Calon Ratu

Calon Ratu
34


__ADS_3

Selama dalam perjalanan pulang Raja Bhian terus bertanya akan masalah ular tadi dan bagaimana kondisi Zhia. Zhia sendiri juga berusaha menerangkan sesuai apa yang terjadi tadi dan menenangkan pria di sampingnya hingga tenang.


"Apa tidak masalah kalau kita pergi meninggalkan panen yang belum selesai itu?" tanya Zhia pada Raja Bhian.


"Sudah ada orang yang akan mengurus buah itu nanti, kita datang juga karena ada waktu luang, mulai besok kita akan sibuk dengan urusan masing-masing" kata Raja Bhian menatap Zhia yang juga menatapnya.


"Ah iya benar, besokkan Catri harus mengurus para wanita-wanita itu dan Cami juga harus mengurus kerajaan" ucap Zhia.


"Pastikan mereka tidak ada yang bisa lolos ya! tapi ingat! jangan menggunakan kekerasan karena itu bisa menjadi tuntutan mereka nanti pada kita" Zhia tersenyum dan mengangguk.


Raja Bhian mengelus rambut Zhia lembut dengan pandangan sayangnya yang menunjukkan perasaan hatinya.


Hari semakin siang dan panas saat rombongan Raja Bhian memasuki kawasan kota yang tidak terlalu jauh dengan perkebunan. Kereta kuda berhenti di salah satu kedai makan besar di kota itu.


"Yang Mulia! kita istirahat dulu makan siang, para prajurit juga sudah lapar" ucap Panglima Qai yang sudah berdiri di dekat pintu kereta kuda.


"Hm, hanya tiga puluh menit saja karena nanti sore saya masih ada pekerjaan lain" kata Raja Bhian.


"Baik Yang Mulia" sahut Panglima Qai lalu membuka mempersilahkan Rajanya turun.


Raja Bhian membantu Zhia turun dengan memegangi tangan gadis itu. Keduanya terus bergandengan tangan memasuki tempat makan yang ramai karena kedatangan mereka.


Bahkan para warganya tampak antusias melihat kedatangan sang Raja. Mereka berbaris membuka jalan untuk Raja Bhian dan Zhia, si pemilik tempat makan bahkan tersenyum senang dan cerah menyambut kedatangan orang paling berkuasa di kerajaan mereka.


"Selamat datang Yang Mulia, Tuan Putri, mari ikut saya ke lantai atas" ucapnya.


Pemilik tempat makan itu berjalan lebih dulu menunjukkan di mana tamu istimewanya itu bisa duduk. Zhia sedikit melihat-lihat sekitarnya di mana banyak orang yang melihat mereka. Walau lebih dominan para wanita yang menatap penuh kekaguman pada Raja Bhian.


Apa mereka tidak pernah melihat pria tampan sampai seperti itu batin Zhia yang tadi sempat melihat ada beberapa wanita yang sepertinya masih belia. Wanita-wanita itu terlihat ada yang menggigit kuku tangannya sendiri, ada yang menggenggam selendangnya erat dan ada yang melongo melihat Raja Bhian.


Bahkan di barisan belakang dapat terdengar beberapa orang juga yang berteriak memanggil Raja Bhian dengan antusiasnya hingga melompat-lompat agar dirinya terlihat.

__ADS_1


Reaksi alami yang di lakukan wanita kala melihat pria tampan, apa lagi laki-laki yang menjadi idola. Maka teriakan wanita akan menjadi lebih kencang lagi. Dengan ekspresi berbeda-beda kala melihat idolanya secara langsung.


Zhia hanya menghela napas sejanak kala melihat hal itu, resiko punya pasangan tampan dan menjadi pujaan banyak orang. Harus sabar dan kuat iman batin Zhia.


"Sipahkan Yang Mulia, Tuan Putri, ini tempat yang paling luas di tempat makan kami" ucap si pemilik.


Raja Bhian membawa Zhia masuk dan duduk di sana, ruangan yang dekat dengan jendela yang menampakkan kondisi di luar yang masih saja ramai dengan orang-orang yang berkumpul di depan. Bahkan saat mengetahui di mana keberadaan Raja Bhian para penggemar pria itu kembali berteriak memanggil dan menatap keatas di mana ruangan Raja Bhian berada.


"Mohon tunggu sebentar yang Mulia, Tuan Putri, kami akan menyajikan makanan secepatnya" ucap si pemilik tempat makan.


"Cepatlah, dan layani para prajurit dengan baik" sahut Panglima Qai.


Memang sudah menjadi tugas Panglima Qai menyiapkan segala kebutuhan Raja Bhian kalau di luar dan dirinya ikut. Kalau Panglima Qai tidak ikut maka ada prajurit yang menjadi pimpinan keamanan yang menggantikan.


"Baik Panglima" kata pemilik tempat makan itu berlalu pergi.


Zhia mengdengus kesal karena teriakan para wanita yang maish terdengar di bawah sana. Apa lagi Raja Bhian yang duduknya bisa terlihat ke luar karena jendela besar di sana. Zhia mendorong Raja Bhian pelan agar menyingkir dan menjauh dari jendela.


Tapi Raja muda yang tidak paham atau lebih cuek sebenarnya dengan apa yang terjaid di luar karena sudah biasa baginya. Pria itu menatap Zhia bingung dan maish pada posisinya duduk.


"Geser, jangan dekat jendela atau mereka akan semakin berisik" sahut Zhia masih berusaha mendorong tubuh Raja Bhian.


"Abaikan saja, sudah biasa mereka seperti itu" santai raja Bhian yang malah melihat ke arah luar yang semakin membuat para wanita di luar histeris.


"Kenapa malah melihat keluar sih? " jengkel Zhia menerik wajah Raja Bhian agar melihat dirinya.


Raja Bhian dapat melihat wajah Zhia yang kesal dan dari matanya juga nampak ada kecemburuan. Muncul ide untuk sedikit mengerjai gadis di sampingnya ini untuk melihat bagaimana reaksi Zhia kalau sedang cemburu.


Tangan Zhia di tarik lepas oleh Raja Bhian dari wajahnya, lalu pria itu kembali melihat kearah luar yang kembali membuat para penggemarnya berteriak histeris.


Kembali Zhia menarik wajah calon suaminya dengan kesal.

__ADS_1


"Kenapa sih? Cami mau lihat mereka" ucap Raja Bhian dengan tampang polosnya.


"Jangan!" ucap Zhia memeluk Raja Bhian di bagian bahu tangan kanannya dan tangan kiri di bagian samping dada pria itu lalu menariknya kembali.


"Kenapa catri sayang? Cami mau menyapa mereka tuh, penggemar Cami sudah di bawah" kata Raja Bhian santai.


"Tid..."


"Yang Mulia aku mencintaimu" terdengar suara teriakan keras dari bawah yang membuat ucapan Zhia terhenti.


Dengan sengaja Raja Bhian kembali melihat kebawah walau tampangnya datar dan tidak ada senyuman. Tapi itu tidak masalah bagi para wanita di bawah sana yang masih saja meneriaki sang Raja.


Zhia yang sudah sangat kesal dengan perasaan yang seperti tidak suka dengan ucapan para wanita itu yang terang-terangan mengatakan cinta. Bahkan Raja Muda itu terlihat menyingkap sedikit bajunya bagian bawah leher dan mengelus di bagian sana.


Mata Zhia melotot kaget dengan mulut yang sedikit terbuka melihat apa yang di lakukan Raja bhian, seakan apa yang di lakukan pria itu sedang menggoda, para wanita di bawah sana semakin berteriak kencang.


Zhia menarik tubuh pria di sampingnya dengan telapak tangannya yang di gunakan untuk menutupi bagian yang tadi di sentuh pria itu.


"Apa-apaan sih Cami? kamu mau goda mereka ya?" marah Zhia merapatkan kembali bagian yang tadi di singkap Raja Bhian.


"Siapa yang mau menggoda mereka sih Catri? tadi itu seperti ada serangga yang masuk" ucap Raja Bhian.


Gadis yang sudah di bakar kecemburuan itupun tidak percaya dengan apa yang di katakan Raja bhian. Apa lagi hatinya sudah terlanjur panas melihat kelakuan calon suaminya.


"Serangga apa? sejak tadi kamu sengaja lihat-lihat bawah untuk godain merekakan!" kata Zhia.


"Tidak Catri memang tadi ada sera...kamu mau apa?" Raja Bhian menahan kedua tangan Zhia yang memegang baju bagian bawah lehernya seperti apa yang di lakukan Raja Bhian tadi.


"Ada serangga masuk kedalam" kata Zhia melotot pada Raja Bhian, sengaja Zhia melakukan itu karena sudah kesal, walau tidak sungguhan melakukannya.


Tangan Raja muda itu meraih penahan tirai hingga jendela tertutup tirai. Sedangkan satu tangannya lagi meraih Zhia kepelukannya agar gadis itu tidak membuka bajunya.

__ADS_1


"Tidak... tidak... tidak ada serangga disini jadi jangan di buka" ucap Raja Bhian panik. Bisa gawat kalau sampai Zhia buka baju, dirinya saja belum melihat masa orang lain harus melihat juga pikirnya.


Sementara Raja Bhian panik akibat ulah Zhia, Panglima Qai dan kedua pelayan Zhia keluar pelan-pelan dari ruangan itu agar bisa tertawa. Baru kali ini mereka melihat tingkah sang Raja yang seperti itu. Dari pada kena marah karena tertawa di dalam lebih baik cari aman saja pikir mereka.


__ADS_2