Calon Ratu

Calon Ratu
52


__ADS_3

"Kenapa berhenti?" tanya Raja Bhian heran yang mendapatkan gelengan dari Zhia.


Pria itu ikutan Zhia mengeluarkan kepalanya dari jendela melihat keluar di mana Panglima Qai dan para prajurit mereka mendekati posisi mereka berada.


"Ada apa Tuan Putri? apa terjadi sesuatu?" tanya Panglima Qai.


"Tidak ada apa-apa" sahut Zhia singkat.


"Kenapa berhenti?" tanya Raja Bhian.


"Maaf Yang Mulia, tadi kami mendengar teriakan Tuan Putri dan merasa takut ada sesuatu yang terjadi maka dari itu kami berhenti untuk memastikannya" jelas Panglima Qai.


Tanpa sengaja mata Panglima Qai melihat sesuatu yang aneh di bibir Raja nya.


"Bibir Yang Mulia kenapa? kok bisa bengkak?" tanyanya polos yang justru membuat Zhia merasa malu.


Sedangkan yang di tanya justru merasa bangga dengan apa yang ada di bibirnya.


"Hadiah dari calo... auw" Zhia melirik tajam pria di sampingnya setelah memberikan cubitan di lengannya.


Mau di taruh mana wajahnya kalau sampai orang lain tahu bibir Raja mereka bengkak dan merah karena gigitannya yang spontan.


Zhia berbalik menarik Raja Bhian dan meminta pria itu untuk duduk seperti posisinya semula sedangkan dirinya kembali melihat keluar dan menerima tempat obat serta makanan yang di mintanya.


"Lanjutkan perjalanan" ucap Zhia dengan wajah datarnya untuk menetralkan rasa malunya.


Karena bagaimanapun juga sebagai pria dewasa Panglima Qai pasti tahu maksud dari sambungan ucapan Raja Bhian tadi.


"Baik Tuan Putri" sahut Panglima Qai kembali mengarahkan untuk melanjutkan perjalanan.


Zhia kembali menarik tubuhnya untuk duduk seperti semula karena kereta kuda juga sudah mulai bergerak.


Tapi pergerakan gadis itu sedikit terhambat karena tangan jahil dari calon suaminya yang malah memeluk perutnya. Posisi duduk Zhia memang berada di sisi kereta kuda yang lain, sedangkan tadi dirinya mencari prajurit dari sisi sebelahnya di mana Raja Bhian duduk.


Namun kini pria itu malah bersikap mesum seperti ini.


"Apa yang kamu lakukan Cami? lepaslah supaya bibirnya bisa segera di obati" geram Zhia akan kelakuan Raja Bhian yang ada-ada saja.


Pria itu melepaskan pelukannya dengan setengah hati tidka rela. Bagi Raja muda yang sedang di mabuk cinta itu, bersentuhan dengan Zhia merupakan hal paling menyenangkan baginya. Selain itu juga membuatnya nyaman hingga ingin selalu bersentuhan fisik dengan Zhia.

__ADS_1


"Lihat sini" Zhia mengangkat dagu Raja Bhian sedikit lebih keatas agar dirinya bisa melihat jelas bibir yang bengkak itu.


Zhia mengambil botol obat yang memang sudah di siapkannya dari istana untuk jaga-jaga kalau ada sesuatu. Sudah jadi kebiasaan bagi Zhia melihat ketiga ibunya yang selalu menyiapkan bekal obat juga.


Jadi itu sebabnya Zhia juga membawa bekal obat untuk perjalanan mereka yang pastinya nanti akan terpakai.


"Sakit tidak?" Zhia meniup pelan bengkak di bibir Raja Bhian seraya memberi obat.


"Tentu saja sakit" sahut Raja Bhian.


"Jangan bicara dulu susah kasih obatnya"


"Kan kamu nanya ya harus di.."


"Ssstt.."


Raja Bhian terdiam tanpa melanjutkan kalimatnya. Menatap intens wajah cantik di depannya yang tidak pernah membuat bosan hingga tanpa sadar pengobatan sudah selesai.


"Sudah" ucap Zhia senang membuat Raja Bhian tersentak kaget dari keseriusannya menatap Zhia.


"Karena bibir kamu masih dalam masa pengobatan jadi kamu Cami di larang makan dulu sampai dua jam kedepan, tunggu obatnya kering meresap hingga ke dalam" lanjutnya sembari memasukkan lagi obat di tangannya ke dalam tempatnya dan menyingkirkan kotak itu.


"Karena Cami belum boleh makan jadi jangan minta ini ya!" Zhia tersenyum menggoda Raja Bhian yang tidak bisa makan kue yang ada di tangannya.


"Bengkaknya juga tidak parahkan jadi tetap bisa makan asal buka mulutnya di lebarkan" masuklah satu potong kue yang pas untuk sekali makan ke dalam mulut Raja muda itu membuat Zhia melihat ke arah kue di tangannya lalu melihat pria di sampingnya yang sudah mengunyah.


"Ish" cemberut Zhia karena tadinya sudah senang bisa menghabiskan sendiri kuenya sembari pamer dengan Raja Bhian.


Tapi ternyata tidak bisa karena pria itu cukup pintar juga dalam mengetahui trik dari Zhia.


Kereta kuda terus melaju dan abru berhenti untuk istirahat saja kala makan siang tadi. Saat ini hari sudah gelap namun kereta kuda masih terus melaju menuju memasuki satu kota dan mencari penginapan yang berada di kota itu untuk beristirahat.


Sampai di penginapan mereka berhenti, hari yang sudah cukup malam membuat orang-orang tidak ada yang tahu kedatangan sang Raja. Bahkan saat Panglima Qai menemui pengurus penginapan orang yang tadinya sudah mengantuk langsung membuka kedua bola matanya lebar.


"Ya.. Yang Mulia" kagetnya gugup langsung berlari menghampiri Raja Bhian yang sedang menggendong Zhia yang sudah tidur sejak tadi di dekapannya.


"Apa masih ada kamar yang tersisa?" tanya Panglima Qai.


"Masih panglima, tapi hanya tinggal tiga kamar biasa saja karena semua kamar mewah sudah di pesan" sahut pengurus itu sopan.

__ADS_1


"Apa ada satu kamarnya yang luas?" tanya Raja Bhian.


"Ada Yang Mulia, salah satu kamar itu luas tapi hanya ada tempat tidur saja karena masih termasuk kamar murah"


"Tidak mengapa, tunjukkan di amna ketiga kamar itu" pinta Raja Bhian.


"Baik Yang Mulia, mari ikut saya"


Pengurus berjalan lebih dulu menuju salah satu lorong sepi.


"Ini kamarnya Yang Mulia"


Raja Bhian melihat Panglima Qai di belakangnya.


"Masuk dan lihatlah, cukup tidak untuk kalian" Panglima Qai mengangguk berjalan memasuki kamar.


Tidak lama pria itu keluar dari kamar menemui Raja Bhian yang masih berdiri di depan pintu.


"Kamarnya cukup untuk kami Yang Mulia asal tempat tidurnya di keluarkan dulu, barang bawaan kita juga bisa masuk" ucapnya.


"Panggil semua yang masih di luar bawa barang-barang kita sekalian"


Seorang prajurit keluar memanggil teman-temannya. Sedangkan Raja Bhian melihat kamar lainnya.


"Bawa barang-barang kita ke kamar ini dan kalian berdua tidur di sini, pindahkan juga tempat tidur tadi ke sini" ucap Raja Bhian yang sesaat melirik kedua pelayan Zhia yang terlihat mengantuk.


"Baik Yang Mulia" sahut Panglima Qai.


Satu kamar lagi di buka pengurus dan langsung di masuki oleh Raja Bhian. Kamar sederhana yang kasurnyapun tidak terlalu besar membuat pengurus penginapan itu tidak enak hati.


"Maaf Yang Mulia kalau kamarnya sangat sederhana, saya akan membangunkan orang yang menempati kamar mewah agar..."


"Tidak perlu, kamu bisa keluar" potonh Raja Bhian.


Pengurus itu menunduk hormat sejenak lalu keluar dari kamar yang akan dj tempati oleh Raja Bhian.


"Kalian juga pergilah istirahat kalau semuanya sudah selesai, jangan pikirkan berjaga, kalian juga lelah dan butuh istirahat perjalanan kita masih jauh"


"Baik Yang Mulia" Panglima Qai dan kedua pelayan Zhia menunduk sejenak lalu keluar dari kamar itu.

__ADS_1


Membiarkan sang Raja untuk istirahat. Raja Bhian menurunkan tubuh Zhia di tempat tidur perlahan. Membuka beberapa selendang yang mengikat gaun Zhia dna meletakkannya di pinggir temlat tidur. Setelahnya membuka sendiri rompi pakaiannya dan naik ke atas temlat tidur.


Memeluk tubuh Zhia menjadikan lengannya sebagai bantal bagi Zhia dan membuat tubuhnya sebagai selimut gadis itu agar tidak kedinginan. Karena dirinya sendiri sudah merasa hangat hanya dengan memeluk tubuh mungkin di pelukannya ini.


__ADS_2