
"Ya karena dia hanya anak penipu yang berambisi meraih bulan dengan segala cara" ucapan Raja Bhian semakin membuat Zhia tidak paham.
Sedangkan para wanita lain yang mendengar kata anak penipu membuat mereka menatap sinis dan benci pada Ruican.
"Maksud kamu Jendral itu penipu begitu? trus dia ini ikut pertandingan karena mau jadi Permaisuri atau jadi Ratu karena tadi dia sempat bilang mau mengakhiri hidupku" kata Zhia mencoba mencocokkan ucapan Raja Bhian dengan apa yang tadi di katakan Ruican.
"Saya lah yang sudah tertipu Tuan Putri" ucap seseorang dari arah lain yang menarik perhatian mereka.
Dari arah masuk terlihat Panglima Qai berjalan bersama seorang pria yang lebih tua dan prajurit mengikuti mereka. Mereka sudah mendekati arena dan naik mendekati Raja Bhian dan Zhia berada.
Tatapan pria tua yang ternyata Jendral Loican itu begitu tajam dan marah menatap wanita yang terdiam kaku di sana.
"Siapa kamu berani-beraninya memakai namaku?" geram Jendral Loican.
Raja Bhian menendang kaki Ruican pelan yang seketika itu pula tubuhnya bisa kembali normal dan tidak kaku lagi. Raja Bhian menarik Zhia kebelakang tubuhnya untuk menghindari serangan dari wanita di depan mereka.
"Katakan pada kami semua apa alasan kamu melakukan penipuan" ucap Panglima Qai tegas.
Ruican menatap sinis orang-orang yang menatapnya penuh intimidasi. Seperti tidak memiliki rasa takut apa lagi gentar dengan keberadaan orang-orang itu, Ruican malah terlihat menantang.
"Tanyakan saja pada si tua itu kenapa semua ini bisa terjadi" tunjuknya lada Jendral Loican yang tentu saja kaget karena di jadikan sasaran kesalahan padahal dirinya saja tidak tahu apapun kalau saja Panglima Qai tidak menjemputnya dan menceritakan semuanya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan dan mencari alasan, saya saja tidak mengenalmu lalu kenapa harus saya yang bertanggung jawab" ucap Jendral Loican.
Ruican menatap tajam dan penuh kebencian Jendral di depannya. Rasa sakit terlihat jelas di matanya begitupun dengan dendam yang tersimpan di hatinya.
"Kamu!" tunjuknya lagi pada Jendral Loican penuh amarah.
__ADS_1
"Karena perbuatanmu ayahku tewas, karena perbuatanmu juga ibuku tewas, karena perbuatanmu juga keluargaku hancur, maka dari itu aku juga harus menghancurkanmu" marah Rui penuh dendam.
"Tapi untuk bisa mencapai keinginaku menghancurkanmu maka aku butuh sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang lebih tinggi dan hebat darimu dan yang pastinya memiliki dukungan lebih hebat darimu, itu sebabnya saat aku mendengar kalau istana membuka pendaftaran mencari calon Selir dan Permaisuri aku ikut dengan membawa namamu sebagai akses, dengan begitu aku bisa masuk dengan mudah"
"Dan setelah ku pikir-pikir posisi Ratu akan lebih tinggi lagi dan lebih baik untuk bisa menghancurkan keluargamu dan dirimu, itu sebabnya aku melakukan semua ini dan menghabisi Putri Zhia akan membuatku menjadi penggantinya sebagai calon Ratu dengan begitu selangkah lagi rencanaku akan berhasil untuk menghancurkanmu" teriak Rui.
Semua tidak habis pikir dengan apa yang di ucapkan oleh Rui nama asli wanita itu tanpa ada tambahan Can di belakangnya yang sengaja di tambahinya sendiri untuk mempermudah langkahnya.
Sedangkan Jendral Loican bingung dengan maksud wanita di depannya, keluarga mana pula yang sudah di hancurkannya sepertinya tidak ada keluarga yang di hancurkan pikirnya.
Zhia memunculkan kepalanya dari bawah ketiak Raja Bhian karena dirinya yang tidak bisa menampakkan diri akibat di tanah calon suaminya agar tidak keluar dari belakang tubuhnya. Jadi Zhia menerobos dari bawah ketiak saja supaya bisa melihat situasi di depan mereka.
Raja Bhian yang merasakan tangannya di angkat dan sesuatu yang muncul dari bawah ketiaknya langsung melihat dan mendapati Zhia di sana melihat kedepan dengan serius. Pria itu hanya bisa geleng kepala kecil akan kelakuan aneh Zhia tapi tidak melarang dan di biarkan saja.
"Bisa jelaskan keluarga mana yang kamu maksud itu?" ucap Panglima Qai penasaran dengan akhir dari maksud wanita di depannya.
"Keluargaku!" tunjuknya pada diri sendiri.
"Keluarga bangsawan Mae! ayahku di bunuh olehnya bersama semua pasukannya, begitupun dengan pasukan ayahku yang di bantai tanpa tersisa, ibuku bunuh diri karena tidak terima dengan kematian ayahku sedangkan aku tidak akan tinggal diam dengan semua itu, aku menyimpan dendam selama bertahun-tahun dan akhirnya kesempatan itu datang"
"Tapi siapa yang menyangka kalau ternyata semuanya di ketahui dengan cepat dan Putri Raja yang ku kira lemah itu ternyata kuat juga, heh tadinya aku sudah menganggap remeh dirimu dan beranggapan pasti mudah membunuhmu tapi ternayat aku salah" kekehnya miris.
Jendral Loican nampak berpikir sejenak lalu menggeleng.
"Sepertinya anda salah orang nona" ucap Jendral Loican.
"Apa maksudmu hah? jelas-jelas aku melihat sendiri kalau itu pasukanmu dan kamu membunuh ayahku" teriak Rui melemparkan senjata rahasianya diam-diam pada Jendral Loican.
__ADS_1
Panglima Qai yang sudah mengawasi gerak gerik wanita yang sedang marah itupun bergerak cepat menarik Jendrla Loican kearahnya lalu dengan cepat pula meringkus Rui dan menahannya.
"Lepaskan aku lepaskan aku.." teriaknya.
"Diam! kamu sangat berisik" Panglima Qai membungkam mulut Rui dengan satu tangannya sedangkan tangan yang lainnya menahan tangan wanita itu.
Prajurit naik dan mengambil alih tubuh wanita pemberontak itu.
"Dengarlah nona! keluargamu itu bukan di bunuh olehku tapi oleh pasukan pemberontak yang sudah menolongmu lalu menanamkan kebencian di hatimu padaku, padahal sesungguhnya merekalah yang sudah menghabisi keluargamu dan memperalat dirimu untuk menghancurkanku" jelas Jendral Loican.
"Kamu penipu, penipu... aku tidak percaya dengan ucapanmu, mereka yang menyelamatkanku adalah orang-orang baik" teriak Rui marah.
Raja Bhian yang sudah muak melihat kejadian di depannya pun melambaikan tangannya memerintahkan prajurit membawa Rui ketahanan. Nanti akan di proses oleh pihak hakim untuk kelanjutannya.
Rui terus berteriak tidak terima dengan apa yang di dapatkannya. Bukannya berhasil balas dendam atau membunuh Zhia dan menjadi calon Ratu pengganti, dirinya malah di bui.
Setelah kepergia Rui, kini Raja Bhian menatap para wanita yang menjadi peserta di pertandingan dengan wajah dinginnya.
"Pertandingan selesai, besok kalian bisa kembali ke rumah masing-masing, kasim akan memberi kalian hadiah pertandingan, satu hal yang perlu kalian ingat baik-baik" Raja Bhain menatap tajam semua wanita itu.
"Tidak akan pernah ada Selir maupun Permaisuri di kerajaan maupun istana ini, hanya ada satu wanita yang akan di akui sebagai seorang Ratu di kerajaan ini yaitu Putri Zhia yang merupakan calon istriku" tegasnya.
Setelah mengatakan itu Raja Bhian memeluk Zhia yang masih di ketiaknya dan membawa gadis itu pergi meninggalkan area pertandingan yang nantinya akan langsung di bereskan oleh para panitianya.
"Jelaskan semua padaku Jendral" ucap Raja Bhian yang masih ingin mendengar dengan jelas semua masalah yang terjadi hingga mengancam nyawa calon istri tercintanya.
"Baik Yang Mulia" sahut Jendral Loican menunduk memberi hormat lalu mengikuti langkah Raja nya.
__ADS_1