Calon Ratu

Calon Ratu
54


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama bagi prajurit Raja Bhian menangkap pria yang di inginkan Raja mereka. Meski sempat melakukan perlawanan tapi itu sama sekali tidak berarti bagi prajurit yang sudah terbiasa berperang dan meringkus musuh. Bagi mereka perlawanan dari orang itu hanya seperti penolakan biasa saja.


Si bos di lemparkan di hadapan Raja Bhian yang terlihat berdiri menjulang tinggi. Mata tajamnya yang siap memangsa membuat si bos gemetaran, ia menelan air liurnya susah payah.


"Ingin menjadikannya istrimu?" Raja Bhian semakin menatap marah pria di bawahnya yang sedang duduk ketakutan.


"Ya, aku melihatnya kemarin saat sedang bicara dengan mereka" tunjuknya menggunkana dagu pada prajurit yang sudah menghabisi anak buahnya.


Meski takut tapi mencoba berani melawan.


Raja Bhian berpikir sejenak mengingat kapan kejadian itu. Ah iya saat kemarin Zhia berteriak meminta obat hingga mereka menghentikan kereta kudanya.


"Saat itu aku sedang sendirian jadi kalian beruntung karena tidak langsung ku serbu" senyum remehnya membuat Raja Bhian semakin muak.


"Habisi dia" ucap Raja Bhian dengan suara dinginnya membuat si bos ketakutan karena tahu maksud dari pria di hadapannya.


"Tidak! jangan bunuh aku! aku tidak bersalah" sangkalnya.


Parajurit terus menggeret orang itu kebalik semak-semak di mana para anak buahnya sudah terbaring.


Arrghhh


Teriakan itu menggema dna berhenti seketika itu juga.


Raja Bhian tersenyum smirk mendengar teriakan itu. Kejam memang ia memperlakukan musuhnya, tapi memang seperti itulah cara berperang agar tidak semakin menimbun musuh yang lebih banyak dan dendam yang tak berkesudahan.


Walaupun dendam dan musuh tidak pernah ada habisnya, namun sebisa mungkin harus meminimalisir keadaan seperti itu.


Raja Bhian memutar tubuhnya melihat Zhia yang tadi di sembunyikan di belakang tubuhnya. Alangkah terkejutnya kala tidak mendapati orang yang tadi di lindunginya.


Dengan panik Raja Bhian melihat keberbagai arah untuk mencari hingga akhirnya mendapati sesuatu yang sangat memncengangkan baginya.

__ADS_1


Zhia duduk di tempat mereka istirahat tadi bersama dua pelayannya. Bahkan gadis itu duduk santai dengan kue di tangannya dan mulut yang masih mengunyah.


Saat tadi prajurit memotong tangan bos penjahat itu, Zhia pergi diam-diam dari belakang Raja Bhian ketika semua orang sibuk. Di lihat zhia kedua pelayannya di belakang kereta kuda memegang kue kering.


Zhia mendekati kedua pelayannya dan mengajak keduanya untuk menjauh dari keributan para pria. Duduk di pondok besar itu sembari melihat keributan antara pria itu.


Bahkan tidak ada rasa takut sama sekali melihat pemandangan di hadapannya. Kedua pelayannya saja sudah gemetaran ketakutan melihat perang berdarah yang baru kali ini mereka berdua lihat di depan mata secara langsung.


"Sudah selesai? cepat sekali!" gumam Zhia kala keributan itu sudah selesai dan di lihat pula Raja Bhian yang seperti mencari sesuatu di belakangnya yang hilang.


Tidak merasa kalau dirinyalah yang di cari, Zhia tetal diam makan kue kering melihat kebingungan calon suaminya yang melihat kesana kemari. Sampai akhirnya wajah lega nampak jelas kala pandangan kedua orang itu bertemu dan Raja Bhian yang mulai melangkah cepat ke arah Zhia.


Barulah gadis itu mulai merasa kalau dirinya yang di cari.


"Apa dia tadi mencariku?" tanya Zhia pada dirinya sendiri.


"Kenapa kamu kemari? kalau ada penjahat lainnya yang tiba-tiba menyerang bagaimana?" ucap Raja Bhian dengan nada khawatirnya.


Jadi mengusap rambut Zhia lembut menjadi pilihannya, mengecup kening Zhia sajalah pikirnya. Kecupan lembut itu membuat Zhia merasa sangat di sayangi hingga memejamkan matanya.


Kedua pelayan Zhia yang berdiri di bagian bawah pondok itu menatap dengan senyuman malu. Kedua tangan mereka saling menggenggam di bawah dagu.


Mesra sekali, iri batin mereka berdua.


Setelah melakukan apa yang di inginkannya, Raja Bhian melihat kearah Panglima Qai yang sudah berdiri di belakangnya.


"Semua sudah selesai Yang Mulia" lapornya.


"Bersiap untuk pergi" ucap Raja Bhian di angguki Panglima Qai yang langsung memberi komando untuk bersiap pada yang lainnya.


"Ayo" Raja Bhian mengulurkan tangan kanannya pada Zhia yang tentu saja di sambut dengan senang hati oleh gadis itu.

__ADS_1


Keduanya mendekati kereta kuda yang sudah menunggu. Setelah naik dan semuanya siap barulah kereta kuda melaju lagi meninggalkan tempat mereka beristirahat tadi.


Zhia yang masih penasaran akan sesuatu melihat pria di sampingnya yang memeluk pinggangnya erat. Seakan takut kejadian tadi terulang lagi, pada hal keduanya sudah berada di dalam kereta kuda.


"Apa tadi Cami mencari Catri dan mengkhawatirkan Catri?" mata Zhia berkedip lucu menatap pria yang juga menatapnya itu.


"Memangnya mencari dan mengkhawatirkan siapa lagi kalau tidak Catri hem" Raja Bhian mencubit pelan ujung hidung Zhia gemas.


Gadis itu tersenyum manis yang membuat Raja Bhian berdebar hebat di buatnya. Meski selama bersama sudah sering melihat senyuman gadis itu, namun entah mengapa kali ini terlihat sangat tulus dan itu membuatnya sangat terpana.


Tanpa bisa menahan diri lagi Raja Bhian memajukan wajahnya ingin mengecup gadis di sampingnya. Tapi sesuatu menghalangi keinginan itu.


"Ingatlah di mana kita berada sekarang Cami, jangan jadi pria mesum yang sukanya mengecup di mana-mana" ucap Zhia.


Yang menghalangi kecupan itu adalah Zhia, gadis itu ingin menghentikan aksi nekat pria di sampingnya yang selalu mengecup tidak tahu tempat dan situasi.


"Kan tidak ada yang melihat, di dalam sini hanya ada kita berdua saja" ucap pria itu.


"Tidak perduli, kalau kamu berani mengecup Catri lagi tanpa ijin maka jangan salahkan Catri kalau bibir Cami itu akan lepas dari tempatnya karena gigitan maut dari Catri" ancam Zhia dengan wajah seriusnya.


Raja Bhian menghela napas panjang seraya memeluk tubuh Zhia, kepalanya di letakkan di bahu calon istrinya. Meski merasa posisinya kurang nyaman karena tinggi badan mereka berbeda, Raja Bhian tidak perduli dan tetap melakukan hal itu.


Perjalanan jauh terus berlanjut hingga pagi berikutnya mereka barulah memasuki kawasan daerah Parean. Dari awal memasuki kawasan Parean sudah dapat di lihat dengan jelas bagaimana kondisi daerah itu.


Pohon-pohon banyak yang mati dan kering, tanah terlihat gersang dan situasi daerah yang seakan mati. Hati Zhia bergetar melihat situasi yang mengerikan itu, alangkah memilukannya daerah ini batin Zhia.


"Separah ini daerahnya" gumam Zhia melihat dari balik tirai jendela di sampingnya.


Raja Bhian yang mendengar gumaman itu langsung melihat. Dengan cepat menarik tubuh Zhia agar kejadian yang pernah terjadi tidak terulang lagi.


Meskipun daerah ini sedang di landa masalah tapi itu tidak menutup kemungkinan akan adanya kejahatan di sana. Apa lagi mereka belum tahu apa yang terjadi sebenarnya di sana.

__ADS_1


"Jangan pernah lakukan hal seperti itu lagi Catri, mengerti!" tegas Raja Bhian di angguki Zhia.


__ADS_2