Calon Ratu

Calon Ratu
43


__ADS_3

Zhia terlihat serius dalam melakukan apa yang di inginkannya. Pelayan hanya menunduk sembari melirik apa yang di lakukan oleh Zhia dengan perasaan tidak percaya kalau seorang Putri Raja mampu melakukan membuat bumbu masakan.


Mungkin putri Raja lainnya tidak akan sudi melakukan apa yang di lakukan Putri Zhia dan lebih memilih untuk memerintah pelayan menyiapkan apa yang mereka inginkan batin para pelayan dapur kagum pada Zhia yang terlihat lihai mengolah bumbu di hadapannya.


"Tuan Putri baranya apinya sudah siap, ada di depan" ucap pelayan dapur pria menunjuk arah luar dengan menggenggam telapak tangannya dan jempol sebagai penunjuknya.


Zhia mengangguk masih melumuri ikan di wadah dengan bumbu buatannya yang mengeluarkan aroma sedap. Sampai pelayan di belakangnya tergoda dengan bau bumbu yang masih mentah itu. Bagaimana nanti kalau sudah di bakar ikannya? pasti akan sangat enak kalau bau bumbunya saja begini batin mereka.


"Tolong bawa ini ke ketempat pembakarannya ya" ucap Zhia menyingkir untuk mencuci tangannya.


Setelahnya Raja Bhian dan Zhia keluar dari dapur di ikuti oleh pelayan dapur lainnya yang penasaran dengan hasil olahan dari tangan seorang putri Raja yang berkuasa kedua di kerajaan sebelah.


Zhia baru akan melakukan pembakaran pada ikan tapi di tahan oleh Raja Bhian.


"Tunggu!" tahannya memegang lengan Zhia.


"Kenapa?" tanya gadis itu heran.


"Biar mereka yang melakukannya, nanti kamu kena apinya bagaimana?" ucap Raja Bhian.


"Tapi kan..."


"Ssstt... jangan ada bantahan lagi" Raja Bhian menghentikan ucapan Zhia dengan satu jarinya berada di bibir gadis itu.


"Bakar ikannya" perintah pria itu pada pelayan dapur pria yang langsung mengangguk melaksanakannya.


Zhia baru akan membuka mulutnya lagi saat Raja Bhian memberikan kecupan di bibirnya yang akan bersuara. Hanya kecupan saja namun sedikit di tahan dan mampu membungkam gadis di sampingnya.

__ADS_1


Siapa yang tidak kaget kalau mendapat kecupan mendadak seperti itu, apa lagi di sana bukan hanya mereka berdua saja. Kini mereka berdua jadi tontonan orang di sekitar sana yang bengong karena kelakuan Raja mereka.


"Apa yang kalian lihat?" sentak Raja Bhian menyadari tatapan orang-orang.


Sontak saja sentakan itu membuat kaget dan mereka langsung beralih pada kesibukan masing-masing sembari berdehem kecil menetralkan kekagetan mereka.


Astaga, Yang Mulia mencium Putri Zhia batin mereka.


Pukulan di layangkan Zhia pada pria di sampingnya yang sangat tidak tahu malu. Bagaimana bisa dia melakukan itu di depan banyak orang batin Zhia kesal.


Sedangkan si pelaku tetap santai dengan wajah datarnya dan melihat pelayan membakar ikan.


"Yang Mulia!" panggil seorang prajurit.


"Ibu Suri sedang semedi dan beliau sempat berpesan kalau untuk sementara waktu tidak akan keluar dan kalau Putri Zhia mencari, beliau meminta maaf karena tidak bisa menemani" lanjutnya sembari menunduk.


Zhia menghela napas, padahal dirinya ingin sekali bertemu dan bercanda dengan wanita yang sudah seperti ibunya sendiri itu. Tapi mau bagaimana lagi kalau sedang tidak bisa di ganggu pikir Zhia.


Melihat Zhia yang nampak sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu dengan ibunya membuat Raja Bhian menghela napas pelan. Pria itu menarik tangan Zhia mendekati tempat yang sudah di siapkan pelayan untuk mereka yang sedikit jauh dari pembakaran.


"Ceritakan bagaimana tadi acaranya" pinta Raja Bhian untuk mengalihkan perasaan Zhia dari ketidak hadiran Ibu Suri.


"Tidak ada yang menarik dari acaranya, hanya ada beberapa bagian lucu saja" ucap Zhia dengan pandangan yang masih melihat ke arah pembakaran.


"Lucu bagaimana?" penasarannya.


"Kamu tahu Cami! tadi saat pertandingan berkuda mereka memakai gaun, padahal sudah tahu bertanding ala pria masa pakai gaun, jadi sewaktu mau naik kuda mereka kesusahan, bahkan ada yang menginjak bawah gaunnya sendiri sampai terjungkang jatuh, ada juga yang gaunnya robek sampai lutut, untung saja yang robek itu lapisan luar gaunnya saja" Zhia tertawa kala mengingat acara tadi.

__ADS_1


Saat di acara Zhia memang menahan tawanya agar tidak lepas karena menghargai para peserta yang memang bukan ahlinya di situ tapi tetap berusaha semampu mereka menjalaninya. Dan kini tawa yang sejak tadi tersimpan lepas semua saat di tanya bagaimana tentang acara yang sudah berlangsung.


"Lalu saat panahan berlangsung ada juga yang hampir malukai dirinya sendiri, padahal sudah di beritahu bagaiamana cara melakukan panahan dan kemana tujuannya tapi tetap saja masih ada yang melepaskan panahnya ke atas sampai jatuh di atas kepalanya, untung saja pelayan di belakangnya langsung menarik tubuhnya kalau tidak pasti sekarang dia sudah tinggal badan tanpa nyawa, dan pastinya kepalanya akan jadi bakso cucuk dengan anak panah di kepala" lagi Zhia tertawa lepas mengingat semua itu.


Raja Bhian hanya tersenyum melihat tawa lepas Zhia yang sangat indah untuk pandang. Dan sangat jarang terlihat, begitu merdu suara tawa bahagia Zhia itu bagi Raja Bhian. Memang kalau sudah saling cinta apapun akan terasa manis dan indah, bahkan hanya mendengar tawa bahagia pasangan saja sudha membuat hati senang dan kebahagiaan pasangan itu kebahagiaan kita juga.


Keduanya terus berbagi cerita kegiatan mereka pagi tadi hingga bertemu, sampai akhirnya pelayan datang membawa ikan bakar yang sudah matang beserta kecap manis asam buatan Zhia tadi.


"Wah sudah selesai ya" ucap Zhia senang melihat empat ekor ikan bakar di letakkan di hadapannya.


"Ambil makanan di dalam tadi bawa sini" pelayan mengangguk dan mengambil makanan yang sudah mereka siapkan tadi.


Setelah semua makanan tersaji di atas karpet, aroma yang paling kuat dari semua itu adalah ikan bakar dengan bumbu buatan Zhia yang begitu menggugah selera mereka yang ada di sana. Apa lagi Raja Bhian yang langsung mengulurkan tangannya mengambil secuil daging ikan dan memakannya.


Kaget sudah pasti saat makanan itu masuk mulutnya dan di ecap lidahnya. Sangat enak dan pas batinnya.


Lagi, pria itu mengambil daging ikan lagi dan mencocolkannya ke kecap lalu di makan. Luar biasa rasanya batinnya lagi.


Dengan semangat Raja Bhian mengambil satu porsi ikan bakar dan di makan begitu saja tanpa nasi. Zhia yang melihat tingkah pria di sampingnya hanya diam dengan senyuman manisnya. Senang rasanya kalau ikan olahannya di sukai calon suami, ya walaupun bukan dirinya yang membakar tapi bumbu rahasia dari ibunya mampu menggoyang lidah Raja berkuasa hingga tidak buka suara ketika makan dan tidak menatapnya.


"Ambil ikan itu untuk kalian, tapi..."


"Tidak" sergah Raja Bhian cepat dan mengangkat wadah berisi dua ekor ikan bakar yang tersisa karena satunya sudah di ambil Zhia dan berada di piring lainnya. Maksud gadis itu pelayan yang sudah membantu di beri dua ikan lainnya untuk mereka tapi malah di larang oleh pria di sampingnya.


"Kenapa? biarkan itu untuk mereka" ucap Zhia heran melihat kelakuan pria dewasa di sampingnya.


"Kalian bakar lagi saja ikannya yang ini jangan, kalian di larang memakan olahan calon istri Raja kalian karena ini hanya boleh saya dan Putri saja yang makan, paham!" peringatan dari Raja Bhian untuk pelayan yang hendak di beri ikan tadi.

__ADS_1


"Paham Yang Mulia" sahut mereka pasrah, padahal tadi sudah senang karena dapat mencicipi makanan yang terlihat enak dengan aroma menggoda itu. Tapi kini setelah mendapatkan ultimatum dari sang Raja maka mereka tidak berani lagi.


Dari pada terkena masalah dari Raja jatuh cinta lebih baik diam saja batin mereka.


__ADS_2