Calon Ratu

Calon Ratu
62


__ADS_3

Raja Bhian tidak membunuh pemimpin sihir api karena itu bukan tujuan utamanya. Meski marah karena rakyatnya sudah di buat menderita, dan pria itu juga sudah dengan kurang ajarnya mengatakan hal kurang sedap pada Zhia. Raja Bhian tidak akan membunuh pria itu.


Bagaimanapun juga pemilik sihir tidak boleh di bunuh karena itu hanya akan semakin menghilangkan generasi penerus pemilik sihir yang sangat langka.


Pemilik sihir yang tersegel akan hilang ingatan selamanya, tanda kepemilikan sihir di tubuhnya juga akan hilang. Dan kekuatannya akan turun pada keturunannya yang memiliki tekat kuat dan pantang menyerah. Walau sihir itu baru akan di rasakan dan di ketahui nanti setelah berumur tujuh belas tahun.


Itulah alasan utama Raja Bhian tidak membunuh pemimpin sihir api. Yang penting baginya saat ini adalah memulihkan kembali keadaan di daerah Parean ini agar kembali pulih seperti sebelumnya.


Zhia masih berdiri di tempatnya tadi tanpa bergerak, melihat Raja Bhian yang mulai mengeluarkan sihirnya untuk menumbuhkan tanaman di daerah tandus itu.


"Catri, bisa kamu basahi daerah ini?" Raja Bhian melihat Zhia yang masih diam.


"Sumber air cukup dalam di bawah tanah"


Raja Bhian mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Zhia. Jarinya di jentikkan yang seketika tanah terbelah hingga kedalaman satu meter.


"Hanya satu meter di dalam tanahkan airnya!" ucapnya.


Zhia nyengir menanggapi kalimat Raja Bhian yang benar adanya. Kekeringan akibat ulah pemilik sihir api memang tidak sampai terlalu parah hingga ke dalam tanah. Tidak sampai satu meter tanah yang bisa kering karena ulah mereka. Jadi cadangan air di dalam tanah masih ada di ke dalaman satu meter.


Gadis itu berjalan mendekati pecahan tanah yang di buat Raja Bhian. Meletakkan ujung pedangnya di pinggiran pecahan tanah itu. Permukaan tanah yang tadinya kering perlahan mulai nampak basah dan lembab. Bahkan di beberapa genangan sudah terisi dengan air.


Raja Bhian langsung menggunakan sihirnya untuk menghidupkan kembali semua tanaman di tempat itu. Pohon-pohon yang tadinya kering tanpa daun kini sudah terlihat menghijau lagi.


Rumput dan tumbuhan lainnya juga ikut hidup di sana.


Pandangan Zhia menyisir seluruh tempat di sekitarnya yang sudah berubah menjadi hijau dan sejuk dengan pepohonan besar dan tumbuhan kecil lainnya.


"Apa ini kawasan hutan Cami?" tanya Zhia.


"Iya, tempat ini sebenarnya kawasan hutan, banyak binatang di dalam hutan ini sebelumnya, mungkin pemilik sihir api itu memulai aksinya dari tempat ini dulu" sahut Raja Bhian menarik perhatian Zhia.


"Kenapa harus dari tempat ini? hutan inikan luas!" Zhia berjalan mendekati Raja Bhian yang menatapnya.

__ADS_1


"Karena hutan ini luas maka mereka harus menghabisi kawasan ini dulu supaya bisa menaklukan yang lainnya, hutan ini mengelilingi separuh bagian desa dan menjadi batas dengan daerah lainnya, hutan ini juga yang menjadi sumber pencarian bahan bakar dan bangunan warga, meski hasil pertanian besar dari daerah ini tapi kalau mau menaklukkan daerah ini memang harus dari hutan ini terlebih dahulu" jelas Raja Bhian.


Zhia mengangguk paham dengan apa yang di maksud oleh pria di depannya ini.


"Ya kamu benar, karena walaupun di desanya mengalami kekeringan dan kehilangan pekerjaan di pertanian, masih ada hutan ini yang akan memberi mereka kehidupan, mencari makanan, air dan yang lainnya bisa di lakukan di hutan i yang luas ini dan itu cukup untuk semua warga mengingat sumber air yang melimpah di bawah perlindungan pohon-pohon besar" ucap Zhia.


Raja Bhian tersenyum mendengar kesimpulan dari Zhia tentang tempat itu. Tangan kanan Raja Bhian merangkul bahu gadis di depannya.


"Sekarang kita kembali ke desa untuk melihat bagaimana keadaan para gadis dan anak-anak di sana" ajak Raja Bhian.


"Baiklah" Zhia melingkarkan kedua tangannya di leher Raja Bhian, menatap pria yang mengangkat kedua alisnya heran dengan apa yang di lakukan oleh Zhia.


"Ayo kita ke desa" ajak Zhia kala melihat kebingungan di wajah calon suaminya.


"Apa yang Catri lakukan?" tanya Raja Bhian dengan wajah polosnya tanpa sadar akan maksud dari keinginan Zhia yang sudah nemplok ingin di gendong.


Zhia berdecak kesal karena calon suaminya tidak konek, gadis itu melepaskan rangkulannya dan berjalan cepat lebih dulu. Raja Bhian menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan heran.


"Apa yang salah?" tanyanya pada diri sendiri.


Sedangkan Zhia di depan sudah berjalan dengan kesal. Kakinya di hentak-hentakkan sembari berjalan dengan wajah cemberut.


"Dasar pria kaku, manusia kayu, kalau Zhia yang pengen di gendong aja mukanya sok polos, buat kesel aja" gerutu Zhia.


"Pada hal kan Zhia udah kasih kode yang sejelas- jelasnya, nasa masih tidak paham juga sih dia, bener-bener pria kaku, iishhh" Zhia menggenggam erat tangannya meluapkan kekesalan di hatinya.


Raja Bhian yang sudah berada di belakangnya sejak Zhia mulai menggerutu hanya tersenyum geli. Raja Bhian tadi memang tidak berpikir kalau Zhia minta gendong, yang ada di pirannya tadi hanya Zhia yang akan menciumnya.


Apa lagi Zhia yang tidak pernah mau di cium di hadapan orang lain, dan di sana bukan hanya ada mereka berdua saja. Ada Panglima Qai dan prajurit yang lainnya di hutan itu.


Itu sebabnya Raja Bhian sempat bingung dengan Zhia yang tiba-tiba merangkul lehernya dan wajah mereka yang berhadapan sangat dekat membuat pikiran pria itu jadi lain dari keinginan Zhia.


Raja Bhian maju semakin dekat, mengangjat tubuh Zhia ke dalam gendongannya di kedua lengan kokohnya.

__ADS_1


Zhia memekik kaget dengan apa yang di lakukan Raja Bhian yang tiba-tiba. Kedua tangan Zhia juga langsung merangkul di leher pria yang menggendongnya dengan wjaah kaget.


Cup


Wajah kaget Zhia berubah jadi kesal lagi karena kecupan yang di berikan Raja Bhian padanya. Tangan Zhia memukul bahu pria yang menggendongnya. Bukannya ke sakitan Raja Bhian malah tersenyum manis menatap Zhia dan kembali menjatuhkan ciumannya di kening Zhia.


Gadis itu kembali berdecak, melepaskan rangkulannya dari leher Raja Bhian lalu bersedekap.


"Kok di lepas pegangannya?" tanya Raja Bhian menahan senyum melihat Zhia yang cemberut.


"Males" sahut Zhia singkat.


Raja Bhian terkekeh pelan.


"Tidak takut jatuh memangnya?" goda Raja Bhian lagi.


Zhia mengangkat kedua bahunya acuh.


"Coba aja kalau kamu berani jatuhin" ucap Zhia lalu melirik tajam pada pria yang justru malah tertawa menggoda padanya.


Kedua mata Zhia memicing menatap Raja Bhian yang nampak mencurigakan dengan tawanya itu.


"Akh.." teriak Zhia kaget kala tubuhnya tiba-tiba seperti hendak jatuh.


Repleks kedua tangannya merangkul leher Raja Bhian yang tertawa cukup keras. Apa lagi melihat tatapan Zhia yang semakin kesal padanya namun terlihat lucu.


Buk


"Akh.. sakit Catri" ucap Raja Bhian pura-pura kesakitan.


"Rasain! siapa suruh jahil" mata Zhia melotot menatap galak Raja Bhian yang semakin tertawa lucu akan wajah imut Zhia kala melotot.


Di belakang, para prajurit Raja Bhian dan Panglima Qai saling pandang heran. Selama mengikuti Raja Bhian kemanapun pergi bahkan ketika di istana sekalipun, baru kali ini mereka melihat sang Raja yang tertawa seperti itu.

__ADS_1


Tawa yang sangat lepas dan terdengar menyenangkan. Membuat merekapun ikut tersenyum senang dan haru karena bisa melihat tawa Raja mereka yang sangat langka itu.


__ADS_2