
Zhia berjalan bersama dua pelayannya menuju kolam ikan dimana ia dan para kakaknya serta ayahnya sering memancing jika tidak ada kegiatan mengenai kerajaan.
Ya, Zhia sekarang di beri pelayan untuk menemaninya kemanapun ia pergi, walau sempat menolak dengan berbagai macam alasan tetapi akhirnya gadis itu menerima kedua pelayan itu juga karena terus di ceramahi oleh ketiga ibunya.
Setelah mendapatkan ijin dari ketiga ibu itu untuk pergi memancing, tapi dengan pengawalan penuh karena ketiga wanita itu takut anak mereka berbuat nekat. Dan nanti juga kakaknya Jagir akan datang menemaninya setelah urusannya selesai.
Zhia dengan senang hati melangkah menyusuri lorong demi lorong dan jalan demi jalan menuju tempat yang penuh kenangan itu. Nanti setelah acara pertunangan selesai maka sehari setelahnya Zhia akan di boyong langsung kekerajaan Sun, jadi sekarang gadis itu ingin memancing ikan untuk mengenang kebersamaannya bersama para saudaranya dan orang tuanya.
"Mungkin besok setelah acara pertunangan selesai aku harus mengajak yang lainnya juga untuk memancing, lalu membakar ikan juga di sana" gumam Zhia tersenyum cerah memikirkan idenya itu.
Pelayan yang bersamanya hanya tersenyum saja mendengar ucapan tuan putri mereka. Walau putri kesayangan, Zhia bukanlah gadis yang sombong dan angkuh. Walau jarang berbincang dengan pelayan atau hanya sekedar menyuruh mereka.
Zhia lebih suka melakukan segala hal yang ia bisa sendiri, dari mulai hal kecil hingga besar akan ia kerjakan sedirian tanpa meminta bantuan pelayan. Terkecuali sesuatu yang sangat tidak mungkin di lakukan sendiri barulah Zhia akan meminta tolong dan ikut mengerjakan, bukan hanya sekedar menyuruh lalu duduk enak-enakan memerintah.
Senyum yang tadi terlihat manis dan membuat pelayan dan pengawal yang menemaninya ikut tersenyum itu hilang seketika. Dan bergantik dengan wajah juteknya yang nampak malas bertemu dengan orang yang bersisihan lewat dengannya.
"Coba lihat siapa ini? calon Ratu Kerajaan Sun kita ada disini rupanya" ucap Wiya sinis dengan wajah angkuh dan sombongnya itu.
"Dan calon adik sepupu iparku juga ada di sini!" sahut Zhia santai namun tetap terlihat juteknya.
"Siapa yang mau menjadi adik sepupu iparmu hah? mimpi saja sana" sombong Wiya.
"Siapa juga yang mau jadi calon Ratu di kerajaanmu hah? tidur dulu sana baru mimpi, jangan mimpi dulu baru tidur" Zhia tersenyum smirk melihat wajah kesal dan marah Wiya.
__ADS_1
Merasa ucapannya selalu di balikkan lagi kepadanya membuat Wiya kesal bukan main.
"Cih! tidak punya kalimat sendiri ya! bisanya cuma ngikuti orang aja" sinis Wiya.
Zhia tersenyum sinis balik pada Wiya hingga membuat wanita itu terlihat marah karena merasa di sepelekan.
"Kalimat apa nona Wiya? kalimat yang cocok untukmu itu 'kamu terlalu sombong jadi manusia' nah itu bagus untukmu, nanti sekalian pasang tulisannya pasang di punggung ya! tapi jangan 'kamu' kata pertamanya tapi 'aku' jadi semua orang akan langsung menjauhi karena hal itu, dan kalau masalah ngikutin kamu lihat sendirilah posisi berdiri kita bagaimana dan arah pergi kemana, lain kali kalau mau bicara itu di pikir dulu" sinis Zhia akhirnya berlalu pergi.
Malas rasanya terlalu lama meladeni wanita satu itu yang sudah jelas-jelas mengibarkan bendera perang padanya sejak semalam. Atau mungkin lebih tepatnya sejak awal kedatangan mereka pikir Zhia mengangkat kedua bahunya acuh.
Wiya yang kalah debat dan mendapat balasan telak akan ucapannya dari Zhia merasa sangat marah dan tidak terima. Dengan berjalan cepat ia menuju tempat di mana kedua orang tuanya berada, di vila bagian Selatan istana.
"Aku harus lakukan sesuatu untuk menjatuhkannya di hadapan bibi dan ayah ibu, supaya kehidupannya sulit di sana nantinya, tak akan ku biarkan orang lain mengambil kakak sepupu apa lagi sampai menikah dengannya, aku tidak rela" gumam Wiya emosi.
Wiya sangat terobsesi dengan saudaranya sendiri yang merupakan anak pamannya, kakak dari ayahnya. Jika di urutkan dari garis keturunan maka Wiya termasuk keturunan langsung dan resmi juga dari keturunan kerajaan Sun. Namun karena ketampanan sang kakak sepupu yang tiada tandingannya bagi dirinya yang sudah banyak mengenal pria di dalam dan luar istana juga kerajaan Sun.
Wiya juga tidak segan-segan membunuh para wanita yang mendekati Raja Bhian kalau sampai berani melawannya. Apa lagi kebanyakan wanita itu anak para bangsawan di kerajaan mereka, maka wanita itu akan terbunuh lalu di buang ke jalanan sepi untuk mengalihkan perhatian bahwa wanita itu di rampok lalu di bunuh.
Sedangkan dari kalangan para putri kerajaan akan ia gertak dan takut-takuti habis-habisan jika berani melirik Raja Bhian. Tapi dengan Zhia ini sepertinya Wiya harus menggunakan cara lain untuk menjauhkannya dari kakak sepupunya.
Dilihat Wiya hanya ada bibinya saja di sana, sedangkan kedua orang tuanya tidak ada. Kemana ibu sama ayah? pikirnya.
Wanita itu mendekati bibinya dan duduk di dekatnya. Wiya memulai sandiwaranya untuk meyakinkan bibinya.
__ADS_1
"Bibi" panggilnya membuat wanita paruh baya yang sedang memegang kotak berukuran sedang namun dengan ukiran khas kerajaan mereka menoleh.
"Wiya! kenapa?" tanyanya menoleh sejenak sebelum kembali sibuk dengan beberapa kotak lainnya di hadapannya, juga ada yang di dekat kakinya.
"Itu apa bibi?" tanya Wiya penasaran.
"Ini untuk acara pertunangan Bhian dan Zhia besok" sahut Ibu Suri sembari memeriksa isi kotak-kotak itu yang ternyata berisi beberapa perhiasan dan gaun yang sangat indah.
Bukan cuma satu gaun indah yang akan di berikan, tapi ada 3 gaun indah yang sangat di inginkan para wanita. Gaun yang terbuat dari sutra super lembut dan mahal, bertabur berlian kualitas unggulan dan hanya ada di kerajaan Sun. Bahkan untuk mendapatkan sedikit permata saja setiap orang harus memenuhi syarat untuk kepemilikannya.
Semakin meradanglah Wiya melihat hal itu, ia harus segera melancarkan aksinya untuk membuat Zhia di benci oleh keluarganya bahkan seluruh orang di istana.
"Apa bibi yakin akan menikahkan kakak sepupu dengan wanita itu?" tanya Wiya dengan wajah kagetnya.
"Kenapa?" tanya ibu Suri lagi seakan tidak perduli dengan pertanyaan keponakan suaminya itu yang pasti akan memulia drama seperti biasa jika ada sesuatu yang tidak di sukainya.
"Sepertinya dia bukan wanita yang baik bibi, tadi saja dia sudah berkata tidak sopan padaku bahkan menghinaku" raut wajah Wiya berubah sedih tapi tidak menarik perhatian wanita yang sedang semangat itu.
"Benarkah!" seru ibu Suri menatap sejenak Wiya yang mulai meneteskan air mata.
"Iya bibi, tadi dia mengikuti aku saat akan ke sini lalu dia mengatakan kata-kata tidak pantas yang tidak seharusnya di ucapkan oleh seorang tuan putri" lirihnya dengan wajah meyakinkan.
"Jangan nikahkan kakak sepupu dengannya bibi, nanti yang ada nama baik kakak sepupu sebagai Raja paling berkuasa akan hancur dan rusak, bahkan bisa saja berdampak pada nama baik kerajaan" lanjutnya.
__ADS_1
Ibu Suri mengangguk lalu mengatakan sesuatu yang malah semakin membuat Wiya meradang tidak terima. Tapi ia tidak berani memaki dan marah-marah, harus tetap terlihat baik di depan bibinya yang tak lain ibu kandung dari orang yang di cintainya.
"Kalau begitu bibi akan bicaran pada orang tuanya agar mempercepat pernikahan mereka nanti setelah pertunangan" santai ibu Suri tanpa tahu ada hati yang sedang meradang.