
Panglima Qai melihat bagaimana reaksi tabib itu setelah melihat kejadian di depannya. Terkejut dan sangat marah jelas terlihat di wajah pria yang hampir tua itu.
Tiba-tiba tabib itu merasa tubuhnya sedikit lemah yang di akibatkan sesuatu sudah menjadi lebih baik di salah satu tempat di desa Parean itu. Tabib itu memegangi dadanya dengan wajah yang menahan sesuatu.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanyanya berharap mendapat sedikit bocoran dari Panglima Qai yang sedang melihat-lihat.
"Yang Mulia memberi perintah untuk melakukan penyelidikan dari daerah bendungan untuk mengetahui sumber air di sana bagaimana, mungkin di sana mereka menemukan orang yang mencurigakan lalu menghabisinya" ucap Panglima Qai dengan tampang yang seperti sedang berpikir.
Tapi matanya melirik si tabib untuk melihat reaksinya. Kedua tangan tabib itu terkepal erat dan rahangnya mengeras dengan bola mata yang terlihat mulai memerah layaknya api. Ciri khas pemilik sihir api kalau sedang marah atau menggunakan sihirnya.
Tanpa mengatakan apapun lagi tabib itu langsung pergi meninggalkan rumah yang selama ini di gunakannya untuk menyandera tumbal dengan dalih melakukan pengobatan secara tertutup agar tidak menular.
Yang pada kenyataannya adalah para gadis dan anak perempuan itu di jadikan tumbal untuk penambah energi bagi pengikut sihir api. Dengan menggunakan darah para perempuan itu dan juga daya hidup mereka yang pelan-pelan terhisap atau berpindah pada pengikut sihir api yang mana menjadi kekuatan bagi pengikut sihir api itu sendiri.
Benda bulat merah yang keluar dari tubuh para gadis itu bersamaan dengan darah itulah yang menjadi perantara antara benalu dan inangnya.
Kalau benda bulat itu keluar maka sudah bisa di pastikan kalau pengikut sihir api ada yang tewas. Dan itu merupakan kerugian besar bagi pemilik sihir api yang menjadi pimpinan.
"Kalian tetap di sini, awasi sekitar dan pastikan keamanannya, bantu mereka menangani para gadis itu" ucap Panglima Qai pada prajurit yang membantu kedua tabib tadi.
"Baik Panglima, apa kami juga harus memanggil keluarga mereka?"
"Tidak perlu, kita tunggu Yang Mulia saja nanti, saya akan ke sana"
__ADS_1
"Baik Panglima"
Setelah memberikan perintah pada prajurit Panglima Qai segera keluar dari rumah tabib itu. Bergerak pergi menuju tempat yang sudah di sepakati bersama Raja Bhian. Tapi Panglima Qai masih harus menunggu kedatangan prajurit lainnya yang sudah di beri perintah untuk datang dengan cepat.
Prajurit perang yang biasa bergerak cepat melakukan segala hal. Biasa berperang dan bergerak cepat membuat prajurit itu bisa tiba lebih cepat di desa Parean. Apa lagi mereka menggunakan kuda perang dan tidak banyak istirahat jadi lebih cepat tiba.
Barulah setelah prajurit itu tiba, Panglima Qai akan langsung bergerak menuju tempat pertempuran.
Di sisi lainnya, tabib pemilik sihir api itu segera pergi ke tempat yang tidak jauh dari rumah yang di gunakannya untuk menyadera tumbal. Di sana ia melakukan sesuatu untuk memanggil pengikutnya yang tangguh, yang bisa menggunakan sihir api.
"Ikut aku!" ucapnya di angguki oleh pengikutnya.
Tabib itu pergi ke bendungan bersama sepuluh pengikutnya yang handal menuju bendungan. Sampai di sana dia di kagetkan dengan pemandangan yang sama sekali tidak ingin di lihatnya.
Bagaimana mungkin bendungan yang kemarin di lihatnya sudah hampir habis airnya kini kembali penuh dengan air. Bahkan di atasnya terdapat tanaman berdaun lebar menutupi air.
"Tidak mungkin tadi malam bisa membuat penuh bendungan ini, sedangkan tadi malam aku sudah mengerahkan banyak pasukanku untuk mengeringkannya" lanjutnya.
Hanya pemilik sihir air dan kayu yang bisa melakukan ini semua, tapi siapa pemiliknya? tidak mungkin warga sekitar? mereka tidak akan mampu menggapai kemampuan sihir itu batin pemilik sihir api.
Kembali di kerahkannya pasukannya untuk mengeringkan air bendungan itu lagi. Namun sayang, tidak semudah itu melakukannya karena tanaman di permukaan air akan segera berganti baru kala lainnya sudah hangus terpanggang hawa panas..
Benar! hanya pemilik sihir kayu dan air yang bisa melakukan semua ini, apa lagi daun-daun itu yang bisa tumbuh baru lagi dengan cepat natin pemilik sihir api.
__ADS_1
Sembari menahan kekesalan dan geramnya, pemilik sihir api mendengar sesuatu dari arah kirinya yang cukup pelan. Dirinya yakin kalau itu pasti pelaku yang sudah mengembalikan keadaan bendungan jadi seperti ini.
Dan benar saja, turunlah dua orang dari atas pohon besar yang tidak jauh dari bendungan. Bahkan yang wanita langsung menyerang pengikutnya yang masih di atas air.
Jadi dia pemilik sihir air! pantas aromanya sangat istimewa dan begitu segar gumam pemilik sihir api kala melihat siapa wanita itu.
Pemilik sihir api pun mulai melancarkan aksinya dengan merayu Putri Zhia agar mau bersamanya. Dia akan menjadikan putri Zhia sebagai pasangannya dan akan menjadikan tubuh putri Zhia tumbal untuk menambah kekuatannya sendiri.
Dengan menyegel sihir api milik Putri Zhia maka gadis itu akan hilang ingatan selamanya. Jadi pemilik sihir api bisa selamanya menggunakan kesempatan itu untuk memanfaatkan tubuh putri Zhia sebagai tumbal. Yang lambat laun kekuatan sihir air milik Putri Zhia akan di pelajarinya dan di milikinya.
Meski terdengar mustahil tapi untuk orang yang ambisius seperti pemilik sihir api itu. Hal-hal yang mustahil akan di cobanya meski tahu resiko yang akan di hadapi.
Sayangnya Putri Zhia tidak semudah itu di rayu, bahkan akibat rayuannya itu. Pemilik sihir api harus terombang ambing oleh angin kuat yang membawa tubuhnya pergi menjauh dari bendungan.
Sungguh tidak di sangka kalau sihir angin yang membawanya memiliki kekuatan yang besar hingga pemilik sihir api kesulitan melawan. Sampai akhirnya terjatuh di lahan hutan yang sudah gersang akibat ulahnya sendiri.
Merasa kalau lawannya sudah salah mencari tempat bertarung, pemilik sihir api tertawa senang dan bahagia. Ia memanggil semua pengikutnya tanpa terkecuali dan tidak ada lagi yang tersisa di daerah itu. Semuanya datang membentengi dirinya yang maish akan berusaha merayu putri Zhia.
Karena pengikutnya yang bisa melakukan sihir api sudah tewas semua, tinggallah pengikutnya yang hanya bisa mengeluarkan hawa panas saja. Dan sebagai manusia biasa juga tentu saja prajurit Raja Bhian bisa membantai semua pengikut sihir api.
Sedangkan si pemilik sihir api yang gagal lagi merayu putri Zhia turun tangan sendiri untuk menangkap gadis itu. Dirinya yakin kalau pemilik sihir air seperti Putri Zhia tidak akan sanggup bertahan lama di daerah gersang dan tidak akan bisa mendapatkan air untuk menyerang.
Sampai akhirnya dia melihat langsung bagaimana putri Zhia menggerakkan pedangnya untuk membawa air naik dari dalam tanah ke udara. Menyerang pemilik sihir api yang sudah tidak bisa bebas bergerak di dalam bola air, bahkan sudah lemah.
__ADS_1
Barulah pemilik sihir api itu menyadari kalau dirinya sudah salah meremehkan seseorang. Gadis cantik anak seorang Raja yang di kiranya tidak bisa melakukan apa-apa ternyata memiliki sihir air bersimbol mahkota. Yang artinya bisa mengendalikan air dari mana saja dan akan dengan mudah mendapatkan air di mana saja.
Sampai akhirnya pemilik sihir api itu menutup mata karena sudah mendapatkan segel dari Raja Bhian sebelum di buang menjauh dari kerajaan Sun.