
Zhia membuka kedua matanya perlahan dan merasakan dirinya yang berada di dekapan seseorang. Dari aroma tubuhnya saja sudah membuat Zhia tahu siapa yang sedang memeluknya ini.
Senyum manis terukir di bibir Zhia lalu perlahan melepaskan pelukan mereka. Melihat sekitarnya dengan kening yang mengkerut heran.
"Di mana ini? apa ini tenda? masa iya tenda seperti ini!" gumam Zhia heran masih melihat sekeliling kamar yang di tempatinya.
"Kita sedang berada di penginapan" suara serak itu menyaut gumaman Zhia yang membuat gadis itu langsung melihat kesampingnya.
"Penginapan! kita di penginapan mana? trus ynag lainnya di mana?" cecar Zhia membuat Raja Bhian bangkit dari duduknya dan melihat gadis di sampingnya yang sedang melihatnya juga.
"Iya ini penginapan, dan yang lainnya ada di kamar masing-masing, mungkin sekarang mereka udah mulai bersiap karena kita juga akan langsung jalan" ucap Raja Bhian.
"Apa langsung jalan? tapi ini kan masih gelap bahkan ayam masih berkokok" kaget Zhia.
Raja Bhian mengangkat tangannya mengelus rambut Zhia lembut.
"Perjalanan kita masih jauh jadi harus cepat bergerak supaya besok pagi udah sampai di sana" jelas Raja Bhian mendapat anggukan mengerti dari Zhia.
Akhirnya Zhia dan Raja Bhian bangkit dari tempat tidur dan mulai bersiap, Zhia bersiap sendirian karena dirinya yang tidak perlu berhias terlalu banyak seperti saat di istana.
Setelah selesai bersiap kini Raja Bhian sedang berdiri di hadapan para prajuritnya yang sudah berkumpul di depan kamar penginapan sang Raja.
"Apa semuanya sudah selesai? tidak ada yang tertinggal lagi?" tanya Raja Bhian.
"Semuanya sudah cukup Yang Mulia, hanya menunggu perintah berangkat saja dari Yang Mulia" ucap Panglima Qai.
"Kalau semua sudah siap kita jalan sekarang" semua prajurit mengangguk dan mulai bergerak keluar menuju kuda-kuda mereka yang sedang di jaga beberapa orang teman mereka.
Raja Bhian berjalan di belakang prjauritnya dengan Panglima Qai yang menjaga dari belakang pelayan Zhia yang tepat di belakang sang Raja.
Pengurus penginapan yang mengetahui tamu istimewanya akan pergi berdiri di pintu keluar untuk mengantarkan.
"Selamat jalan Yang Mulia, Tuan Putri semoga selamat sampai tujuan" ucapnya menunduk hormat.
Raja Bhian hanya menganggukkan kepalanya pelan terus berjalan.
Zhia naik lebih dulu baru di ikuti Raja Bhian setelahnya.
__ADS_1
Kereta kuda melaju perlahan keluar dari area penginapan dan mulai sedikit kencang kala di jalanan. Karena jalan yang masih sepi membuat perjalanan mereka lancar, biasanya kalau melewati kota seperti ini akan ada banyak warga yang melihat kereta kuda istana lewat.
Karena mereka tahu kalau kereta kuda yang lewat sudah pasti sang Rajalah yang di dalamnya.
Tapi kini mereka tidak perlu repot dengan orang-orang yang akan memadati jalanan hanya untuk bertemu dengan Raja Bhian.
Sampai matahari terlihat bersinar terang baru lah kereta kuda berhenti. Kali ini mereka sudah mulai memasuki kawasan jalan di hutan. Ada tempat beristirahat yang selalu di buat setiap lima kilo perjalanan di hutan, dan kini rombongan Raja Bhian beristirahat di sana untuk makan.
Zhia membantu menyiapkan makanan kering yang mereka bawa dan juga air minumnya. Memang sengaja Zhia membawa makanan kering saja agar tidak perlu membeli makanan lagi di jalan.
Kalau pun harus beli tidak banyak, hanya makanan tambahan saja.
Selesai makan Zhia turun dari gubuk yang cukup besar itu untuk membantu pelayannya sekaligus mengambil sesuatu untuk Raja Bhian.
Raja Bhian sendiri tidak melepaskan perhatiannya dari sang calon istri. Kemana Zhia bergerak maka kesitu pula pandangannya pergi. Hingga mata tajamnya menangkap sesuatu yang mencurigakan di balik semak yang ada di pinggir jalan.
Dengan cepat Raja muda itu bergerak mendekati Zhia dan memeluk gadis itu menunduk.
Tak
Sebuah benda kecil jatuh setelah menghantam badan kereta kuda namun tidak bisa menancap karena badan kereta kuda yang terbuat dari perak dan besi agar tidak muda di panah kala mendapat serangan mendadak.
"Argh"
Prajurit Raja Bhian yang kaget langsung menghampiri dan memasang formasi perlindungan.
Beberapa orang bertopeng muncul di hadapan rombongan prajurit Raja Bhian dengan pedang di tangan mereka.
"Sayang sekali tembakannya meleset" ucap seorang pria yang berdiri paling depan menatap Zhia.
Raja Bhian menyembunyikan Zhia di belakang tubuhnya. Menatap tajam pada orang yang baru saja berucap.
"Siapa kalian?" tanya Panglima Qai.
"Kami hanya sekelompok pecinta wanita dan di mana ada wanita di sana kami, apa lagi kalau wanitanya secantik nona itu maka kami akan mendapatkan apa yang kami inginkan" sahut pria itu santai.
"Bos! yang itu selain juga sangat menawan kita pasti akan jauh lebih bersenang-senang kali ini" tunjuknya pada Zhia yang berdiri di belakang Raja Bhian.
__ADS_1
"Kalau kita jual nanti harganya juga pasti sangat mahal bos" senangnya.
"Yang ini jangan di jual, karena dia sangat berbeda dengan yang lain aku ingin dia menjadi istriku bukan untuk kita jual seperti yang lain" ucap pria yang di panggil bos itu.
Pandangan orang-orang berbaju hijau itu beralih pada para prajurit Raja Bhian dan sang Raja sendiri yang sudah semakin terlihat seram wajahnya dan pandangan yang sangat menusuk.
Meskipun rasa takut menyelimuti hati orang-orang itu, mereka tidak mundur karena sudah biasa menjarah pejabat atau bangsawan yang hanya bisanya mengandalkan pasukan.
Tanpa tahu siapa orang yang sedang mereka hadapi kali ini, para penculik wanita sangat percaya diri kalau kali ini akan mendapatkan apa yang jadi incaran mereka.
"Hey tuan serahkan saja wanita-wanita itu pada kami dan kalian akan kami biarkan tetap hidup" ucap si bos itu sombong.
Tidak balasan apapun dari Raja Bhian dan prajuritnya. Karena Raja mereka masih diam maka para prajuritnya juga diam, apa lagi musuh yang hanya banyak bicara saja membuat prajurit Raja Bhian santai namun tetap waspada.
"Kenapa diam? ayo serahkan wanita cantik itu padaku!" geram si bos karena tidak ada pergerakan dari lawannya.
"Bos! mungkin mereka talut pada kita makanya hanya diam saja" ucap anak buah si bos menebak.
"Benar itu bos, lihatlah mereka hanya diam seperti patung" sambung yang lain.
Si bos itu berdecih meremehkan, maju mendekati prajurit yang tadinya diam langsung bergerak namun belum melakukan perlawanan.
"Apa ini? ku kira kalian hanya patung yang tidak bisa bergerak tapi rupanya bisa bergerak juga ya" remehnya.
"Menyingkir! aku mau mendatangi pengantinku" lanjutnya mendorong bahu prajurit Raja Bhian yang saat itu juga langsung menggerakkan pedangnya hingga tangan yang tadi di gunakan untuk mendorong kehilangan separuh lengannya.
"Argh.." teriak si boa membuat para anak buahnya panik.
"Ada apa bos?" tanya mereka.
Si bos menatap marah prajurit Raja Bhian yang berwajah datar itu.
"Kurang ajar, habisi mereka semua!" ucapnya berteriak.
Para anak buah si bos langsung maju menyerang yang tentu saja mendapatkan perlawanan dari prajurit Raja Bhian. Tapi tidak semua maju, hanya sebagian saja sudah mampu memukul mundur para anak buah si bos.
"Tangkap pria itu" ucap Raja Bhian dingin menatap tajam pada si bos yang merintih kesakitan karena kehilangan keparuh tangannya.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia" Panglima Qai langsung meminta dua prajurit meringkus si bos.