
Hari kembali berganti dan memberi aktivitas baru bagi semua orang. Walaupun yang di kerjakan tetap urusan itu juga, namun selalu ada yang berbeda di setiap aktivitasnya.
"Kemana dia?" gumam Zhia melihat sekitarnya yang hanya tinggal dirinya sendiri di tempat tidur.
Zhia dan Raja Bhian memang tidur satu kamar dan satu kasur bersama. Tapi hanya tidur saja, tidak lebih dari itu. Karena Zhia yang tidak ingin ada sentuhan intim sebelum resmi menikah dan Raja Bhian menghargai keinginan Zhia itu, karena dirinya pun memiliki pemikiran yang sama sebenarnya.
Zhia berdiri dan melihat keluar dari jendela besar di kamarnya. Sinar matahari bahkan masih belum terlihat terang, tapi Cami nya sudah menghilang entah kemana.
"Terserah saja lah, mungkin ngurusin masalah kerajaan" gumam Zhia lagi berjalan kearah pemandian.
Sang ayah yang juga seorang Raja membuat Zhia paham akan kesibukan seorang pemimpin kerajaan. Itulah sebabnya Zhia tidak ingin ambil pusing akan hal itu.
"Ah air hangat memang sangat menenangkan untuk mandi di saat dingin pagi begini" Zhia mengambil posisi nyaman di dalam kolam pemandiannya.
Setengah jam kemudian Zhia keluar dari pemandian dan di lihatnya sudah ada pria yang di carinya tadi duduk di sana.
"Kamu sudah kembali!" Zhia masuk keruang ganti dan keluar setelah memakai pakaiannya.
"Kenapa tidak minta bantu mereka untuk menyiapkan keperluanmu?" tanya Raja Bhian melihat Zhia yang berjalan ke kursi riasnya di mana di sana sudah ada kedua pelayannya yang menunggu.
"Catri belum terbiasa di layani sampai hal-hal pribadi Cami, tapi kalau untuk hiasan begini tidak masalah" sahut Zhia santai sembari memperhatikan kedua pelayannya sedang membantunya menata rambut dan hiasan wajah.
"Ya seorang putri yang mandiri, tidak pernah mau di layani dan tidak pernah minta untuk di layani, sikap Catri yang berbeda dengan wanita lainnya membuat Cami yakin kalau Catri mau di bantuin berhias karena tidak bisa berhias sendiri kan!"
Zhia melirik tajam pada Raja bhian yang tersenyum tipis melihatnya dari cermin. Tapi Zhia tidak menyangkal ucapan pria itu karena apa yang di ucapkan Raja Bhian memang benar adanya kalau Zhia tidak bisa berhias.
Selesai berhias Zhia duduk di samping Raja Bhian yang sedang membaca sesuatu. Sedangkan kedua pelayan Zhia sudah keluar karena tugas mereka sudah selesai.
"Tadi dari mana?" tanya Zhia lagi.
__ADS_1
"Cuma keruang baca sebentar" sahut Raja Bhian.
"Hari ini Cami akan sibuk jadi tidak bisa menemani Catri" lanjut Raja Bhian lagi.
Zhia mengangguk mengerti dan masih mendengarkan apa yang akan di ucapkan pagi oleh pria di sampingnya.
"Apa ada sesuatu yang Catri inginkan?" Zhia nampak berpikir sejanak lalu mengangguk.
"Catri ingin naik kuda" ucap Zhia.
"Baiklah, nanti biar para pelayan dan prajurit yang mengantarkan ke sana, sekarang ayo kita pergi makan"
Keduanya keluar dari kamar dan menuju ruang makan di mana di sana sudah banyak di sediakan makanan seperti apa yang di perintahkan Raja Bhian. Sayur dan daging harus seimbang banyaknya agar Zhia bisa makan sayur juga, karena biasanya di kerajaan sang ayah Zhia sangat susah makan sayur jadi di sini calon suaminya akan memastikan gadis itu makan sayur yang cukup.
Tentu saja Zhia makan sayur lebih banyak dari biasanya, apa lagi mendapat ancaman tidak boleh naik kuda kalau tidak mau makan sayur. Jadilah Zhia menurut saja apa yang di katakan Cami nya itu. Terlebih ucapan ibu Zie yang masih di ingatnya 'turuti apa perintah pasangan kamu nak selagi itu baik dan tidak bertentangan dengan hati nurani kamu, karena tidak semua perintah pasangan kita itu buruk, malah kadang itu salah satu bentuk perhatian atau hal ada hal lainnya yang berhubungan dengan kebaikan kita'.
Zhia selalu mengingat semua ucapan dan nasehat dari keluarganya. Karena sudah pasti semua nasehat itu baik untuknya.
"Iya tuan Putri, kandang kuda ada dan tempat pacuan ada di sebelah Barat istana, tapi tempat kandang dan pacuan cukup berjarak juga" jelasnya.
"Kalau kuda Yang Mulia di tempatkan di mana?" tanya Zhia lagi.
"Di sana semua kuda milik Yang Mulia tuan Putri, hanya saja ada dua kuda ke sayangan Yang Mulia yang di pakai sendiri kalau yang lainnya masih bisa di pakaia orang lain jika datang kemari"
"Kalau begitu saya mau lihat yang itu saja"
Prajurit itu mengangguk saja dan berpikir mungkin hanya sekedar melihat. Tanpa di tahunya kalau Zhia sudah sangat senang karena akan menaiki kuda Cami nya, kalau kuda kak Ballu saja keren pasti miliknya juga keren pikir Zhia.
Sesampainya di kandang kuda, Zhia langsung di bawa ke tempat di mana kuda kesayangan Caminya berada.
__ADS_1
"Apa ini kuda-kuda kesayangan Yang Mulia?" tanya Zhia tersenyum senang.
"Iya tuan Putri, yang putih ini beliau gunakan untuk berlatih di tempat pacuan kalau yang hitam di gunakan untuk pergi perang atau ketempat lainnya" jelas prajurit itu.
"Kalau begitu..mari kita coba ketangguhanmu" ucap Zhia menunjuk kuda hitam yang nampak garang di depannya.
Para prajurit dan pelayan yang menemani Zhia kaget mendengar ucapan calon Ratu mereka itu. Apa lagi si pengurus kuda yang jelas tahu bagaimana sifat kedua kuda Raja nya yang tidak mau di sentuh oleh orang lain selain si pemilik.
Dirinya saja yang menguri setiap hari masih sering terkena tendangan atau libasan dari ekornya. Apa lagi gadis yang baru datang ini, apa dia cari mati pikir si pengurus kuda.
"Tapi tuan Putri, si hitam dan si putih tidak mau di dekati siapapun, mereka hanya mau dengan.."
Kalimat si pengurus kuda terhenti kala melihat Zhia sudah mengelus kepala si hitam dan si putih. Bahkan kedua kuda itu terlihat sangat patuh dan nyaman di elus oleh Zhia.
"Bagaimana bisa?" kaget mereka.
Tanpa perduli dengan wajah kaget orang-orang di sana, Zhia menarik si hitam keluar dari kandangnya dan langsung naik di punggung kuda tersebut untuk menuju tempat pacuan yang tidak jauh dari sana.
"Tuan putri tunggu!" teriak pelayan dan prajurit yang menemani Zhia.
Kuda yang di tunggangi Zhia masuk ke area pacuan dan mengelilingi tempat itu. Zhia terlihat santai dan begitu lues mengendalikan kuda yang di tungganginya membuat prajurit dan pelayan di sana kagum.
"Wah tuan putri sangat keren!" puji pelayan Zhia.
"Benar, sangat mengagumkan" sambung yang satunya.
"Haruskah kita bersyukur mendapatkan calon Ratu yang tangguh begitu!" ucap prajurit.
"Bukan cuma tangguh tapi juga sangat cantik dan bersinar"
__ADS_1
"Beruntungnya kita bisa melihat seorang dewi secara langsung"
Orang-orang yang ada di sekitar tempat pacuan kuda itu saling mengeluarkan argumennya masing-masing. Mereka mengangumi dan memuji Zhia sesuai apa yang mereka rasakan.