
Upacara pernikahan selesai, begitupun dengan pemberian gelar Ratu pada Zhia. Dan kini resmilah Zhia menjadi seorang istri dan Ratu di kerjaaan Sun itu.
Setelah semua proses acara resmi itu selesai kini tibalah acara yang santai. Semua orang bergembira dengan perayaan yang sudah mereka nantikan itu.
Berbagai hiburan di sediakan bahkan para rakyat yang bekerja sebagai pelayan di beri kebebasan selama setengah hari setelah pekerjaan mereka selesai. Kecuali mereka yang memang ikut berpartisipasi untuk meramaikan acara yang berlangsung.
Raja Bhian dan Ratu Zhia duduk bersanding di singgasana yang ada di aula tempat acara perjamuan para tamu penting. Anggota keluarga dari kerjaan Month juga berada di sana semuanya.
Raja Bhian duduk dengan gagah dan wajah datarnya yang mendominasi di atas, meski tampan. Sedangkan Zhia yang duduk di sebelahnya menampakkan biasa saja meski bagi orang lain terlihat tegas dan berwibawa.
"Ratu Zhia sangat cantik ya!" bisik para tamu yang melihat Ratu Zhia.
"Iya, sungguh beruntung Raja Bhian bisa mendapatkannya" sambung yang lain yang merupakan kelompok para Pangeran.
"Andai aku tahu di kerajaan Month ada permata yang begitu indah sudah pasti aku akan lebih dulu mendapatkannya"
"Memangnya kamu mampu menghadapi para Pangeran di kerajaan Month? belum lagi Pangeran ke duanya, Pangeran Jagar! hiih garang"
"Setidaknya aku mungkin punya kesempatan untuk pendekatan kan sama adik perempuan mereka, masa iya mereka bakalan nyakitin orang yang dekatin adik mereka sih!"
"Tergantung adiknya sih, syukur-syukur kau di terima kalau di tolak dan malah di anggap mengganggu!"
"Bisa habis babak belur lah"
Para pangeran itu terkekeh pelan akan ucapan mereka yang tidak mungkin menjadi nyata itu. Untung saja posisi duduk mereka berada di barisan belakang para Raja dan Permaisuri dari kerajaan lain.
Sedangkan saudara Ratu Zhia berada di barisan dekat dengan singgasana jadi tidak mendengar apa yang mereka ucapkan.
__ADS_1
"Kalau aku tahu di kerjaan Month ada gadis secantik itu, aku pasti akan mendapatkannya bagaimanapun caranya" ucap seorang Raja muda yang ada di bagian paling ujung barisan dengan suara lirih dan di dengar pengawalnya.
"Yang Mulia benar, gadis itu sangat cantik dan menawan, apa lagi aura yang di milikinya sangat berbeda dengan yang lainnya" sahut pengawal si Raja yang ada di sebelahnya karena posisinya yang ada di barisan ujung jadi pengawalnya di ijinkan menemani.
"Alu harus merebut gadis itu darinya" tekat si Raja muda sembari menatap Ratu Zhia degan penuh minat.
Pengawal yang ada di sebelahnya membelalakkan mata kaget mendengar apa yang di ucapkan Rajanya.
"Anda yakin Yang Mulia? menurut saya itu hanya akan menghancurkan diri sendiri" ucapnya.
"Kenapa tidak yakin! kerajaan kita juga bukan kerajaan kecil yang mampu di tindas dan bisa melawankan!" kata si Raja lagi yang membuat pengawalnya semakin was-was.
"Yang Mulia, kita hanya akan mengalami kerugian besar kalau berani merebut Ratu kerajaan Sun ini, bukan hanya sekedar materi tapi kemungkinan besarnya kita akan kehilangan kerjaan kita" ujar si pengawal mengingatkan kemungkinan buruk yang akan mereka terima.
"Itu tidak mungkin!" sangkalnya.
"Itu kenyataan Yang Mulia, kerjaan Sun adalah kerjaan terbesar di antara seluruh kerjaan yang ada dan sudah sangat besar pengaruhnya, lalu di bawahnya ada kerjaan Month yang merupakan tempat Ratu Zhia berasal" si pengawal mencoba menyadarkan Rajanya yang suka gegabah itu.
Hah.. yang ada malah kita akan keluar banyam tenaga sebelum peperangan yang sesungguhnya, kenapalah harus dia yang jadi Raja kami batin si pengawal memilih diam tanpa berkata lagi karena jika terus di layani ucapan si Raja muda itu maka kalimatnya akan semakin tidak karuan. Ia malah lebih memilih memikirkan cara untuk menghalangi niat Rajanya itu, untuk sudah menyiapkan bekal dari rumah pikirnya.
Sedangkan Raja Bhian yang sejak tadi merasakan kalau ada seseorang yang terus memperhatikan istrinya merasa tidak senang. Perhatiannya bukan sekedar kagum biasa, tapi seperti ada suatu keinginan untuk memiliki.
Mungkin karena terlalu fokus melihat Ratu Zhia hingga tidak menyadari kalau ada yang menatapnya tidak suka.
Raja Bhian menggerakkan tangannya memanggil kasim yang berdiri di samping tak jauh dari tempat duduknya. Membisikkan sesuatu pada sang kasim untuk menyelesaikan hal yang mengganggu tanpa membuat keributan.
Acara terus berlangsung hingga selesai, Raja Bhian berdiri di ikuti semua orang di ruangan itu.
__ADS_1
"Terimakasih untuk semua tamu undangan dan para pejabatku yang sudah hadir, terimakasih juga untuk semua orang yang sudah ikut berpartisipasi dalam memeriahkan acara kita, saya harap semua orang berbahagia dan bersenang-senang hari ini" ucap Raja Bhian tegas dan lugas.
"Terimakasih Yang Mulia Raja Bhian atas perjamuannya" sahut orang-orang yang hadis di sana sembari memberi hormat yang di balas oleh Raja Bhian dan Ratu Zhia tentunya.
Setelah itu Raja Bhian mengulurkan tangannya ke arah Ratu Zhia yang tentunya di sambut hangat oleh Ratu Zhia dengan senyumab tipisnya. Keduanya berjalan keluar meninggalkan aula itu untuk menikmati waktu berdua.
Saat melewati seorang Raja muda yang sejak tadi menatap Ratu Zhia penuh minat, Raja Bhian melirik sekilas tanpa di ketahui siapapun. Bibienya sedikit terangkat tipis menandakan bahwa 'jangan coba-coba mengusik miliknya'.
Raja muda yang tadi berencana akan merebut Zhia sudah mabuk meski masih sadarkan diri dan bisa mengendalikan diri. Pengawalnya langsung membawa Rajanya keluar untuk langsung kembali pulang ke kerajaan mereka demi menghindari keributan yang bisa saja timbul.
Hari semakin gelap kala Raja Bhian dan Ratu Zhia tiba di halaman belakang kediaman utama setelah tadi berkeliling istana. Mereka duduk berdua di bawah sinar bulan, Raja Bhian menyilangkan tangan mereka berdua saat akan minum agar terlihat lebih mesra
(anggap aja begitu ya posisinya😊)
Setelah minum Raja Bhian menatap Ratu Zhia dengan penuh cinta yang membuat Ratu Zhia tersipu malu.
"Apa kamu suka dengan acara hari ini?" tanya Raja Bhia di angguki Ratu Zhia.
"Kenapa tidak bilang kalau hari ini juga pernikahan kita? bukannya waktu itu sepakatnya tiga bulan setelah pertunangan ya!" ucap Zhia yang malah mendapat senyuman manis dari suaminya.
"Supaya tidak ada yang merebut kamu dariku, kalau sudah jadi istriku apa lagi Ratu di kerajaan ini makan semua rakyat juga akan ikut menjaga kamu, karena mereka juga akan merasa memiliki kewajiban untuk keselamatan Ratu mereka, meski kamu akan mendapatkan semua penjagaan dan pengawalan" ujar Raja Bhian yang kemudian semakin mendekatkan wajahnya ke arah Zhia yang membuat gadis itu semakin merona.
"Lagi pula aku tidak ingin sesuatu yang baik harus di tunggu terlalu lama supaya kita bisa mulai segera proses memiliki keturunan" dengan segera Raja Bhian mengangkat tubuh Ratu Zhia.
"Ki kita mau kemana?" tanyanya gugup dan masih ada rasa kaget juga karena tindakan dan ucapan tidak terduga dari suaminya.
__ADS_1
"Ke kamar pengantin kita" bisik Raja Bhian tersenyum, begitupun juga dengan Zhia yang ikut tersenyum pula. Rona bahagia terpancar jelas di wajah keduanya saat ini hingga tidak ingin waktu cepat berlalu agar kehangatan itu tidak cepat berlalu.
Selesai......