Calon Ratu

Calon Ratu
32


__ADS_3

Raja Bhian dan Zhia saat ini sedang bersama menikmati sore hari di taman buah. Keduanya bahkan memetik sendiri buah yang mereka inginkan sembari sembari jalan-jalan di sekitar taman.


Para prajurit yang biasa mengawal sang Raja dan calon istrinya pun hanya di minta berdiam diri di bagian depan taman saja karena keduanya yang ingin menikmati waktu berdua saja.


"Bukankah besok kita harus pergi ke acara panen buah di desa?" tanya Zhia sembari menikmati buah jeruk di tangannya yang sudah di kupas Raja Bhian.


"Iya, besok pagi kita berangkat" pria itu menatap Zhia yang hanya mengangguk sambil makan jeruk.


"Besok juga hari terakhir yang kamu berikan untuk orang-orang yang ingin menjadi selir kan?" tanya Raja Bhian balik dan hanya di angguki oleh Zhia.


"Kamu tidak ingin melihat mereka lebih dulu? atau setidaknya berkenalan jadi kamu tahu mana anak dari orang yang sudah menghina kamu" ujar Raja Bhian menyambar jeruk yang akan masuk ke mulut Zhia dan berpindah ke dalam mulutnya sendiri.


Zhia tidak mempermasalahkan apa yang di lakukan Raja Bhian tadi, malah dirinya kembali menyuapkan jeruk yang ada di tangannya pada pria itu. Tentu saja Raja Bhian menerimanya dengan senang hati.


"Mungkin nanti setelah kita kembali dari acara panen buah, Catri tidak mau melewatkan waktu memanen buah hanya untuk berkenalan dengan mereka, biar mereka yang menunggu" kata Zhia santai.


Raja Bhian meraih satu buah apel dari pohon yanh mereka lewati, mengelapnya dengan lengan pakaiannya lalu memakannya.


"Kok tidak di cuci dulu!" heran Zhia melihat kelakuan pria di sampingnya yang bisa langsung makan buab tanpa di cuci. Biasanya seorang Raja akan sangat mengutamakan kebersihan dan kesehatan dirinya, tapi lain pula Raja di sampingnya.


"Vitamin" sahutnya sembari terus mengunyah.


"Lagian semua buah di sini selalu di siram dari atas pohon dan dari beberapa sisinya untuk memastikan semua buahnya bersih sejak buah itu mulai besar dan akan matang" lanjutnya.


Putri Zhia mengangguk sembari melihat kearah beberapa pohon buah yang memang nampak buahnya bersih. Bahkan beberapa masih terlihat basah hingga di bagian bawahnya karena sejam yang lalu juga baru di siram oleh pengurusnya.


Kedua orang itu duduk di salah satu kursi yang ada di bawah pohon mangga. Aroma manis dari buah yang sudah matang membuah Zhia menjadi selera dan tidak sabar untuk memetiknya.

__ADS_1


"Jangan!" Zhia melihat Raja Bhian yang memegang tangannya yang satunya dan menarik gadis itu duduk kembali.


"Kenapa? buahnya juga udah matang dan aromanya sangat manis, uhm pasti rasanya semanis aromanya" ucap Zhia melihat penuh minta buah yang mengantung di sisi pohon.


"Mangga ada getahnya walau buahnya sudah matang, nanti minta pengurus memetiknya supaya pelayan bisa mengupasnya, jangan coba-coba kamu mengupas sendiri buahnya, mengerti" kata Raja Bhian tegas, ia tidak mau kalau tangan Zhia lengket kena getah dari buah mangga.


Apa lagi Zhia kalau sudah makan buah yang di inginkannya tidak sabaran dan bisa saja kulitnya langsung di gigit tanpa di kupas. Membayangkan betapa nanti Zhia akan menggigit kulit mangganya atau malah kulitnya dimakan juga, Raja Bhian sudah tidak dapat berkata lagi.


jadi sebelum hal yang ada di bayangannya terjadi pria itu lebih dulu memberi peringatan tegas pada Zhia.


"Baiklah baiklah, yang penting nanti bisa makan mangganya" pasrah Zhia tidak berani membantah kalau pria di sampingnya sudah berkata dengan nada tegas. Sudah jadi kebiasaan Zhia yang tidak akan menentang perkataan tegas dari keluarganya, maka sekarangpun begitu juga di terapkannya.


Kalau calon suaminya sudah berkata dengan nada tegas padanya, maka Zhia tidak akan melanggar ucapan dari pria itu. Dari pada kena imbasnya nanti cuma karena tidak menurut batin Zhia.


Kedua sejoli itu terus berbincang ringan sembari memetik beberapa buah lagi untuk mereka makan sembari menikmati waktu seperti ini. Hingga akhirnya datanglah Panglima Qai menhadap saat mereka baru sampai di bagian depan taman.


Yang di beri hormat hanya mengangguk kecil sebagai jawaban dari hormat yang di berikan Panglima Qai.


"Tuan Putri, saya ingin menyampaikan sesuatu mengenai para wanita yang akan ikut mendaftar menjadi selir dan Permaisuri" ucap Panglima Qai membuat perhatian Zhia teralihkan.


Tadinya gadis itu memanggil kedua pelayannya dan seorang penjaga taman untuk mengambil apa yang di inginkannya. Dan kedua pelayannya diminta untuk menyiapkan buah yang di inginkannya itu agar bisa langsung di makan.


Tapi mendengar ucapan Panglima Qai sungguh membuatnya penasaran. Apa sudah ada yang datang pikirnya.


"Katakan" ucap Zhia.


"Sudah ada sekitar tiga puluh orang yang mendaftar, anak perempuan para mentri, beberapa pejabat daerah terdekat istana dan anak bangsawan, mereka sudah berada di aula berkumpul setelah mendaftar" jelas Panglima Qai.

__ADS_1


"Sebanyak itu?" kaget Zhia, dirinya tidak menyangka kalau ternyata berita yang bahkan baru berhembus itu sudah mendapatkan banyak perhatian hingga banyak orang berbondong-bondong untuk ikut berpartisipasi dalam acara pencarian selir dan permaisuri.


"Itu belum semua Tuan Putri, dari laporan beberapa penjaga perbatasan kota yang masuk hari ini, ada banyak anak pejabat dari kota lainnya dan juga anak bangsawan yang bergerak menuju istana, kalau perhitungan saya tidak salah kemungkinan besok pesertanya akan mencapai seratus atau bahkan lebih" jelas Panglima Qai lagi.


"Apa?" kaget Zhia melotot tidak percaya, pandangan gadis itu beralih pada pria di sampingnya yang terlihat santai dan biasa saja. Seolah berita yang di sampiakan oleh bawahannya itu tidak berarti sama sekali.


"Kerjaaan ini sudah sangat lama tidak memiliki Selir dan Permaisuri sejak kakek yang memimpin, kakek memegang janji setianya pada nenek yang kala itu baru di nikahinya dan menjadi Ratu, nenek sakit lumayan parah dan kesehatannya terus menurun sejak berhembusnya kabar kalau kakek harus memiliki Permaisuri dan Selir untuk menggantikan sang Ratu yang sakit, jadi kakek bersumpah dan berjanji setia pada nenek kalau hanya nenek satu-satunya wanita pendamping baginya hingga akhir, kakek membuktikannya dengan selalu ada untuk nenek hingga akhirnya nenek sembuh, dari sanalah kakek juga terus menanamkan kesetiaan pada anak dan cucunya hanya untuk satu wanita yang di pilih menjadi pasangan" jelas Raja Bhian.


"Wah kakek ternyata pria yang manis ya" puji Zhia dengan pandangan kagum.


"Begitulah kakek, masa lalu membuatnya memjadi pria yang setia pada satu wanita saja yang berhasil mendapatkan hatinya dan itu di wariskan kepada kami" ucap Raja Bhian yang sekalian memberitahukan kepada Zhia secara tidak langsung kalau dirinya juga hanya akan setia pada satu wanita saja.


Sekarang Zhia paham kenapa pernyataannya waktu itu negitu menggemparkan, ternyata sudah sangat lama orang-orang menantikan kesempatan menjadi bagian dari dalam istana melalui pernikaha dengan menjadi Selir atau Permaisuri.


Semakin banyak orang semakin bagus batin Zhia.


"Ya sudah, tutup pendaftarannya jam lima sore dan suruh mereka datang dua hari dari sekarang, saya sendiri yang akan mengurus mereka nanti" ucap Zhia tegas penuh keyakinan.


"Baik Tuan Putri, kalau begitu saya undur diri" Panglima Qai pergi menuju aula di mana para wanita sedang mendaftar.


"Apa kamu benar-benar yakin dengan itu semua? maksudnya anak para pemilik kekuasaan itu sangat merepotkan segala tingkah dan kelakuan mereka" ucap Raja Bhian melihat Zhia yang sudah meliriknya tajam.


"Jadi maksud Cami, Catri juga merepotkan begitu? bahkan ayah Catri lebih berkuasa dari mereka" protes Zhia tidak terima dengan tangan yang bersedekap.


Raja Bhian tersenyum tipis lalu mengangkat tubuh Zhia di kedua lengannya layaknya pasangan pengantin. Dan membawa Zhia berjalan menuju kediaman utama.


"Kalau catri bukan membuat repot tapi membuat Cami bahagia" ucap Raja Bhian lirih di dekat telinga Zhia yang membuat gadis itu kegelian hingga terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2