
Mata Zhia nampak berbinar kala mendapati pemandangan yang sangat indah di bawah sana. Pegunungan yang menjatuhkan airnya dari ketinggian dengan banyaknya bunga-bunga di bawah sana yang mebuat pemandangan semakin indah dengan warnanya yang beragam.
Serta pelangi yang terlihat melengkung indah di antara awan-awan menambah kesan sendiri bagi tempat itu. Memang burung Nae tidak terbang terlalu tinggi dari puncang gunung itu, karena mereka akan turun.
"Apa itu tempatnya?" tanya Zhia menunjuk pemandangan di bawah dengan perasaan senang.
"Iya, indah bukan!" Zhia mengangguk, rasanya sudah tidak sabar untuk segera turun kebawah.
"Itu sebabnya orang yang datang ketempat ini haruslah orang yang dalam suasana hati bahagia" bisik Raja Bhian yang terasa menggelitik bagi Zhia.
Ada perasaan hangat dan nyaman di hatinya kala mendapatkan perhatian-perhatian kecil dari Calon suaminya itu. Bahkan suasana hatinya pun sepertinya sangat mudah untuk di tebak oleh Raja Bhian.
"Sekarang Zhia sudah bahagia, sangat bahagia, bisakah kita turun sekarang?" Zhia melihat Raja Bhian seraya tersentum manis. Tentu saja pria itu membalas senyuman manis itu tak kalah menawan pula.
Karena hanya ada mereka berdua saja dan hanya mereka berdua yang menikmati senyuman dan kebahagiaan masing-masing. Jadi tidak ada salahnya kalau bersikap manis pada calon sendiri batin keduanya.
"Baiklah, tapi ada syaratnya" senyum misterius Raja Bhian membuat Zhia sedikit ngeri juga.
"Apa?" tanya Zhia yang mulai merasa kalau akan ada pembalasan dari apa yang di lakukannya semalam saat mereka jalan-jalan.
"Panggil saya Cami mulai saat ini" ujar Raja Bhian berbisik lagi membuat mata Zhia melotot tidak percaya.
Dia mengingat panggilan itu batin Zhia tidak percaya.
"Bagaimana?" tanya Raja Bhian.
"Kalau Zhia panggil kamu Cami kamu juga harus panggil aku Catri, setuju tidak" sahut Zhia membuat kesepakatan akan panggilan baru mereka.
__ADS_1
"Setuju, tapi nanti kalau sudah menikah kamu harus memanggil saya suamiku dan saya panggil kamu istriku"
"Setuju" Zhia menggenggam tangan Raja Bhian yang ada di sampingnya dengan penuh keyakinan.
Tanpa menyiakan kesempatan Raja muda itu membawa tangan Zhia kehadapannya dan mengecup tangan putih dengan kulit lembut dan halus itu dengan sayangnya. Mencoba bersikap romantis seperti apa yang pernah di lihatnya dulu saat sabg ayah sedang bersama ibunya. Keromantisan orang tuanya itulah yang di tiru Raja Bhian untuk menyenangkan hati Zhia.
Raja muda itu juga akan berusaha untuk lebih baik lagi dalam memperlakukan calon istrinya ini dengan lebih romantis lagi tanpa mencontoh dari sikpa ayahnya lagi.
"Sekarang kita turun, harus berapa lama lagi pemandangan indah itu di abaikan" ucap Zhia yang memang sudah sangat bersemangat dan tidak sabaran untuk turun.
Raja Bhian mengarahkan burung Nae untuk turun kebawah dan akhirnya mereka mendarat juga . Betapa senangnya hati Zhia saat pemandangan yang bahkan melebihi angannya nampak jelas di hadapannya. Hawa sejuk sangat terasa di sana, di tambah aroma bunga-bunga yang harum semakin memanjakan diri dengan kenaturalan tempat itu.
"Turunin Zhia, turunin Zhia" seru Zhia sembari menggerak-gerakkan kedua kakinya tidak sabaran yang malah terlihat menggemaskan bagai anak kecil yang tidak sabar untuk segera bermain.
Raja Bhian turun dari punggung burung Nae lalu mengulurkan kedua tangannya pada Zhia yang tentunya di sambut Zhia dengan menjatuhkan tubuhnya pada Raja Bhian agar bisa turun dari burung tinggi itu. Raja Bhian menurunkan Zhia setelah mendapatkan tubuh gadis itu di gendongannya.
"Ayo kesana" ajak Raja Bhian meraih tangan Zhia dan membawanya mendekat pada air terjun.
Sepanjang langkah kakinya, Zhia hanya selalu mengungkapkan kekagumannya dengan satu kata 'WAH' saja. Bunga-bunga indah seakan menyambut kedatangannya ke tempat itu.
"Bukankah ini surga yang sesungguhnya! ini benar-benar indah, bahkan Zhia belum pernah melihat pemandangan seindah ini" seru Zhia yang tidak henti-hentinya mengagumi tempat yang di datanginya.
Baru inilah kali pertama Zhia melihat air terjun seindah itu, walaupun di kerajaan ayahnya ada air terjun juga, tapi tidak setinggi dan seindah yang ini. Meskipun yang di sana indah juga sih batin Zhia.
Raja Bhian membawa Zhia duduk di dalah satu batu hitam yang besar dan cukup nyaman untuk di duduki. Karena posisi batu itu yang sedikit jauh dari tempat jatuhnya air, jadi batu itu tidak basah bagian atasnya.
"Kamu senang Catri?" Raja Bhian memandang Zhia yang masih mengangumi keindahan di sana.
__ADS_1
"Iya Cami, Catrimu ini sangat senang dan sangat sangat bahagia, terimaksih ya sudah mau menunjukkan pemandangan indah ini" Zhia melihat Raja Bhian di sampingnya yang sedang memandangnya dengan pandangan yang entah, Zhia tidak dapat memahaminya.
Yang Zhia tangkap dari pandangan itu hanya perasaan bahagia juga dan kasih sayang, itupun karena Zhia biasa mendapatkan tatapan seperti itu dari keluarganya. Bahkan posisi duduk pria itu yang bukannya menghadap air terjun malah menghadap ke arah Zhia.
"Dulu sewaktu ayah bilang kalau saya akan di jodohkan dengan anak ayah mertua, saya tidak percaya sama sekali karena saya tidak pernah melihat kamu, jadi saya sempat ragu kalau-kalau ayah berbohong demi bisa menunaikan janji orang tua mereka, tapi ternyata ayah tidak berbohong karena di kerajaan Month memang ada seorang permata yang sangat indah sedang bersembunyi, namanya begitu di kenal tetapi rupanya menjadi misteri yang membuat semua orang sangat penasaran" ucap Raja Bhian mengatakan apa yang ada di hatinya pada Zhia.
Zhia menunduk menggigit bibir bawahnya kecil, mendapat pujian seindah itu dengan pandangan mata yang penuh kasih. Siapa yang tidak akan terlena dan malu di buatnya, apa lagi yang memberi pujian seorang pria tampan yang menjadi calon suami, pastilah semakin membuat hati berbunga.
Tetapi Zhia yang masih polos akan perasaan pada lawan jenis belum terlalu menangkap pancaran cinta yang mulai di tunjukkan Raja Bhian. Bagi Zhia pandangan dan pujian itu sama seperti yang sering di dapatkannya dari para kakak dan ayahnya, hanya bedanya sekarang yang mengatakan calon suminya.
Zhia jadi mengingat akan ucapan kakaknya Pangeran Ballu.
Pria yang benar-benar mencintai kamu itu akan selalu memusatkan perhatiannya serta pandangannya hanya padamu, walaupun banyak kupu-kupu yang datang menggoda dan mengganggunya dia akan tetap setia, bahkan ketika jarak memisahkan kalian dia akan tetap memikirkanmu, tubuhnya memang di tempat lain namun hati dan pikirannya ada bersamamu selalu. Tataplah matanya dalam kalau dia mengatakan pujian untukmu, dari sana kamu akan tahu ucapan itu palsu atau bukan karena pancaran mata tidak pernah berdusta. Seorang suami yang mencintai istrinya pasti akan melakukan apa saja demi kebahagiaan istrinya, dan akan selalu berusaha mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan walau dengan cara yang unik.
Walau belum paham sepenuhnya dengan ucapan kakaknya itu, tetapi Zhia akan mencoba melakukan yang terbaik untuk mereka semua. Zhia juga akan belajar bagaimana cara mencintai suaminya dari bagaimana cara suaminya memperlakukannya.
Zhia membalas tatapan Raja Bhian dengan dalam dan yang di dapati Zhia hanya pandangan tulus penuh kasih yang di pancarkan Raja Bhian untuknya. Serta sesuatu yang belum di mengerti juga oleh Zhia. Mungkinkah itu yang namanya cinta? lebih membuat nyaman sih batin Zhia saat memikirkan apa perasaan lain yang di tunjukkan Raja Bhian untuknya melalui pandangan mata itu.
"Kita pulang sekarang, hari sudah semakin siang mereka pasti sudah menunggu" ucap Raja Bhian berdiri lalu turun dari batu itu mengulurkan tangannya pada Zhia yang ikut turun juga.
"Apa di hutan ini ada semacam tempat penginapan?" tanya Zhia membuat Raja Bhian tersenyum kecil tidak habis pikir. Bagaimana mungkin hutan belantara yang lebat bisa ada penginapan batinnya.
"Tidak, karema hutan ini sangat lebat dan rawan hewan buas, jadi bisa di bilang air terjun ini surga yang tersembunyi, kalau mau memasuki kawasan ini harus melewati beberapa lapis hutan dulu" jelas Raja Bhian mendekati sebuah pohon dan mengambil satu buah untuk di serahkan pada Zhia.
"Simpan nanti sampai kamar kita baru di keluarkan" lanjutnya.
"Kenapa harus tunggu di kamar baru di keluarkan?" tanya Zhia penasaran.
__ADS_1
"Takutnya kamu tidak rela bagi-bagi" santai Raja Bhian membuat Zhia memutar bola matanya malas akan jawaban tidak masuk akal itu. Siapa juga yang mau meminta buah yang cuma satu ini, apa lagi ada di tanganku siapa yang bisa ambil batin Zhia.