
Raja Bhian melirik Zhia berulang kali, mereka sedang makan bersama pagi ini. Tapi suasananya terasa sunyi seakan masih sendiri batin pria itu masih melirik gadis di sampingnya yang sama sekali tidak melihatnya.
Bahkan sejak semalam sore setelah insiden di tempat makan itu. Zhia mendiamkan calon suaminya bahkan tidak melirik sedikitpun pada pria itu. Sebenarnya Zhia tidak marah hanya perasaannya masih kesal dan ingin memberi sedikit pelajaran pada pria itu supaya tidak tebar pesona lagi pikir Zhia.
"Ehem! hari ini kamu akan menemui para wanita itu kan?" tanya Raja Bhian mencoba membuka topik dan mencairkan suasana.
"Ya, kenapa?" tanya Zhia balik masih asik dengan makanan di piringnya.
"Tidak ada, hanya bertanya saja" sahut Raja Bhian memasukkan makanannya kedalam mulut.
Apa wanita kalau marah tahan membisu ya? ah kenapa dulu aku tidak pernah melihat ibu marah pada ayah dan bagaimana cara ayah menangani itu supaya aku tahu cara membujuk wanita gumam Raja Bhian melirik Zhia lagi sembari mengunyah makanannya pelan.
Hingga keduanya selesai makan tangan Zhia di tarik oleh Cami menuju kekamar mereka. Zhia menatap bingung pria yang menariknya tapi hanya diam saja mengikut.
"Kamu kenapa Catri? apa masih marah?" tanya Raja Bhian yang sudah tidak tahan dengan sikap Zhia yang terus diam dan acuh.
"Tidak! siapa yang marah?" Zhia menatap wajah Raja Bhian yang menampakkan jelas kalau ada kegundahana di wajah pria itu dan juga kekhawatiran.
"Kamu Catri! sejak pulang semalam kamu terus diam dan tidak menatap Cami, kalau ada sesuatu yang tidak cocok di hati kamu akan sikap Cami maka katakan saja jangan hanya diam, jadi Cami tahu harus bagaimana" kata Raja Bhian serius.
Zhia menghela napas panjang, memang sepertinya dirinya sudah terlalu berlebihan bersikap hingga mendiamkan calon suaminya. Padahal dirinya hanya berusaha menekan kecemburuan dan rasa kesalnya.
"Catri tidak marah pada Cami, hanya saja kalau ingat dengan kejadian siang kemarin rasanya sangat kesal, dari pada Catri marah yang meledak ledak lebih baik diam, maaf kalau itu membuat kamu tidak nyaman" kembali Zhia menghela napas panjang.
Raja Bhian yang mendengar ucapan Zhia langsung menyimpulkan kalau gadis di depannya sudah mulai menaruh perasaan padanya. Dan itu benar-benar membuat hatinya bahagia. Pria itu menarik Zhia kedalam pelukannya dengan perasaan yang membuncah bahagia.
"Maafkan Cami juga ya kalau sudah membuat kamu kesal, tapi Cami minta kalau ada sesuatu yang tidak kamu sukai dari diri Cami maka katakan saja supaya Cami bisa memperbaikinya dan jangan diamkan Cami, lebih baik kamu ungkapkan kemarahan kamu dari pada diam ya" kata Raja Bhian.
Zhia mengangguk membalas pelukan Raja Bhian yang nyaman. Baru kali ini diringa di peluk pria lain selain kakak-kakaknya dan ayahnya. Nyamannya, harum lagi pikir Zhia menempelkan hidungnya di dada Raja Bhian.
Keduanya menikmati pelukan nyaman mereka hingga beberapa saat. Raja Bhian dan Zhia keluar dari kamar mereka dan menuju ke arah tujuan masing-masing untuk menyelesaikan urusan mereka.
Raja Bhian mengurus masalah kerajaan sedangkan Zhia mengurus para wanita yang seharusnya sudah datang. Karena memang para wanita itu di minta datang lagi pagi ini untuk memulai kegiatan mereka.
__ADS_1
Zhia berjalan bersama prajurit dan pelayannya menuju aula pertemuan di mana biasa di lakukan acara tertentu di istana. Sebelum memasuki aula Zhia sudah bisa mendengar suara para wanita yang berkumpul di sana. Dan dari perbincangan mereka itu Zhai juga mendengar ada beberapa wanita yang nampaknya memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
Zhia melangkah dengan pasti, pandangan tegas namun tajam membuat beberapa prajurit yang ada di aula menjaga keamanan merasa terintimidasi dan segan untuk menatap calon istri Raja mereka itu.
Aura yang cukup kuat, bahkan hampir menyerupai Raja batin mereka menunduk hormat saat Zhia lewat.
Ruangan yang semula ramai dengan suara para wanita kini pelan-pelan mulai berkurang hingga sepi saat Zhia memasuki aula dan berjalan menuju depan di mana tempat Raja biasa duduk.
Para wanita itu menatap Zhia yang terus melangkah dengan tegasnya. Sampai di kursi milik Raja Bhian, tanpa takut Zhia menduduki kursi itu dengan pandangan yang terangkat pasti menatap semua wanita yang ada di hadapannya.
Sombong sedikit bolehkan? lihatlah wajah-wajah mereka yang sudah tidak sabaran itu gumam Zhia dalam hati.
Seorang kasim wanita yang di tugaskan membantu urusan Zhia mendekat dan menyerahkan catatan pada Zhia.
"Ini Tuan Putri daftar nama-nama mereka" ucapnya menyodorkan kertas di tangannya.
Zhia mengambil kertas itu lalu membaca satu persatu nama yang tertera di sana. Lengkap dengan nama dan kedudukan orang tua mereka serta daerah mereka berasal. Hingga beberapa nama membuat Zhia tersenyum tipis.
Sudah ku duga, mereka pasti akan mengirimkan anak-anak mereka ke sini batin Zhia.
"Baiklah karena kalian sudah datang dari jauh dan mau meluangkan waktu untuk acara yang sebenarnya tidak terlalu penting ini, maka saya sebagai CALON ISTRI Raja Bhian mengucapkan selamat datang untuk kalian semuanya" ucap Zhia menekan kata 'calon istri'.
"Ada beberapa hal yang harus kalian ketahui, sebelum kita ke acara utama saya akan memberi tahu kalian apa saja yang akan di lakukan untuk bisa terpilih menjadi Selir atau Permaisuri"
Zhia menjeda ucapannya melihat seluruh wanita.
"Kalian harus bertanding dan siapa yang menjadi dua pemenang nantinya akan melawan saya, jika mampu mengalahkan saya maka mendapat gelar Permaisuri untuk yang paling tangguh dan satunya lagi mendapat gelar selir" jelas Zhia.
Para wanita itu saling pandang dan berbisik tentang apa yang baru saja di sampaikan Zhia. Hingga salah seorang wanita angkat suara dengan wajah arogannya.
"Katakan saja langsung apa pertandingannya, jangan bertele-tele" ucapnya dengan pandangan merendahkan.
Senyum smirk Zhia keluar melihat sikap wanita yang berani itu. Kita lihat seberapa sombongnya dirimu girang Zhia dalam hati kala ada wanita yang seperti itu.
__ADS_1
Zhia melihat kasim di sampingnya yang langsung mengangguk paham dengan apa yang di maksud Zhia.
Kasim maju dengan gulungan kertas lain di tangannya. Membuka gulungan dan membaca apa yang tertulis di dalamnya, yang pasti itu tulisan Zhia sendiri.
"Hal-hal yang harus di lakukan oleh semua peserta pertandingan dan peraturan yang harus di lakukan antara lain.
Pertama, semua peserta akan tinggal di istana bagian Timur tanpa terkecuali dan harus memakai semua yang sudah di sediakan tanpa keluhan.
Kedua, pertandingan akan di mulai pada esok hari dan semua peserta harus berkumpul tiga puluh menit setelah makan pagi, jika terlambat akan di beri hukuman.
Ketiga, Tidak boleh menolak pertandingan apapun jika acara sudah di resmikan.
Keempat, tidak akan ada perlakuan istimewa bagi semua peserta, siapapun dan apapun kedudukan orang tuanya.
Kelima, tidak di perkenankan menemui Yang Mulia Raja sekalipun bertemu tanpa sengaja di larang untuk menyapa atau mendekat.
Keeman, tidak di ijinkan pergi dari area yang sudah di tetapkan apa lagi meminta bantuan orang lain.
Bagi siapa saja yang melanggar akan langsung di pulangkan dan mendapatkan sangsi"
"Adapun pertandingan yang akan di lakukan ialah,
Pertama, berkuda
Kedua, memanah
Ketiga, berburu
Keempat, bertarung.
Setiap peserta harus mengikuti semua pertandingan tersebut yang sudah di tetapkan dan semua kegiatan ini telah di sahkan oleh Yang Mulia Raja Bhian"
Kasim menunjukkan menghadapkan kertas ke arah para wanita untuk menunjukkan stempel kerajaan yang sudah di berikan Raja Bhian yang berarti acara yang di lakukan oleh Zhia resmi dan tidak akan ada pihak yang bisa mengganggu.
__ADS_1
"Kami akan memberi kesempatan kepada kalian untuk membuat keputusan lagi, jika berubah pikiran dan tidak ingin melanjutkan maka kalian boleh pergi sebelum Tuan Putri Zhia meresmikan acara ini" jelas Kasim.