
Mendengar suara yang semakin tidak bersahabat dari Raja Bhian membuat tabib itu mundur menunduk.
"Maaf Yang Mulia" ucapnya.
"Berani menyentuh milikku maka harus siap kehilangan bagian tubuhmu yang sudah lancang itu" ancam Raja Bhian merasa tidak suka dengan tabib di depannya yang sama sekali tidak menghargai keberadaannya.
Meski sudah di beri peringatan tegas masih saja berusaha untuk bisa menyentuh Zhia dengan berbagai cara dan alasan.
Raja Bhian membawa Zhia keluar dari rumah itu dan menuju tempat lainnya.
"Apa sama sekali tidak turun hujan di daerah sini?" tanya Raja Bhian pada Gubernur Parean.
"Turun Yang Mulia, minggu lalu bahkan hujan sangat lebat para warga menampung air untuk kebutuhan mereka, tapi anehnya begitu hujan berhenti semua air langsung hilang bahkan yang sudah di tampung wargapun hilang tanpa sisa" jelas Gubernur itu.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Raja Bhian heran begitupun dengan Zhia yang semakin merasa aneh saja.
"Kami juga tidak tahu Yang Mulia, tapi menurut salah satu warga pernah berkata kalau sempat melihat air yang di tampungnya itu habis secara tidak wajar"
Langkah kaki Raja Bhian dan Zhia terhenti seketika.
"Tidak wajar! maksudnya?" tanya keduanya kompak yang membuat orang-orang yang mengikuti mereka sejak tadi memandang keduanya kagum karena terlihat kompak.
Kedua orang yang jadi perhatian itu hanya saling pandang sejenak lalu fokus kembali. Sekarang bukan saatnya mesra-mesraan pikir keduanya.
"Begini Yang Mulia, maksudnya tidak wajar itu air yang di wadah bukan menguap sebelum habis melainkan tempat yang di pakai menampung air bisa jatuh berguling sendiri sampai air di dalamnya tumpah dan habis tidak bersisa bahkan yang di tempat tumpahan air itu langsung kering, itulah kenapa tanah di daerah ini sangat gersang Yang Mulia"
"Sebenarnya di daerah ini bukan musim kemarau melainkan musim hujan tapi entah kenapa malah jadi lebih parah dari musim kemarau, bahkan penyakit aneh itu bisa tiba-tiba datang" jelas si Gubernur mengatakan semua hal yang terjadi di daerahnya.
"Apa semua yang sakit hanya para wanita saja?" tanya Raja Bhian.
"Iya Yang Mulia, dan anehnya itu hanya bagi anak perempuan yang belum menikah saja dan baru beranjak dewasa" jawabnya.
__ADS_1
"Itu artinya para gadis yang masih perawan! lalu kenapa ada anak kecil juga tadi?" tanya Zhia yang sangat penasaran.
"Iya Putri semua yanga da di dalam sana gadis-gadis yang masih perawan, tapi masalah kenapanya kami juga tidak tahu karena tidak ada penjelasan apa-apa dari tabib itu" kata si Gubernur dengan sedih karena tidak bisa mengatasi masalah di daerahnya hingga berlarut-larut.
"Kenapa tidak ada yang di dalam sana selain tabib itu sendiri? bahkan para orang tuapun tidak hanya melihat dari luar, kalau memang hanya penyakit yang menulari para gadis seharusnya ibu dan ayah mereka bisa menemani anak-anaknya bukan!" cecar Zhia.
"Kami tidak ada yang tahu Tuan Putri, sudha kami coba untuk bertanya pada tabib itu tapi tidak pernah mendapatkan jawaban, tabib itu hanya bilang kalau ingin anaknya sembuh maka harus mengikuti semua aturannya dan jangan banyak membantah apa lagi bertanya karena itu bisa mengganggu pengobatan, begitu katanya Tuan Putri, jadi kami yang sangat mengharapkan kesembuhan anak kami di tengah kesulitan ini hanya bisa pasrah saja" sedih si Gubernur.
Raja Bhian dan Zhia slaing pandang kala merasa semakin aneh dengan semua penjelasan si Gubernur itu.
"Apa bendungan masih ada airnya?" tanya Raja Bhian.
"Hanya sedikit Yang Mulia, itulah yang kami gunakan bergantian untuk minum dan keperluan lainnya"
Langkah kaki Raja Bhian dan Zhia terus bergerak melihat daerah yang sednag terkena musibah berganda itu. Sangat janggal untuk semua hal yang terjadi jika di pikirkan baik-baik.
Daerah yang dulunya begitu subur dengan segala yang tercukupi bahkan menjadi penghasil padi terbesar yang kerajaan punya sekarang jadi kawasan tandus. Sawah-sawah dan lahan pertanian tempat warga bercocok tanampun kering.
Raja Bhian dan Zhia istirahat di salah satu rumah makan sederhana yang tutup. Zhia mengusap keningnya yang berkeringat dan mengipasi wajahnya sendiri.
Kedua pelayan Zhia memang tidak ikut karena di minta untuk membereskan barang bawaan mereka dengan bantuan beberapa warga yang memang bekerja di tempat yang mereka tinggali.
Raja Bhian mengulurkan air minum dalam wadah kendi pada Zhia yang wajahnya mulai memerah karena panas.
"Benar-benar tidak wajar! ada yang tidak beres di daerah Yang Mulia" ucap Panglima Qai pelan mengawasi daerah sekitarnya.
"Hm lakukan penyelidikan diam-diam tanpa membuat warga tahu apa lagi ada yang curiga, pasti ada sesuatu yang tersembunyi dari semua ini" sahut Raja Bhian tak kalah pelan.
Panglima Qai mengangguk paham dengan keinginan Rajanya. Memang bukan dirinya yang akan maju mencari tahu kebenaran dari daerah Parean karena Panglima Qai hanya akan memberi perintah pada orang-orang yang sudah menjadi kepercayaan mereka untuk melakukan penyelidikan tanpa ada yang tahu.
Pandangan Raja Bhian beralih pada Zhia yang sudah terlihat baik-baik saja. Pada hal tadi wajahnya memerah kepanasan dan keringatnya cukup banyak membasahi wajah, tapi sekarang sudah tidak terlihat lagi dan malah terlihat biasa saja.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja Catri?" tanya Raja Bhian dengan kening yang mengkerut.
Zhia menatap calon suaminya yang berdiri di hadapannya dengan wajah heran melihatnya.
"Sanga baik, kenapa? apa ada yang aneh?" tanya Zhia memegang wajahnya untuk mencari tahu, kali saja di wajahnya ada sesuatu.
"Tidak ada yang aneh hanya saja tadi kamu terlihat sangat kepanasan, sekarang malah sudah baik-baik saja dan seperti tidak ada masalah apapun" sahut Raja Bhian yang hanya mendapat senyuman dari Zhia.
Setelah istirahat Raja Bhian dan Zhia kembali melanjutkan perjalanan mereka kembali ke tempat penginapan. Karena hari yang semakin siang dan panas semakin membakar, Raja Bhian tidak ingin Zhia semakin kepanasan nantinya.
Lagi pula sudah waktu makan siang.
"Tidak ingin melihat bendungannya dulu? Catri snagat ingin melihat langsung ke sana" ucap Zhia pelan pada Raja Bhian di sampingnya.
"Besok saja, bendungannya lumayan jauh besok kita naik kuda ke sana" ucapnya.
"Tapi akan lebih baik kalau kamu di penginapan saja Catri, cuaca sangat panas Cami tidak mau hal seperti tadi terulang" lanjutnya melihat Zhia yang nampak berpikir.
"Hal seperti tadi! yang mana?" tanya Zhia heran.
"Tadikan wajah kamu memerah kepanasan, wajah kamu juga basah karena keringat yang cukup banyak"
"Kapan? tidak ada kok! perasaan Cami saja kali" elak Zhia agar bisa ikut lagi besok melihat keadaan di sana.
Raja Bhian menghela napas panjang, berdebat dengan wanita karena masalah yang tidak di akui hanya akan memperpanjang masalah yang ujung-ujungnya prialah yang akan mengalah.
Jadi ya sudahlah pikirnya.
"Baiklah kamu bisa ikut besok, asal tetap menurut pada Cami, ya!"
"Baiklah Cami" sahut Zhia tersenyum melihat Raja Bhian yang di balas elusan di pundak Zhia yang sejak tadi di rangkulnya.
__ADS_1