Calon Ratu

Calon Ratu
19


__ADS_3

"Sekarang kita mau kemana?" tanya Raja Bhian masih menggandeng tangan Zhia.


"Kita jalan-jalan aja sekalian arah pulang" sahut Zhia melihat-lihat sekitar.


"Secepat itu kita kembali! setelah perjuangan kabur dari istana sampai saya tidak pakai alas kaki, sekarang kita jalan pulang" ucap Raja Bhian tidak percaya.


"Kalau kita tidak pulang, saat makan siang nanti kita tidak ada di istana bagian manapun, maka ibu akan menghukum kita nantinya" jelas Zhia.


"Itukan kamu, kalau saya mungkin tidak" sangkal Raja Bhian tidak percaya kalau ia akan di hukum juga.


Zhia menghela napas mendengar kepercayaan diri calon suaminya itu.


"Dengarnya cami, jangankan kamu yang masih muda, ayah saja kalau melakukan kesalahan akan mendapat hukuman, bahkan kalau menurut ayah sangat tidak manusiawi hukuman itu bagi seorang suami" ucap Zhia.


"Memangnya hukuman apa yang bisa sampai tidak manusiawi itu bagi seorang suami? dan apa itu cami?" tanya Raja muda itu penasaran dengan kening yang mengkerut dalam.


Zhia terkiki geli karena pertanyaan terakhir dari Raja Bhian.


"Yang mana dulu yang harus ku jawab?" tanya Zhia balik.


"Yang pertama bisa, yang kedua juga bisa" Raja Bhian menghela napas pelan.


"Kamu penasaran ya?" tanya Zhia lagi menatap pria di sampingnya yang begitu tinggi.


Raja Bhian nampak berpikir sejenak.


"Sedikit" sahutnya.


"Walau hanya sedikit tapi aku akan menjawab ke dua pertanyaan itu dengan satu syarat" tawar Zhia.


"Syarat apa?" alis Raja Bhian naik sebelah. Ada saja gadis di sampingnya ini dengan segala tingkahnya batin Raja Bhian.

__ADS_1


Zhia tersenyum senang dengan satu tangan yang bebas memegang lengan Raja Bhian sedikit erat meluapkan bahagianya.


"Sungguh!" Zhia memastikan.


Raja muda itu mengangguk pasti yang membuat Zhia langsung menariknya menuju salah satu toko penjual makanan. Raja Bhian hanya mengikuti saja kemana dirinya di tarik.


"Beliin ini" tunjuk Zhia pada makanan yang sedang di bakar.


"Ambillah berapa yang kamu mau" Zhia memekik girang mendengarnya dan langsung memesan.


"Beri saya dua puluh tusuk ya" pinta Zhia di sanggupi si pedagang dengan semangat seperti Zhia.


Setelah menunggu beberapa saat, Zhia pun mendapatkan apa yang di inginkannya.


"Ada lagi yang kamu mau?" tanya Raja Bhian lagi.


"Mau minuman itu" tunjuk Zhia lagi pada tempat yang lain.


Keduanya juga memesan minuman untuk menemani langkha mereka kembali ke istana. Raja Bhian juga ikut memakan makanan yang di beli Zhia. Hingga makanannya habis dan tinggal minuman milik Raja Bhian saja yang masih tersisa setengahnya.


"Sekarang jawab pertanyaanku tadi" tuntut Raja Bhian meminta jawaban atas pertanyaannya tadi.


Zhia membuang gelas minumannya dan kembali memegang lengan pria di sampingnya tanpa sadar. Seperti sudah terbiasa saat mereka di luar seperti ini sejak tadi yang selalu bergandengan tangan.


"Kalau ayah melakukan kesalahan, misalnya seperti tidak sengaja mengabaikan ketiga ibu atau salah satunya maka ayah akan di hukum dengan tidak boleh memasuki kamar salah satu dari mereka" ucap Zhia.


"Hanya karena itu?" heran Raja Bhian.


"Tidak hanya karena itu saja sih, setiap ayah melakukan kesalahan lain juga ayah akan mendapatkan hukuman seperti itu juga tambahan di diamkan oleh ketiga ibu kalau kesalahan ayah lumayan mengesalkan mereka"


"Kenapa begitu?" Raja Bhian benar-benar penasaran dengan keluarga calon istrinya ini. Apa lagi sistem kekeluargaannya yang berbeda dengan kerajaan lain.

__ADS_1


Biasanya kalau kerajaan lain memiliki satu istri sah saja yang di jadikan Ratu atau Permaisuri. Selebihnya akan di jadikan Selir atau Gundik saja, dan anak mereka juga mendapatkan perlakuan yang berbeda pula. Lain ibu lain perlakuan pada anak dan panggilan yang sesuai dengan status mereka di istana. Namun di kerajaan Month ini berbeda dengan yang lain, dimana ketiga istrinya menjadi istri sah dan yang paling tua menjadi Ratu sedangkan yang dua lagi menjadi Permaisuri.


Bahkan ketiganya terlihat akur dan kompak, keharmonisan yang tidak pernah di lihat di kerajaan manapun yang pernah di kunjungi oleh Raja Bhian kala mendapat udangan penting dari kerajaan tertentu. Bahkan para wanita itu terkesan saling menjatuhkan demi mendapatkan kedudukan dan kekuasaan yang lebih tinggi dari yang lain.


"Apanya?" tanya Zhia kurang paham dengan pertanyaan dari Raja Bhian.


"Maksudku, seorang suami wajar bukan melakukan kesalaham, apa lagi ayah mertua seorang pemimpin tertinggi di kerajaan besar ini, tentu saja ayah mertua memiliki banyak masalah lain pula yang tanpa sengaja terbawa sampai pada keluarganya" sahut Raja Bhian menjelaskan maksudnya.


Zhia mengangguk paham.


"Itu sudah menjadi kesepakatan mereka, masalah kerajaan tidak bisa di bawa dalam keluarga saat sedang santai dan berkumpul, kecuali kalau memang keadaan mendesak, apa lagi saat di ruang keluarga dan di ruang makan maka semua masalah kerajaan harus di lepaskan dulu agar waktu dengan keluarga juga tidak terganggu, kalau ayah ingin membahas masalah kerajaan maka ayah akan pergi keruang belajarnya bersmaa orang-orang yang paham akan itu dan untuk masalah lainnya, aku tidak tahu karena tidak pernah di beritahu sekaligus tidak mau tahu juga"


"Ayah juga tidak ingin kami para wanita terbebani dengan masalah kerajaan, kalau memang memerlukan bantuan para ibu saja ayah baru akan memanggil mereka ke ruang belajar ayah"


"Dan bukan cuma ayah saja yang akan mendapatkan hukuman seperti itu, tapi para ibu juga akan di diamkan kalau melakukan kesalahan untuk bisa merenungi kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi, hanya saja mereka tidak keluar dari kamar mereka kalau ayah baru terusir dari kamar mereka" Zhia terkikik kala membayangkan wajah sedih ayahnya saat di abaikan ketiga istrinya.


"Kenapa kesepakatannya saling mendiamkan?" tanya Raja Bhian lagi.


"Kata ibu Nila, saling mendiamkan untuk mencegah keributan yang tidak di inginkan dan supaya tidak ada orang lain yang tahu kalau mereka sedang ada masalah karena itu ranah pribadi mereka, dan aksi itu juga cuma bertahan satu hari saja, apa lagi kalau ayah sudah mengeluarkan jurus rayuan maut untuk ketiga ibu pasti mereka akan malu-malu kelinci mendengarnya" Zhia tertawa pelan mengingat masa-masa seperti itu.


Raja Bhian mulai mengangguk paham dengan cara keluarga calon istrinya ini dalam menjalin hubungan satu sama lain. Menghindari masalah lebih baik dair pada membuat masalah semakin besar dengan cara saling diam sesaat.


"Trus yang kedua?"


Zhia menatap Raja Bhian dengan kening berkerut dan kedua alis yang terangkat. Pertanda kalau gadis itu mencoba berpikir seraya bertanya 'pertanyaan apa'.


"Cami" ucap Raja Bhian menghela napas pelan, keasikan cerita tentang keluarganya membuat Zhia sedikit melupakan tentang itu.


Bukannya menjawab Zhia justru tertawa pelan lagi, ia merasa geli dengan apa yang akan ia katakan nantinya. Zhia mengayunkan jarinya meminta Raja Bhian untuk mendekat dan sedikit membungkuk. Akhirnya Raja Muda itu merapat dan merendahkan tinggi tubuhnya sejajar dengan Zhia.


"Cami 'CALON SUAMI' "

__ADS_1


Setelah membisikkan itu pada Raja Bhian, Zhia berjalan cepat meninggalkan pria itu yang nampak sedikit kaget. Tidak lama kemudian kesadarannya kembali dan ia segera menyusul langkah Zhia dan kembali bergandengan tangan, walau Zhia terus memalingkan wajahnya karena malu.


__ADS_2