Calon Ratu

Calon Ratu
11


__ADS_3

Hari ini segala persiapan sudah hampir selesai karena besok pagi menjelang siang acara pertunangan akan di langsungkan. Tidak mengundang kerajaan tetangga, hanya perayaan untuk kalangan kerajaan Month saja.


Seluruh rakyatnya juga ikut merasakan suka cita dari kebahagian di dalam istana itu. Raja Hilla sangat baik dan adil pada rakyat hingga membuat rakyat sangat mencintai Raja mereka beserta seluruh keluarganya. Dan nanti sore setelah perayaan yang di adakan di daerah masing-masing, rakyat juga berkesempatan untuk melihat Putri kerajaan yang sering mereka dengar namanya, namun tidak banyak yang tahu rupa wajahnya.


Mereka hanya mendengar dari mulut kemulut yang bersumber dari beberapa putri bangsawan yang pernah melihat dan bertemu sapa langsung dengan Zhia. Hingga akhirnya nama dan keramahan Zhia sangat di kenal oleh rakyat bahkan sangat di kagumi.


Sedangkan orang yang menjadi topik hangat perbincangan rakyat sedang bersantai di rumah pohon sederhananya tanpa perduli dengan ucapan dan bisik-bisik orang- orang. Tadi Zhia ijin pada ayahnya untuk di perbolehkan ke taman di belakamg kamarnya.


Karena sekarang Zhia harus ijin dulu pada orang tua atau kakak-kakaknya jika akan meninggalkan kamar atau ke suatu tempat. Kebetupan tadi ayahnya menghampirinya di kamar untuk mepihat putri kesayangannya itu.


Dan di situ pula Zhia mengatakan keinginannya untuk ketaman. Tentu saja ayahnya mengijinkan, ayahnya sangat berbeda dengan para ibunya yang lebih keras dan ketat peraturannya pada Zhia, sedangkan ayahnya memang lebih memanjakan Zhia dengan mengijinkan apapun yang di inginkan anak gadisnya. Jadi mudha saja bagi Zhia untuk mendapatkan apa yang ia mau meskipun saat para ibu sudah berultimatum ayahnya akan diam saja selama itu baik.


Sedang santainya menikmati semilir angin di atas pohon sembari memakan buah-buahan yang tadi di bawanya. Zhia tidak menyadari kalau di bawah sana sudah ada seseorang yang merupakan calon tunangannya sedang menatap dirinya.


Raja Bhian menggelengkan kepalanya melihat betapa santainya Zhia duduk di atas sembari menyandar. Menatap tidak percaya akan tingkah mengejutkan Zhia yang lainnya.


Raja muda itu menghentakkan kakinya kebumi sebanyak tiga kali, hingga tak lama muncullah seekor burung besar yang terbang memutari pohon tempat Zhia bersantai. Tentu saja gadis itu terperanjat kaget mendapati hal itu, merasa aneh karena ada burung besar di sana.


Setahunya taman belakang kamarnya ini tidak pernah di masuki burung atau binatang yang berukuran besar. Kalaupun ada burung hanya yang ukuran kecil saja, tapi dari mana datangnya leluhur burung ini pikir Zhia masih menatap tidak percaya burung besar yang semakin terbang rendah mendekat itu.


Dan alangkah kaget sekaligus kagumnya Zhia kala melihat ternyata kepala burung ini mirip dengan kepala naga hanya mulutnya tetap paruh. Zhia berniat naik keatas punggung burung aneh yang terbang sejajar dengannya itu.


tapi Zhia kalah cepat dengan seseorang yang sudah lebih dulu menaiki burung itu. Mata Zhia melotot tidak suka saat yang di lihat adalah orang yang besok akan bertunangan dengannya.


Raja Bhian tersenyum tipis melihat Zhia yang menghela napas panjang dan memalingkan wajahnya.


"Ikut tidak!" tawar Raja Bhian yang tahu Zhia sangat tertarik dengan tunggangannya ini.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara dan protes lagi Zhia langsung melompat kearah punggung burung besar itu. Niat hati ingin di belakang Raja Bhian, tapi Raja Bhian yang tahu hal itu bergerak cepat menangkap tubuh Zhia yang melompat dan menaruhnya di depan tubuhnya.


"Kok di depan sih! Zhia kan maunya di belakang" protes gadis itu akhirnya tidak terima.


Apa lagi posisi duduk mereka yang terasa intim karena saling menempel. Bahkan punggung Zhia terasa bersandar di dada Raja Bhian.


"Tenanglah, kamu belum pernah menaiki ini jadi duduk diam di depan" ucap Raja Bhian santai lalu menepuk tubuh burung besar itu sebagai tanda agar segera terbang.


Burung itu membawa tubuh tuannya dan sang calon istri naik ke atas hingga berada lebih tinggi dari bangunan istana. Dari atas Zhia dapat melihat betapa sibuknya istana hari ini , terluhat dari orang-orang yang sibuk ke sana kemari membawa sesuatu dan membuat sesuatu di halaman istana.


Pemandangan indah itu tentu saja membuat mata Zhia berbinar senang dan sangat bahagia. Senyum manisnya dan menawannya bahkan tidak hilang dari wajahnya. Senyuman yang biasanya di lihat oleh keluarganya saja kini dapat di lihat langsung oleh Raja Bhian dari belakang.


"Mau mengelilingi istana ini!" tawar Raja Bhian lagi menatap intens wajah Zhia yang sangat cantik itu.


"Tentu, dan bisakah kita sedikit turun lagi supaya aku dapat melihat lebih jelas yang ada di bawah sana" pinta Zhia tanpa mengalihkan pandangannya.


"Nae! terbanglah lebih rendah" ucap Raja Bhian.


Zhia menatap ke belakang saat mendengar Raja Bhian menyebutkan satu nama, tapi bukan namanya.


"Apa itu nama leluhur burung ini?" tanya Zhia penasaran yang justru membuat Raja Bhian menatapnya dengan kening mengkerut.


"Leluhur burung?" herannya.


"Iya, burung ini sangat besar, apa burung ini ibu semua burung atau ayahnya?" tanya Zhia dengan wajah polos yang mengemaskan.


Raja Bhian berdehem sejenak untuk menyadarkan dirinya agar tidak semakin gemas dengan Zhia. Pertanyaan polos itu benar-benar menggemaskan bagi Raja Bhian. Bagaimana mungkin ibu atau ayahnya sebesar ini sedangkan anak-anaknya sangat kecil, tidak mungkinkan batin Raja muda itu geleng kepala.

__ADS_1


"Lihat! itu ayah mertua" tunjuk Raja Bhia ke bawah di mana di sana memang benar ada Raja Hilla yang sedang berdiri bersama keempat anaknya, dan jangan lupakan juga Perdana Mentri Ji yang turut di sana.


Entah apa yang mereka bahas di bawah sana hingga terlihat serius. Karena posisi mereka yang di lapangan luas membuat burung Nae bisa lebih terbang lebih rendah lagi.


"Ayaahhh, kakaaakkk" teriak Zhia melihat kebawah seraya melambaikan kedua tangannya menyapa orang-orang di bawah sana.


"Ayaahhhh kakakkkk" teriak Zhia lagi hingga orang-orang yang di bawah mulai mencari sumber suara itu.


"Lihat! mereka mungkin mengira Zhia ada di bawah" taw Zhia saat mendapati yang di panggilnya melihat ke sekliling mereka mencari sumber suara Zhia.


Bajkan Ballu dan Jagar berniat untuk bergerak mencari Zhia di taman karena takut terjadi sesuatu. Zhai kembali memanggil mereka hingga akhirnya Perdana Menteri Ji menunjuk kearah atas di mana ada Zhia dan keponakannya di atas sedang terbang semakin rendah, tapi tidak sampai membuat hiasan di bawah rusak karena burung itu terbang setinggi menara jaga di gerbang utama istana.


"Ayaahh kakak, paman, Zhia terbang" ucap Zhia dengan wajah yang benar-benar terlihat sangat bahagia dengan senyum dan tawa yang sangat lepas.


Sederhana memang kebahagiaan bagi seorang Zhia. Cukup memberinya alat latihan bagus seperti pedang atau panah, ia sudah snagat bahagia. Bahkan di beri kuda bagus yang tangguh saja Zhia sudah kegirangan, apa lagi ini malah di bawa terbang keliling istana seperti itu.


Pastilah gadis cantik itu sangat bahagia dan senang sekali. Setelah semua pergerakan sedikit di tahan oleh para ibu, kini Zhia merasa lebih bebas dan bahagia saat bisa terbang.


"Ayo terbang lebih tinggi!" ajak Zhia menatap Raja Bhian dengan senyum lebarnya juga tatapn mata bahagia.


Pria tampan itu memlas senyuman Zhia tak kalah lebar untuk yang pertama kalinya dan segera memerintahkan burung Nae untuk terbang lebih tinggi tapi tetap di kawasan istana.


Pasangan yang besok akan bertunangan itu tertawa lepas bersama dan terlihat sangat bahagia. Seakan tidak memiliki masalah dan beban. Mereka merasakan perasaan bebas yang sesungguhnya tanpa memikirkan hal lainnya saat ini.


"Bisakah besok kita naik leluhur burung ini saja besok saat mengelilingi kerajaan?" tanya Zhia sangat berharap.


"Sayangnya tidak bisa karena semua tenpat penyambutan bisa luluh lantak terkena angin kepakan sayap Nae" jelas Raja Bhian.

__ADS_1


Zhia sedikit ceberut mendengarnya tapi apa yang di katakan Raja Bhian memang benar adanya.


__ADS_2