang biasa dikonsumsi tentara saat dalam konsisi darurat.
Dengan merendamnya dalam air, roti itu kini berteksur seperti bubur dan siap disuapkan ke mulut si kecil. Gue cuma liatin dari jauh gimana telatennya pak tentara ganteng ngurusin si bebi kecil. Bocah itu makan dengan lahap. Sampai-sampai mulut dan pipinya kotor belepotan makanan. Tanpa rasa jijik si mamas ganteng membersihkan sisa makanan itu dengan jarinya.
Setelah makananya habis, si kecil yang masih berada dalam gendongan Kendra tiba-tiba buang air kecil. Rasain lo, dipipisin kan sama tuh anak. Sampai-sampai bajunya basah. Untung nggak sampai ke celana.
Tapi Kendra sama sekali tidak mempermasalahkannya. Dia terlihat tidak terganggu sama sekali. Malahan dia menggantikan celana Karele dan membersihkan pantatnya tanpa rasa jijik. Bapakable banget sih ini orang. Jantung hati gue kan berasa tercubit. Kalau kayak gini terus, bisa-bisa gue bener-bener tergila-gila sama dia.
__ADS_1
"Sa, bisa minta tolong cariin tissue basah di tas?"
Tanpa banyak protes gue lakuin apa yang Kendra suruh.
"Lo cekatan banget sih ngurusin anak kecil" celoteh gue sambil mengulungkan bungkus berwarna biru muda itu.
"Gue ini kan pelayan masyarakat. Nggak cuma dituntut bisa pegang senapan, tapi juga harus mengabdikan diri ke masyarakat. Setiap bulan pasti kita turun ke jalan buat bakti sosial. Entah itu gotong royong membangun kampung, mendistribusikan sembako, atau membantu orang tua dan anak-anak. Udah biasa kalau cuma ngurusin anak kecil mah"
"Lo nggak jijik kena pipis?"
"Kenapa harus jijik? Toh nanti juga bisa dibersihin."
Tangan si bapak tentara kayaknya nyaman banget deh. Baru di puk-puk bentar tuh anak langsung pules tidurnya.
Sekembalinya dari kamar, gue mengamati kaos hitam si seksi masih basah karena diompolin Kalere. "Buka baju lo" perintah gue.
"Eh.." lelaki itu mematung kebingungan. Tangganya dia silangkan ke depan dada.
"Nggak usah mikir macem-macem. Itu kaos lo kotor"
"Oh ini" setelah menyadari apa yang gue maksud dia segera menarik kaosnya ke atas. Ugh, perkasa banget sih tubuh si bapak, kotak di mana-mana. Rahim gue jadi anget kan.
Setelah Kendra melepas baju, gue mendekat dan membersihkan bagian tubuhnya yang terkena ompol Kalere dengan tissue basah. Dia berjengit merasa sedikit tidak nyaman.
__ADS_1
"Biar gue aja yang bersihin"
"Ish, lo diem aja deh"
Tangan gue emang lagi bersihin perutnya, tapi mata gue jelalatan kemana-mana.
Gue ketawa sendiri.
"Kenapa ketawa?"
"Tahi lalat lo lucu juga ya"
"Hah, lucu?"
"Iya. Kayak gajah gini"
"Masak sih?"
"Nih liat, tinggal kasih belalai kayak gini jadi gajah kan" jelas gue seraya mencubit perutnya membentuk garis seperti belalai.
"Eh, aduh" dia meringis kegelian.
"Ngomong-ngomong soal belalai, gue jadi pengen mainan belalai nih. He..he"
__ADS_1
Dan seketika, pria di hadapan gue berubah menjadi patung.