
Raja Bhian dan Zhia kembali kepenginapan mereka untuk istirahat. Apa lagi tadi Zhia mengeluarkan sihirnya. Meski dirinya baik-baik saka dan masih bisa beraktifitas lainnya.
Namun Raja Bhian tidak mengijinkan Zhia banyak bergerak dan harus istirahat. Padahal Zhia ingin sekali ketempat di mana para gadis itu berada, tapi apalah daya kalau sang calon suami tidak mengijinkan.
"Ayolah Cami kita ke sana, hari bahkan masih siang" bujuk Zhia setelah mereka makan siang dan beristirahat.
Rasanya gadis itu sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana kondisi para gadis dan anak-anak yang katanya terkena penyakit menular itu.
"Tidak! kamu harus istirahat, besok baru kita kesana" tegas Raja Bhian menolak.
"Tapi penasarannya itu sekarang Cami" Zhia menatap Raja Bhian sambil melotot dengan gemas.
"Tunda dulu" sahut Raja Bhian dengan enteng.
"Kamu kira perjalanan apa pakai acara di tunda" gerutu Zhia memalingkan wajahnya ke arah lain.
Raja Bhian yang sejak tadi menekuni kertas laporan di depannya mengalihkan pandangan pada gadis di sampingnya yang sedang merengut kesal.
Keduanya sedang duduk di teras belakang penginapan.
Raja Bhian tersenyum tipis melihat Zhia yang entah menggerutukan apa sampai bibirnya bergerak-gerak sepeerti sedang memarahi seseorang tapi tidak ada suaranya.
Gemas dengan apa yang di lihatnya itu, Raja Bhian memegang dagu Zhia lalu mengarahkan wajah gadis itu menghadap dirinya. Setelahnya kecupan lembut di berikan Raja Bhian untuk Zhia yang langsung bungkam dari senam bibirnya.
"Apa sih kamu!" kata Zhia mendorong dada Raja Bhian agar sedikit menjauh setelah kecupannya terlepas.
"Cami itu gemas sama kamu Catri, kok bisa bibirnya gerak-gerak gitu tapi tidak ada suaranya, lagi latihan gerak bibir ya?" terkekeh lagi Raja Bhian.
Zhia menghembuskan napasnya kasar menatap kesal pria di sampingnya yang malah mengejeknya. Zhia bangkit dari duduknya hendak pergi meninggalkan Raj Bhian sendirian.
Tapi pria itu tidak membiarkan Zhia pergi begitu saja. Tangan Zhia di pegang lalu di hentakkan hingga tubuh Zhia jatuh kepangkuan Raja Bhian yang langsung memeluknya.
__ADS_1
"Lepas Cami!" Zhia berusaha melepaskan tangan yang mengikat tubuhnya hingga sulit bergerak.
"Coba saja kalau bisa" tantang Raja Bhian berbisik di telinga Zhia yang membuatnya merasa geli.
Zhia berusaha sekuat tenaganya melepaskan pelukan tangan Raja Bhian, tapi tidak kunjung bisa terlepas. Gadis itu menghela napas lelah yang malah di ketawai oleh Raja Bhian.
"Capek ya! cuma tangan loh ini" goda Raja Bhian menatap Zhia dengan senyunan geli.
"Walaupun cuma tangan tapi Cami pakai tenagakan! itu sebabnya tidak bisa di singkirkan" sewot Zhia.
"Tidak tuh! kamu saja yang tidak mau lepas dari pelukan Cami iya kan!" Zhia memutar bola matanya malas mendengar godaan dari pria yang memeluknya.
Tiba-tiba Zhia tersenyum miring melirik pria di belakangnya yang menatap heran dirinya. Dengan gerakan cepat Zhia menundukkan kepalanya lalu menggigit tangan Raja Bhian yang ada di bawah dagunya karena posisi pria itu memeluk Zhia, tangan kanan di perut dan tangan kiri melingkar di pundaknya bagian depan tepat di bawah dagu.
"Akhhh.." teriak Raja Bhian saat merasakan sakit di pergelangan tangannya akibat gigitan Zhia yang tak main-main sakitnya.
Zhia berdiri dan tersenyum puas melihat wajah kesakitan pria yang sejak tadi menggodanya. Sembari memegangi tangannya yang sakit, Raja Bhian berlalu masuk ke dalam penginapan tanpa melihat Zhia.
Tadi saat tiba di penginapan Raja Bhian sempat jatuh dari kuda karena Zhia yang terus berontak tidak ingin pulang kepenginapan. Zhia terus bergerak di atas kuda sebagai protes karena keinginannya tidak di turuti, alhasil Raja Bhian yang duduk di belakang menahan tubuh Zhia yang pecicilan jadi jatuh hingga telapak tangannya terkena batu tajam.
Raja Bhian tidak berteriak apa lagi mendesis kesakitan, bahkan saat Zhia mengobati lukanyapun pria itu tetap diam dengan wajah datarnya.
Kini Zhia merasa bersalah sudah menjadi penyebab pria itu dua kali tersakiti. Pertama karena dirinya yang pecicilan, kedua karena dengan kuatnya dia menggigit tangan Raja Bhian.
Zhia melangkahkan kakinya memasuki penginapan, mencari di mana keberadaan pria yang tadi di sakitinya.
"Apa kamu melihat Yang Mulia?" tanya Zhia pada prajurit yang berjaga di depan kamar mereka.
"Tidak tuan putri, Yang Mulia belum masuk ke dalam" sahut prajurit itu yang memang tidak melihat Rajanya datang.
Zhia memutar langkahnya menyusuri penginapan mencari di mana kira-kira pria itu berada. Sampai akhirnya Zhia menemukannya sedang duduk di tangga samping penginapan.
__ADS_1
Betapa jesalnya Zhia melihat apa yang ada didepan sana. Dengan langkah yang pasti Zhia mendekati dua orang yang tidak menyadari keberadaannya itu.
"Ini bekas apa Yang Mulia?" tanya wanita berpakaian seperti anak bangsawan itu.
Raja Bhian tidak menanggapi ucapan wanita itu dan masih sibuk melakukan sesuatu untuk menghilangkan rasa sakit dan merah di tangannya.
"Ijinkan saya membantu Yang Mulia" ucapnya lagi dengan suara yang lembut menggoda.
Zhia langsung memasang wajah ilpil mendengar suara wanita itu. Dimana-mana selalu ada yang seperti ini batin Zhia.
Wanita itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Raja Bhian yang sedang membuka tempat obat. Zhia berdiri di tengah-tengah tepat belakang kotak obat yang menjadi pembatas antara Raja Bhian dan wanita itu.
Wanita itu menghentikan gerakannya yang hendak menyentuh Raja Bhian. Sedangkan yang mau di sentuh maish belum menyadari keberadaan Zhia karena dia kembali ke mode masa bodonya akan wanita.
Apa lagi yang di sampingnya itu sejak kedatangannya tadi selalu bertanya dan mengganggu. Entah siapa dan apa maunya, Raja Bhian belum bertanya karena malas dan moodnya yang sedang anjlok.
"Wah wah wah siapa ini?" ucap Zhia menatap wanita yang duduk di bawahnya yang sudah mendongak melihat Zhia.
Wanita itu langsung merapatkan tubuhnya pada Raja Bhian dan memeluk lengan pria itu begitu saja.
"Saya kekasih Yang Mulia, siapa kamu?" wanita itu menatap sinis Zhia yang berwajah datar.
Raja Bhian mendorong wanita di sampingnya yang sembarangan mengaku sebagai kekasihnya. Padahal tadi dirinya duduk di situ sendirian untuk mencari perhatian dari Zhia dan supaya gadis itu minta maaf lalu menuruti keinginannya.
Tapi sekarang sepertinya keadaan akan berubah, bisa-bisa dirinya yang harus merayu Zhia yang ngambek dan mogok bicara gara-gara ucapan sembarangan wanita asing itu.
"Saya tidak kenal kamu" ucap Raja Bhian menatap tajam wanita yang terjengkang di bawah tangga akibat di dorong Raja Bhian tadi.
Pria itu sendiri langsung memegang tangan Zhia hendak membawanya pergi dari sana dan menjelaskan semuanya sebelum aksi mogok bicara di mulai.
Habislah sudah batin Raja Bhian saat Zhia menepis tangannya dan masih diam di tempat menatap wanita yang cemberut di bawah sembari berusaha berdiri.
__ADS_1