Calon Ratu

Calon Ratu
15


__ADS_3

Zhia membuka sedikit tirai di sampingnya dan melihat sepanjang jalan yang di laluinya begitu indah dengan berbagai macam hiasan.


"Apa mereka sangat senang ya kalau aku pergi dari kerajaan ini sampai semua tempat di hias begitu" ucap Zhia pelan. Ungkapan itu hanya sebagai gurauan hatinya saja, dari pada hanya diam pikirnya.


Lain pula pemahaman bagi pria di sebelahnya yang salah mengartikan ucapan gadis itu.


"Rakyat ayah mertua pasti tidak sejahat itu sampai harus senang karena kepergianmu kan!" seru Raja Bhian menarik perhatian Zhia yang langsung menatapnya.


Zhia menghela napas lalu kembali melihat ke arah luar lagi.


"Kenapa tidak ada orang yang bisa memahamiku, bahkan gurauan pun jadi serius bagi orang-orang" ucap Zhia.


Raja Bhian yang mendengar ituhanya geleng kepala. Sekarang aku sedang berusaha untuk memahami semua tentang dirimu, walau baru sedikit aku mengetahuinya tapi itu cukup membuatku kagum padamu gumam Raja Bhian dalam hati.


Tidak lama kemudian kereta kuda berhenti di aula kota yang sudah banyak orang-orang berkumpul menunggu kedatangan keduanya. Prajurit langsung membentuk berisan membuka jalan untuk tuan putri mereka menuju panggung yang sudah di sediakan.


Raja Bhian turun lebih dulu lalu mengulurkan tangannya membantu Zhia turun dari ekreta kuda. Tentu Zhia menerimanya karena ia yang sedikit kesulitan bergerak dengan gaun besar dan sedikit panjang yang di kenakannya.


Zhia memeluk lengan tunangannya sembari berjalan dengan mengumbar senyuman bahagianya. Semua orang yang hadir nampak terpesona dengan jedatangan tuan putri mereka yang selama ini tersembunyi.


Kini mereka dapat melihatnya dengan jelas bergandengan tangan dengan sang calon suami. Seorang anak kecil mengulurkan setangkai bunga lily pada Zhia, dengan keadaannya yang terjepit di antara banyaknya orang berdesakan ingin bertemu.


Mata tajam Raja Bhian tanpa sengaja melihatnya saat tubuh kecil itu di tarik mundur seseorang yang lebih besar darinya hingga bunga di tangannya jatuh dan terpijak. Raja Bhian menghentikan langkahnya lalu mendekati posisi di mana anak kecil itu tadi berdiri.


"Mana anak kecil tadi?" tanya Raja Bhian dengan tatapan intimidasi pada remaja pria yang menarik anak kecil tadi.


Takut melihat tatapan mengerikan dari Raja Bhian, remaja itu tidak menjawab karena tubuhnya sudah gemetaran.


"Kenapa?" tanya Zhia mendekat.


"Cari anak kecil yang pakai gaun merah selutut di barisan ini hingga belakang" tunjuk Raja Bhian pada bagian tepat di depannya.


Prajurit langsung bergerak melakukan permintaan calon menantu Raja mereka. Orang-orang memberi jarak saat para prajurit mulai bergerak mencari, dan tidak butuh waktu lama anak kecil yang di maksud di temukan dalam keadaan yang sudah kotor.


"Astaga! apa yang terjadi padanya?" kaget Zhia mengulurkan kedua tangannya ingin meraih tubuh kecil itu.

__ADS_1


"Jangan tuan Putri biar kami bersihkan dulu anak kecil ini, kami akan mengganti pakaiannya agar lebih layak" ucap pelayan pelan meraih tubuh kecil itu dari prajurit dan langsung membawanya.


Zhia nampak kesal dengan kedua tangannya yang berada di pinggang.


"Pastikan kamu memperlakukannya dengan baik" ucap Zhia dengan suara dinginnya yang membuat orang-orang kaget.


Ternyata di balik paras cantiknya tuan putri mereka, terdapat juga sikap garang yang tak kalah menyeramkannya dari pria yang menjadi tunangannya itu batin mereka.


Raja Bhian menghela napas sejenak kala melirik bunga lily yang tadi di bawa anak kecil itu sudah hancur. Raja Bhian merangkul pinggang Zhia dan membawanya menuju tempat mereka.


"Maaf Tuan Putri, Yang Mulia Raja, kalau kejadian tadi membuat tidak nyaman" ucap seorang pria tua yang tak lain Gubernur di kota itu.


"Beri gaun terbaik untuk anak kecil tadi" ucap Zhia menatap tajam sang Gubernur yang menunduk takut.


"Baik Tuan Putri, akan segera saya lakukan" sahutnya dan menjauh untuk memberi perintah pada bawahannya.


Raja Bhian dan Zhia duduk di tempat yang di sediakan untuk mereka sembari menunggu. Banyak pejabat dari daerah lainnya juga yang hadir di sana, tidak jauh-jauh dari mencari muka untuk popularitas dan pangkat. Apa lagi yang datang kali ini kesayangan keluarga Raja.


"Tuan Putri butuh sesuatu? kami akan menyediakannya dengan segera" ucap salah seorang pejabat lain.


"Benar, Tuan Putri hanya tinggal mengatakannya saja" sambung yang lain.


Zhia melirik wanita yang di maksud pria tersebut yang berdiri tepat di sampingnya. Zhia menghela napas kala mendapati mata wanita itu dengan genitnya melirik calon suaminya.


Bukan hanya wanita itu saja, tapi beberapa wanita lainnya yang sepertinya anak pejabat dan bangsawan di sana menatap genit dan penuh minta pada Raja Bhian.


"Anak saya juga bisa menemani Tuan Putri berbincang"


"Anak saya sangat cantik, baik dan lembut, sangat cocok dengan Tuan Putri"


Zhia mengela napas panjang dengan bola mata yang di putar malas. Dasar para penjilat batin Zhia.


"Saya memang akan meminta tolong pada kalian" seru Zhia membuat para pejabat itu tersenyum, juga anak mereka yang tersenyum centil.


"Katakan saja Tuan Putri, kami pasti akan menurutinya"

__ADS_1


"Tolong menyingkir dari hadapan saya sekarang, kalian merusak pemandangan" ucap Zhia tegas dan ketus, jangan lupakan juga tatapan tajamnya.


Zhia merasa sangat terganggu dengan apa yang di lakukan para pejabat itu. Inilah alasan mengapa Zhia tidak suka ikut terlibat dalam setiap pertemuan kerajaan dan acara penting lainnya. Kalaupun Zhia di haruskan hadir maka ia hanya akan bertahan selama tiga puluh menit saja.


"Bawa anak kalian sebelum mata mereka berpindah tempat" geram Zhia menatap tajam dan marah pada wanita-wanita yang masih berdiam diri di hadapannya dengan tatapan yang tidak berpaling dari Raja Bhian.


Mendengar ucapan telak dari Putri kerajaan mereka, membuat orang-orang itu langsung menyingkir secepat mungkin. Bahkan para wanita itupun tak kalah paniknya saat mendenga gertakan Zhia juga tatapan mematikan itu.


Walaupun hati geram tapi apa boleh buat, orang tua mereka bukanlah apa-apa bagi sang Tuan Putri. Jadi lebih baik mundur dari pada kehilangan semua kemewahan pikir mereka.


Raja Bhian hanya diam saja dengan terus memeluk bahu Zhia untuk menunjukkan kalau hanya gadis itu yang di inginkannya. Raja Bhian tidak ingin ikut campur dengan masalah sepele yang sedang mereka hadapi selama calon istrinya masih bisa mengatasi, apa lagi Zhia bukan gadis lemah yang mudah di tindas.


Cukup sudah tadi Raja Bhian bertindak karena kasihan dan tidak tega dengan anak kecil yang di tindas tadi. Dengan wajah datarnya, Raja Bhian hanya diam saja bahkan saat para wanita anak pejabat tadi terang-terangan menggodanya melalui tatapan dan senyuman mereka.


Acara sudah berlangsung dan tidak jauh dengan di dalam istana. Para seniman menunjukkan bakat terbaik mereka untuk menyambut sang Tuan Putri yang baru mereka temui.


Anak kecil yang tertindas tadipun sudah di bawa menemui Zhia dan Raja Bhian dengan keadaan yang sudah lebih baik. Pakaian yang di kenakannya membuatnya terlihat cukup cantik dan menggemaskan.


"Ugh lucunya" gemas Zhia memeluk anak kecil itu dengan senang dan tersenyum bahagia. Raja Bhian mengelus kepala anak kacil itu tanpa senyuman tapi sentuhannya lembut.


"Siapa nama kamu?" tanya Zhia setelah melerai pelukan mereka.


"Kekei" ucapnya.


"Kenapa kamu bisa sampai kotor? dimana orang tua kamu?"


"Ibu ayah sudah tidak ada, Kekei sendirian jual bunga, tapi tadi bunganya jatuh" wajah anak kecil itu terlihat muram dan sedih.


"Saudara yang lainnya?" tanya Zhia lagi.


Kekei hanya menggeleng lalu menunduk.


"Untuk apa kamu menjual bunga itu?"


"Untuk beli makanan" ucap Kekei polos.

__ADS_1


"Kekei sudah makan?" lagi, Kekei menggeleng lemah karena memang hari ini ia tidak dapat menjual satu bungapun.


Zhia jadi penasaran dengan apa yang terjadi dengan kehidupan Kekei. Dan akhirnya memutuskan untuk membawa Kekei ke istana dan nantinya akan meminta bantuan ayahnya untuk mencari tahu tentang Kekei dan keluarganya.


__ADS_2