Calon Ratu

Calon Ratu
06


__ADS_3

Setelah makan bersama kini kedua keluarga itu kembali duduk bersama tapi di tempat yang berbeda. Di taman istana kedua keluarga duduk saling bercengkrama, walau sudah saling mengenal satu sama lain. Mereka tetap melakukan itu untuk mendekatkan kedua orang yang akan di jodohkan.


Zhia kembali harus ikut duduk bersama di sana karena permaisuri Zie membawa paksa anak gadisnya itu untuk turut serta. Tiga puluh menit pertama Zhia hanya diam saja sembari menatap hamparan bunga-bunga di sekeliling mereka.


Namun hingga satu jam berlalu dirinya mulai bosan dan ingin segera pergi, apa lagi tidak ada hal penting yang mengharuskan kehadiarannya di sana. Dengan pelan Zhia mulai berbisik pada Ratu Nila yang ada di sampingnya dan sedang tidak berbicara.


"Bu, Zhia boleh pergi tidak! bosan bu diem aja dari tadi" ucapnya seraya mengeluarkan jurus wajah manis dan imut agar di beri ijin pergi.


"Ya sudah" ucap Ratu Nila yang membuat hati Zhia berbunga-bunga, tapi tidak berlangsung lama saat mendengar kelanjutan kalimat dari ibu Ratu itu.


"Ibu tinggal menjentikkan jari maka semua celana kamu itu akan hangus" lanjut Raru Nila tersenyum jahil pada putrinya.


"Jangan lakukan itu ibu" cemberut Zhia memeluk lengan ibunya dengan sebelah tangan dan tangan satunya memegangi kedua telapak tangan Ratu Nila agar tidak melakukan apa yang di katakan wanita itu barusan.


"Maka dari itu jadilah anak ibu yang manis hm" ucap ratu Nila tersenyum manis pada Zhia.


Zhia tetap memasang wajah cemberutnya dan bersandar di pundak ratu Nila tanpa perduli tatapan mencibir dari Wiya. Zhia justru semakin mengeratkan pelukannya pada Ratu Nila dan sedikit menjulurkam lidahnya mengejek Wiya sebagai tanda kalau ia adalah kesayangan semua orang di sana.


"Suamiku! bisakah kita membicarakan inti dari pertemuan ini sekarang, putrimu ini sudah bosan sepertinya" ucap permaisuri Vela pada suaminya, namun pandangannya justru mengarah pada Zhia yang langsung berbinar mendengar ucapannya.


Raja Hilla menatap putrinya lalu tersenyum, kemudian kembali menatap tamunya.


"Bagaimana menurut kalian?" tanya Raja Hilla lebih dulu pada keluarga Raja Bhian.


"Memang seharusnya segera kita bicarakan, setelahnya mendekatkan mereka berdua supaya lebih saling mengenal lagi" sahut Perdana Menteri Ji.

__ADS_1


Yang lainnya nampak tersenyum seraya mengangguk setuju. Ini memang momen yang mereka nantikan, untuk segera melamar Zhia.


"Baiklah" pandangan Raja Hilla beralih pada Zhia yang mulai dengan aksi ngemilnya karena bosan. Dan tidak ada yang melarangnya dari pada anak itu meminta untuk pergi.


"Zhia, kamu ingat tidak dulu kakek pernah bercerita tentang perjodohan antara anaknya dengan anak sahabatnya?" seru Raja Hilla yang di angguki Zhia karena mulutnya masih penuh makanan.


"Memangnya siapa yang jadi di jodohkan yah?" tanya Zhia balik setelah makanannya masuk ke perut.


"Kakek dan temannya berencana menjodohkan anak mereka jika lahir kelak berlainan jenis kelamin karena pada saat itu nenekmu dan istri dari yeman kakek sama-sama hamil, jadi mereka mengucapkan janji perjodohan itu dan saling sepakat, tapi ternyata anak yang lahir keduanya laki-laki yaitu ayah dan ayah dari raja Bhian sendiri" Zhia menatap pria di depannya sebentar lalu kembali melihat ayahnya.


"Jadi?" ucap Zhia.


"Jadi perjodohan di tunda hingga salah satunya memiliki anak perempuan, tapi yang lebih dulu hamil nenek dari Raja Bhian, dan saat lahir anaknya laki-laki lagi dialah paman Ji" ucap Raja Hilla seraya menunjuk pada pria yang lebih muda darinya.


"Karena tidak ada anak perempuan di antara kami dan kedua nenek sudah tidak bisa hamil lagi maka perjodohan di tunda dan akan di teruskan pada cucu-cucu mereka nantinya, dan sebelum ayah Bhian meninggal setahun lalu, beliau sudah pernah meminta ayah berjanji untuk meninkahkan anak kami melanjutkan wasiat dari para orang tua, dan ayah setuju"


Raja Hilla sengaja menjelaskan panjang lebar pada putrinya agar Zhia dapat mengerti dan memahami maksud dari mereka.


"Jadi maksud ayah kak Ballu sama kakak itu mau di nikahkan gitu! pedang sama pedang dong" ucap Zhia dengan polosnya karena yang di pikirannya hanya sampai di situ.


Tidak pernah mengenal dan berteman dengan pria selain keluarganya membuat Zhia tidak paham akan masalah percintaan dan perasaan. Bagi Zhia cinta hanya pada keluarganya saja.


Orang-orang yang mendengar ucapan Zhia itu tersenyum lucu melihat ekpresi polos Zhia yang memang mengemaskan dengan pipi yang lebih besar karena masih ada sedikit makanan di sana.


Sedangkan yang di sebut akan di nikahkan kaget bukan main, bagaimana mungkin laki-laki menikah dengan laki-laki pikir Bhian tidak habis pikir dengan gadis di hadapannya. Sedangkan Ballu menatap cengo adik bungsunya itu, dari mana dia dapat bahasa pedang sama pedang? siapa yang sudah meracuni pikirannya batin Ballu.

__ADS_1


"Zhia, dari mana kamu bisa tahu kata pedang sama pedang itu hm? siapa yang kasih tahu kamu?" tanya Ballu pemasaran. Baginya kalimta itu mengarah pada hal lain, tapi bagi Zhia kalimat itu artinya lain pula.


"Dari Zhia sendiri, kakak punya pedangkan yang sering di pakai latihan, dia juga pasti punya pedang untuk latihan apa lagi dia Raja, jadi kalau kakak sama dia menikah kalian jadi pedang sama pedang kalau di kamar pasti kamarnya bakalan hancur kalau kalian lagi marahan karena saling adu pedang" ucap Zhia polos sembari tertawa dengan pemikiran dan kalimatnya sendiri.


Begitupun yang lainnya ikut tertawa dengan pendapat Zhia perihal pedang sama pedang itu. Sedangkan Ballu menepuk keningnya tidak habis pikir, kenapa dia bisa memikirkan hal lain saat pemikiran adiknya sendiri sudah lain pengartiannya.


"Bukan kak Ballu yang akan menikah Zhia" ucap permaisuri Zie setelah meredakan tawanya akibat ucapan polos putrinya.


"Lalu siapa?" tanya Zhia penasaran.


"Ya kamu yang di jodohkan sama kak Bhian, masa iya kak Ballu sih, nanti beneran jadi pedang sama pedang dong" sahut Zhio kembali tertawa.


Sedangkan Zhia diam saja mencoba mencerna ucapan sang kembaran hingga akhirnya ia mulai bertanya lagi.


"Zhia!" tunjuknya pada dirinya sendiri.


"Iya sayang kamu yang akan kami jodohkan dengan Bhian, meneruskan wasiat dari kakek" sahut Ratu Nila mengelus kepala Zhia sayang.


"Zhia di jodohkan sama dia, berarti Zhia nanti nikah sama dia begitu!" serunya menatap serius orang-orang di sana.


"Iya nak, kamu dan Bhian yang akan mengabulkan perjanjian sekaligus permintaan kakek- kakek kalian" ucap Perdana Mentri Ji.


Zhia hanya diam dengan wajah kagetnya setelah mendengar konfirmasi dari pria di samping ayahnya itu.


Apa? menikah! kenapa secepat ini? aku masih terlalu muda untuk itu batin Zhia yang masih shok hingga hanya diam saja.

__ADS_1


__ADS_2