Calon Ratu

Calon Ratu
42


__ADS_3

Setelah selesai acara pertandingan, Zhia pergi meninggalkan tempat di ikuti oleh pelayan dan prajuritnya. Karena Zhia sudah terbiasa dengan keberadaan orang-orang yang selau mengikutinya itu, jadi sekarang sudah tidak merasa terganggu lagi.


Awalnya saat baru di beri pelayan dan prajurit yang selalu mengikutinya seperti ekor itu, Zhia merasa risih dan tidak nyaman. Bahkan sempat melayangkan protes juga pada Raja Bhian yang tentunya tidak perduli dengan protes itu dan hanya mengatakan pada Zhia untuk mulai terbiasa.


Sekarang sudah terbiasa walaupun terkadang ada saat-saat tertentu Zhia meminta mereka menunggu dan tidak usah ikut. Seperti saat ini Zhia sedang berada di kolam ikan yang terdapat jembatan di atasnya. Kolam inilah yang pernah di ambil Zhia ikannya.


Dan kini Zhia merasa menginginkan ikan bakar, pasti enak di makan hangat, mungkin sama sedikit kecap manis yang di kasih asam batin Zhia membayangkan nikmatnya makanan yang di inginkannya itu. Bahkan hanya membayangkan saja air liurnya sudah terasa ingin keluar dan lidahnya sudah tidak sabar untuk mencoba rasa makanan itu.


Bahkan Zhia juga tidak sadar kalau seseorang sudah berdiri di belakangnya. Menatap gadis itu heran karena tersenyum sendiri sembari melihat ikan di bawah. Tangannya terangkat menyentuh pundak Zhia.


Kaget dengan sentuhan di pundaknya membuat Zhia refleks langsung memegang tangan itu dan hendak memelintirnya karena lancang menyentuhnya. Bukannya berhasil melakukan apa yang akan di lakukannya, malah tubuh Zhia yang berputar cepat menghadap orang yang menepuk pundaknya.


Keduanya saling pandang ketika berhadapan, melihat siapa yang berada di belakangnya dan sekarang sedang memegang tangannya membuat Zhia menghela napas pelan.


"Ck! bikin kaget aja" gerutu Zhia memutar tubuhnya lagi melihat ikan di bawah untuk mencari target yang akan di eksekusi menjadi ikan bakar.


"Sedang apa? mau ikan lagi?" tanya Raja Bhian menggeser tubuhnya kesamping Zhia masih menatap gadis di sampingnya yang sedang serius memilih target.


"Iya, pengen ikan bakar trus di kasih kecap manis asam, uh pasti seger dan enak" ucap Zhia dengan wajah sumringah.


Raja Bhian mengangguk lalu melihat Panglina Qai yang ada di dekatnya namun berjarak.


"Ambilkan penangkap ikannya" ucapnya pada pemuda yang masih setia berdiri di sana.


"Baik Yang Mulia" sahutnya berbalik badan pergi mengambil apa yang di minta sang Raja.


Tidak lama apa yang di minta Raja Bhian sudah di dapatkannya. Zhia langsung saja menunjuk mana yang di inginkannya dengan semangat.

__ADS_1


"Sudah cukup" seru Zhia saat Raja Bhian akan menangkap seekor ikan lagi.


"Satu lagi" sahut Raja Bhian menangkap ikan besar dan membawanya naik.


"Wah besar sekali" senang Zhia melihat tangkapan yang lebih besar, bahkan Raja Bhian pun sedikit kesulitan karena ikan yang besar itu terus bergerak tidak mau diam.


Zhia mengulurkan kedua tangannya untuk membantu, tapi bukan alat penangkapnya yang di pegang, melainkan lengan Raja Bhian yang terasa keras dan berotot di pegang Zhia.


Ya ampun tangannya sekeras kayu batin Zhia. Walaupun bukan kali ini saja Zhia memegang tangan bahkan memeluk pria itu tapi baru kali ini Zhia merasakan tangan Raja Bhian yang mengetatkan otot-ototnya dan itu begitu kekar bagi Zhia.


Biasanya kalau Zhia memegang atau merengkuh tangan Raja Bhian otot-otot tangannya tidak terasa bagaimana pastinya tangan itu. Yang Zhia bisa pastikan hanya pria yang menjadi calon suaminya itu memiliki lengan yang besar. Apa lagi meskipun sudah tidur bersama dan hanya tidur bukan yang lainnya jadi belum slaing melihat satu sama lainnya.


Setelah ikan di angkat dan di pindahkan ke ember besar oleh prajurit yang ikut membantu mereka menangkap walau hanya mengeluarkan dari penangkapnya saja.


"Bawa ikannya ke dapur dan minta pelayan membuat ikan bakar serta kecap manis asamnya" ucap Raja Bhian pada prajurit yang akan membawa tangkapan itu ke dapur.


Semua orang di sana menatapnya heran.


"Kenapa?" tanya Raja Bhian melihat gadis di sampingnya.


"Catri mau bakar sendiri sama buat kecapnya sendiri, jadi siapkan aja bahannya sama bara api untuk bakar" jelas Zhia semakin membuat mereka bingung.


Tuan Putri Zhia mau bakar ikan! masa sih batin mereka. Sedangkan Raja Bhian menatap Zhia ragu, lebih ke tidak setuju sebenarnya. Bagaimana mungkin dia mengijinkan wanitanya melakukan itu.


"Tidak! biar pelayan yang melakukannya, kita tinggal makan saja nanti" larang Raja Bhian.


"Pokonya Zhia mau buat sendiri titik!" kekeh Zhia menatap Raja Bhian kesal karena keinginannya di larang.

__ADS_1


"Tapi nanti ka..."


"Ssstt... panggil saja ibu kita makan bersama dan harus Zhia yang bikin sendiri" tegas Zhia lagi dengan jari telunjuknya yang masih berada di bibir Raja Bhian kala tadi menghentikan ucapan pria itu.


Raja Bhian menghela napas pasrah, apa lagi gadis itu sudah menyebutkan namanya sendiri bukan lagi panggilan sayang mereka. Jadi lebih baik mengalah saja, toh juga hanya bakar ikan. Dirinya akan ikut membantu dan memastikan gadis itu tidak terluka karena melakukan pekerjaan itu.


Dan tentunya juga ingin menjadi orang pertama yang mencicipi ikan bakar buatan Zhia nantinya.


"Ya sudah kita kebelakang sekarang, tapi biarkan pelayan dapur yang membersihkan ikannya, kamu kerjakan yang lainnya" Zhia mengangguk setuju dengan tersenyum senang.


Merekapun menuju dapur kediaman utama untuk mempersiapkan semua yang di butuhkan Zhia. Kenapa bukan di dapur istana? karena dapur istana di gunakan untuk menyiapkan makanan bagi para prajurit dan pelayan yang ada di istana serat memasak untuk acara di istana, itupun sudah di bagian dapur lainnya lagi dan pastinya peralatan lain pula.


Semuanya ada bagian masing-masing dan tidak bercampur menjadi satu. Tidak mungkin juga para pekerja dapur istana harus menyiapkan makanan untuk sang Raja sementara banyak prajurit dan pelayan yang juga butuh makan. Dan tidak mungkin juga acara istana menyediakan makanan yang di buat satu tempat masak dengan milik para prajurit.


Bukan maksud merendahkan tetapi sejak dulu masa kakeknya Raja Bhian sudah seperti itu, semuanya ada bagian masing-masing dan pekerjaan masing-masing. Hanya ketika ada acara saja baru semua pelayan dapur berkumpul di dapur yang lebih besar untuk memasak bersama menyediakan santapan bagi acara istana. Itupun dengan catatan pekerjaan utama harus di dahulukan dan sudah selesai lebih awal agar tidak ada pekerjaan yang terbengkalai.


Kembali ke Zhia dan Raja Bhian...


Kini mereka sudah di dapur, tempat yang tidak pernah di datangi oleh Raja Bhian. Tempatnya bersih dan rapi serta tertata apik semua peratalannya karena memang Raja Bhian menerapkan pekerjaan rapi dan bersih pada semua bawahannya.


Semua pekerja dapur menunduk hormat akan kedatangan dua orang penting di tempat mereka.


"Tolong siapkan bumbu untuk ikan bakar ya dan bersihkan juga ikannya" ucap Zhia pada orang-orang yang ada di depannya.


"Baik Tuan Putri" sahut mereka dan dengan cepat melakukan apa yang di katakan Zhia.


Gadis yang menjadi calon Ratu itu tak tinggal diam, dirinya juga mengulurkan kedua tangannya untuk memilih apa saja yang di butuhkannya setelah di sipakan pelayan dapur. Bahkan Zhia mengulek sendiri bumbu yang dia inginkan. Persis seperti apa yang pernah di ajarkan oleh Permaisuri Zie pada Zhia dulu kala Zhia ikut ibu kandungnya itu membuat ikan bakar kesukaannya.

__ADS_1


__ADS_2