Calon Ratu

Calon Ratu
76


__ADS_3

Raja Bhian dan Zhia tiba di istana malam hari dengan menaiki burung Nae. Sengaja Raja Bhian tidak naik kereta kuda lagi karena takut kejadian sebelumnya terulang.


Sedangkan untuk Panglima Qai dan yang lainnya masih cukup jauh dari istana karena mereka yang kembali membawa kereta kuda istana yang kosong. Hanya dua pelayan Zhia dan barang-barang mereka saja yang ada di kereta kuda Istana itu.


Burung Nae langsung turun di halaman belakang kediaman utama tempat tinggal Raja Bhian dan Zhia. Bahkan tidak ada yang tahu kalau sang Raja sudah kembali bersama calon istrinya.


Hanya beberapa prajurit jaga kediaman utama saja yang mengetahui kembalinya sang Raja malam itu.


Prajurit itu menunduk hormat kala Raja Bhian rturun dadi burung Nae. Raja Bhian tidak menghiraukan prajuritnya dan malah mmebantu Zhia turun dengan menggendong gadis itu.


Karena sudah mengatuk Zhia langsung menyambut uluran tangan Raja Bhian dan menjatuhkan tubuhnya ke dalam gendongan pria itu yang tentunya menerima dengan sennag hati.


Zhia di gendong depan oleh Raja Bhian dengan kedua lengannya yang kokoh. Zhia mengalungkan kedua tangannya di leher Raja Bhian dan meletakkan kepalanya di pundak lalu memejamkan mata.


Sesampainya di kamar mereka Raja Bhian membaringkan Zhia di ranjang mereka dan ikut berbaring memejamkan mata.


Keesokan paginya Zhia bangun tapi belum membuka mata. Tubuhnya berputar menghadap kanan di mana Raja Bhian berada dan memeluk pria itu begitu saja. Raja Bhian sedang menatap klurus keatas dengan kedua tangan di belakang kepala langsung melihat ke arah Zhia yang nempel padanya.


"Nempel sendiri nanti marah sendiri" gumam Raja Bhian melihat Zhia yang memeluknya erat.


Sudah jadi kebiasaan Zhia yang kadang kalau tidur suka memeluknya dan nanti saat bangun akan marah menuduh Raja Bhian yang memeluknya.


Mendengar gumaman Raja Bhian membuat Zhia langsung mendorong tubuh pria itu hingga hampir terjatuh dari ranjang. Raja Bhian juga kaget dengan apa yang di lakukan Zhia itu.


"Kalau tidak mau di peluk ya sudah!" kesal Zhia bangkut dari Ranjang dan langsung pergi mandi.


Raja Bhian melongo melihat Zhia yang berwajah kesal dan menggerutu sendiri seraya pergi begitu saja.


"Baru juga di bilang tadi, udah kejadian" kata Raja Bhian geleng kepala lalu membenarkan posisinya yang di pinggir ranjang.


Berdiri juga dari ranjang dan menuju pemandian lainnya karena tubuhnya sudah merasa tidak nyaman.


Setelah beberapa saat kedua orang itu sudah selesai berpakaian dan melangkah keluar kamar besar mereka.


"Cami! pengen makan daging buruan" ucap Zhia melihat pria di sampingnya, melupakan kejadian tadi.

__ADS_1


"Nanti tanya kepala pelayan, harusnya daging kijang dan rusa yang ku minta waktu itu sudah di kirim" sahut Raja Bhian melihat Zhia.


Zhia mengangguk semangat dan langsung berjalan cepat menuju ruang makan. Di sana tidak ada apa-apa sata keduanya tiba di ruangan itu.


"Mana makanannya?" heran Zhia yang tidak mendapati apa-apa di sana.


"Apa mereka tidak menyiapkan makanan?" lanjutnya menatap Raja Bhian.


"Mungkin mereka tidak tahu kalau kita sudah kembali" kata Raja Bhian.


"Tapi kan tadi malam ada prajurit yang tahu kalau kita udah kembali, harusnya mereka kasih tahu kepala pelayan kan" ucap Zhia sedikit kesal karena sudah benar-benar lapar.


Raja Bhian memanggil prajurit yang tadi mengikuti mereka dan memerintahkan prajurit itu agar mengtakan pada kepala pelayan segera menyiapkan makanan.


"Jangan! aku mau ke sana aja langsung, sudah laper" cegah Zhia dan langsung berjalan begitu saja mendului raja Bhian yang menatapnya.


Tidak akan membiarkan Zhia pergi sendirian Raja Bhian pun mengikuti langkah gadis itu menuju dapur kediaman.


Semua nampak berjalan normal dan biasa saja, para pelayan yang bertugas membersihkan lingkungan kediaman utama pun bekerja dengan baik. Menunduk hormat kala melihat sang Raja dan calon Ratu mereka lewat.


"Kemana semua orang?" tanya Zhia bingung melihat dapur yang kosong.


Bahkan keadaan dapur itu sendiri nampak sedikit kotor dengan beberapa bekas makanan yang tumpah di lantai.


"Apa yang terjadi di sini?" tanya Zhia lagi dengan kening berkerut.


Gadis itu masuk semakin dalam dan melihat sekeliling dapur yang tidak bersih atau memang sengaja belum di bersihkan.


"Kemana kepala pelayan?" tanya Raja Bhian pada prajurit yang di belakangnya.


"Kepala pelayan masih ada di rumah pelayan Yang Mulia" sahut prajurit itu.


"Lalu pelayan dapur?" tanya Zhia pula.


"Mereka juga masih di sana tuan Putri" jawab prajurit itu menunduk.

__ADS_1


Zhia memicingkan kedua matanya menatap tajam prajurit yang ada di belakang Raja Bhian itu.


"Kenapa kau menunduk? wajahku ada di sini bukan di lantai" galak Zhia yang sudah benar-benar kesal karena lapar.


"Maaf tuan Putri" kata prajurit mengangkat kepala tapi pandangannya tetap ke bawah.


"Katakan apa terjadi di sini bila saya tidak ada!" tegas Raja Bhian menatap nyalang prajurit yang mengawalnya.


Mereka smeua menunduk takut.


"Sebenarnya kalau Yang Mulia tidak di istana semua pelayan dapur akan bangun siang Yang Mulia, mereka baru akan ke dapur untuk bersih-bersih saat menjalang sore, dan setelahnya tidak akan ke dapur lagi sampai Yang Mulia kembali" jelas prajurit itu.


"Lalu bagaimana dengan kepala pelayan? apa dia tidak memantau pekerjaan para pelayan? bahkan mereka di biarkan tidur sampai siang dan mengabaikan pekerjaannya" marah Zhia.


"Kepala pelayan tidak akan keluar dari rumah pelayan sebelum sore, saat keluar itu baru kepala pelayan akan mengecek semua pekerjaan, jika Yang Mulia tidak ada di kediaman maka kepala pelayan yang akan memerintah kami sesuka hatinya dan merasa berkuasa" sambung prajurit lainnya menunduk.


Zhia mendengus sangat kesal dan marah, perutnya sudah sangat lapar dan butuh asupan secepatnya. Tapi bukannya mendapatkan makanan dia malah mendengar kabar tidak mengenakkan ini.


"Panggil pelayan lain yang bisa masak! minta mereka masak apa saja untuk makan pagi ini, kamu!" tunjuk Zhia pada prajurit yang tadi menjelaskan apa yang terjadi di sana.


"Antar saya ke sana, mereka harus segera di bereskan agar tidak menular pada yang lainnya" Zhia menarik lengan bajunya dengan wajah kesal lalu berjalan keluar meninggalkan dapur.


Raja Bhian yang melihat wajah kesal dan marah Zhia geleng kepala. Ia lebih memilih ketempat lainnya dari pada mengikuti Zhia dan akan mendengar gadis itu marah-marah.


"Lapar bisa membuat orang jadi ganas dan menyeramkan" gumamnya sembari berlalu bersama beberapa prajurit lainnya.


Sedangkan Zhia melangkahkan kakinya dengan lebar dan cepat agar segera tiba di rumah pelayan yang berada di belakang kediaman utama tapi sedikit jauh.


Dapat Zhia lihat kondisi di depan rumah itu yang sepi karena para pelayan lain sedang bekerja. Tapi saat Zhia masuk ke dalam ada beberapa pelayan yang duduk santai sembari makan dengan lahapnya.


Melihat itu mata Zhia langsung menatap tajam yang malah membuat para pelayan itu tersedak.


"Mana kamar kepala pelayan dan para pelayan dapur?" tanya Zhia dengan wajah datar dan suara dinginnya yang membuat pelayan yang sedang makan tadi gemetar ketakutan.


"Di.. di ruangan yang itu tuan Putri, ruang kepala pelayan yang itu" tunjuk pelayan itu ke arah dua pintu ruangan yang berbeda dan cukup berjarak.

__ADS_1


Zhia mengepalkan kedua tangannya lalu melakukan menyatukan dua kepalan tangan itu dan di putar. Hal itu berhasil membuat pelayan yang makan semakin gemetara.


__ADS_2