Calon Ratu

Calon Ratu
12


__ADS_3

Hari pertunangan pun tiba membawa kebahagiaan bagi orang-orang yang sudah menantikan hari ini tiba. Karena ini adalah kali pertamanya kerajaan membuat perayaan besar untuk keluarga Raja. Biasanya perayaan yang di lakukan hanya untuk merayakan segala yang berhubungan dengan rakyat seperti serta keberhasilan panen atau pergantian musim dan lainnya.


Tapi kali ini mereka merayakan hari pertunangan Putri Raja mereka yang nantinya juga akan menemui mereka di balai kota masing-masing daerah.


Zhia sedang di dampingi oleh pelayannya yang membantu memakaikan gaunnya dan juga hiasannya. Bukan hiasan yang biasa, kali ini Zhia di hias menggunakan barang pemberian dari Ibu Suri. Katanya barang-barang itu harus di gunakan Zhia untuk acara lamaran agar serasih dengan sang calon.


Zhia hanya mengangguk patuh saja mendengar ucapan calon ibu mertuanya itu. Hatinya sedang berbunga-bunga saat ini karena Raja Bhian menjanjikan padanya kalau nanti mereka akan terbang lagi keliling kerajaan setelah semua acara selesai.


Tentu saja Zhia tidak akan menolak hal seru dan menyenangkan itu. Mungkin nanti ia juga akan mencoba meminta agar saat kepergian mereka ke kerajaan Sun naik leluhur burung itu saja. Membayangkan hal itu saja sudah membuat Zhia senang bukan main, betapa serunya nanti perjalanan mereka menikmati pemandangan dari atas langit.


Raja Bhian sediri sedang di temani keluarganya yang tak lain sang ibu, paman dan bibinya serta adik sepupunya yang sedang memasang wajah masam tidak suka. Tapi tidak ada yang memperhatikan hal itu atau lebih tepatnya malas menanyakan hal nantinya malah akan menjadi panjang.


"Kira-kira Zhia seperti apa ya kak setelah memakai gaun dan perhiasannya!" seru Bibi An pada kakak iparnya sembari mencoba membayangkan calon Zhia memakai gaun pilihan mereka yang di rancang khusus.


Gaun yang memiliki warna sama dengan milik Raja Bhian, hanya saja pakaian Raja Bhian tidak memakai aksesoris berlian karema pria itu menolaknya saat sang ibu bertanya ingin warna apa pakaian untuk lamaran nanti. Walau Raja Bhian kurang yakin akan lamarannya di terima namun ia tetap mengatakan pada ibunya kalau ia ingin pakaian tunangan mereka berwarna kuning dan putih saja.


"Yang pasti sangat cantik dan anggun, oh aku sudah tidak sabar untuk membawanya pulang ke istana kita" ucap Ibu Suri dengan wajah berbinar bahagia.

__ADS_1


"Aku jadi tidak sabar untuk segera memperkenalkan menantu cantik kita itu kak" sahut Bibi An menatap kakak iparnya.


"Selain cantik Zhia juga pemberani dan gadis yang tangguh, jarang ada gadis seperti itu, tidak perduli dengan pandangan buruk orang lain terhadap dirinya dia tetap melakukan apa yang di sukainya" sambung Perdana Mentri Ji.


"Kamu sangat beruntung anakku" ucap Ibu Suri dengan mata yang nampak sangat bahagia melihat anaknya mendapatkan seorang pendamping.


"Bahagialah bersama pasanganmu dan bahagiakan dia nak, walaupun baru calon tapi ibu harap kamu bisa selalu ada untuk melindunginya meskipun dia mampu menjaga dirinya sendiri, percayalah kalau sekuat apapun seorang wanita dia tetap membutuhkan seorang pelindung dan seseorang yang dapat mengerti dirinya, bukalah hatimu untuk mencintai dia dan jangan mudah percaya dengan berita buruk tentangnya sebelum kamu tahu yang sesungguhnya, biasakan untuk mencari tahu lebih dulu sebelum menyalahkannya kalau ada kesalahan yang di lakukannya, seperti kamu memimpiin rakyatmu dengan perhatian dan adil, bedanya kamu hanya harus lebih perhatian padanya dari mulai hal terkecil karena hati wanita sangat mudah tersentuh jika mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari pasangannya apa lagi kamu memperlakukannya dengan lembut penuh cinta, maka kebahagian rumah tangga akan kamu dapatkan darinya karena dia juga akan melakukan hal sama kepadamu dan lebih mengutakamakanmu dari apapun" ucap Ibu Suri menasehati anaknya.


Wanita paruh baya itu tidak ingin ada kegagalan dalam hubungan anaknya dengan sang calon, ia juga tidak ingin mendengar cerita buruk tentang perlakuan anaknya ini nanti pada calon menantunya.


"Kecuali..." ucap Bibi An menggantung seraya melirik keponakannya dengan tatapan jahil.


"Jadilah pria yang bertanggung jawab terhadap pasangan dan keluargamu anakku, paman akan selalu mendoakan yang terbaik untuk masa depanmu dan juga pasanganmu, ayahmu pasti akan sangat bangga padamu karena sudah memenuhi keinginan terakhirnya" Perdana Mentri Ji memeluk sang keponakan dengan haru.


Masih jelas di ingatannya akan permintaan terakhir kakaknya yang ingin agar anak laki-laki satu-satunya menikah dengan putri dari kerajaan Month dan menjadikannya sebagai Ratu di kerajaan dan di hati anaknya kelak. Ayah Raja Bhian juga meminta Perdana Mentri Ji selaku adiknya untuk terus membimbing anaknya dan selalu mengingatkanya di kala melakukan kesalahan.


"Paman, bibi dan ibuku sayang, kalian tenang saja, Bhian pasti akan memperlakukannya dengan baik dan berusaha membuatnya bahagia, Bhian akan mencoba menerimanya dalam segala sisi gelap dan terangnya, juga meyakinkan dirinya kalau hanya Bhian lah laki-laki terbaik dan tidak ada tandingannya" tegas Raja Bhian membuat para orang tua itu tersenyum senang.

__ADS_1


"Kamu harus mengeluarkan pesonamu dan ketangkasanmu nak agar calon menantu kami tidak berpaling" kekeh Bibi An.


"Tanpa perlu mengeluarkannya pun aku memang sudah mempesona bibi, dan ketangkasanku juga tidak perlu di pertanyakan lagi, tidak ada yang bisa membantah hal itu" ucap Raja Bhian membuat mereka kembali tertawa bersama.


Saat ketiganya saling bercanda dan tertawa, seorang di antara mereka malah semakin terlihat marah dan tidak suka. Hatinya benar-benar panas saat ini, apa lagi mendengar ayah ibunya juga malah memberikan petuah baik dan mendukung hubungan pernikahan kakak sepupunya.


Bahkan secara tidak langsung mereka juga meminta Raja Bhian agar tidak gegabah menilai selaga kesalahan calonnya sebelum punya bukti. Ketiga orang tua itu juga seakan mengingatkan Raja Bhian agar tidak percaya pada ucapan orang lain tentang calonnya.


Apa-apaan sih mereka itu? apa bagusnya wanita yang tidak bisa apa-apa itu? aku sangat yakin dia pasti tidak akan bisa menari dengan baik atau menyulam, atau menjahit dan lainnya lagi, cih! untuk apa wanita seperti itu di jadikan menantu kesayangan, bagus juga aku kemana-mana guman Wiya dalam hati.


Wiya mencoba memikirkan sebuah rencana untuk mempermalukan wanita kebanggaan keluarganya itu nanti di acara pertunangan. Apa lagi akan banyaj hiburan nantinya juga beberapa pertunjukan yang akan di lakukan di lapangan istana yang di datangi rakyat kota sekitar istana.


Tunggu saja saatnya kamu mempermalukan dirimu sendiri dan juga keluargamu pikir Wiya tersenyum jahat.


"Wiya! ayo nak, kenapa kamu malah melamun? senyum sendiri lagi" ucap Bibi An menyadarkan Wiya dari lamunannya akan segala rencananya nanti.


"Ayo cepat" ajak Bibi An mengulurkan tangannya pada sang anak tapi di abaikan. Ini lah sikap Wiya yang membuat Bibi An merasa seperti tidak memiliki anak perempuan.

__ADS_1


Pada hal segala kasih sayang dan cinta sudah ia berikan pada anaknya secara adil, baik Wiya dan adiknya Miya. Tapi Wiya yang memiliki sikap keras seakan menutup mata akan semua perhatian ibunya dan menutup hati juga mata akan semua itu, tidak perduli dengan keluarganya sendiri. Yang ada di hati dan pikiran Wiya hanya mengejar obsesinya dan mendapatkan apa yang ia mau saja.


Sadarkanlah anakku Tuhan batin Bibi An berdoa penuh harap.


__ADS_2