Calon Ratu

Calon Ratu
25


__ADS_3

Ibu Suri menatap meja yang baru di masukkan di vilanya sangat penuh dengan berbagai macam makanan. Ada ikan dengan olahan yang berbeda-beda, ada ayam , ada daging ada beberapa sayuran juga serta sup.


Tadi kepala pelayan kediaman utama mengantarkan makanan kesana bersama para pelayan dapur lainnya. Kepala pelayan juga mengatakan kalau nanti Raja Bhian dan Zhia akan makan di vilanya. Tentu saja wanita paruh baya itu heran, kenapa ada orang yang mau makan di tempatnya yang bahkan hanya cukup untuk di tinggali satu orang saja.


Namun karena ruangan depannya tidak ada perabotan apapun jadi di masukkan meja untuk tempat makan. Ibu Suri memang hanya meminta tempat tidur dan lemari saja untuk dirinya gunakan di kamar, sedangkan perabotan lainnya tidak di inginkannya karena merasa tidak perlu.


Ibu Suri sendiri lebih banyak bermeditasi di kamarnya. Jika ada masalah penting atau kedatangan keluarganya baru wanita paruh baya itu akan keluar, seperti saat ini.


Demi menantunya Ibu Suri meninggalkan meditasi sejenak hingga acara penyambutan besok selesai.


"Ibu" panggil Zhia yang baru melangkah masuk tapi sudah tidak sabar untuk menyambut calon ibu mertuanya.


Senyum tulus penuh kasih di berikan Ibu suri untuk gadis yang baru masuk ke vila kecilnya. Senyum ceria yang di perlihatkan Zhia benar-benar membuat Ibu suri senang dan merasa damai.


"Oh gadis manisku yang imut, kemarilah ibu ingin memelukmu" sambut Ibu Suri merentangkan kedua tangannya.


Zhia menyambut rentangan tangan itu dengan pelukan hangatnya.


"Selamat datang di kerajaan Sun anakku, semoga kamu betah tinggal di sini ya, dan yang pastinya kamu juga bisa mendampingi putra ibu yang sebenarnya kaku itu" ucap ibu Suri sedikit menyindir Raja Bhian yang sudah duduk dengan santainya.


"Terimakasih ibu, Zhia akan berusaha untuk membiasakan diri dengan lingkungan di sini juga pergaulan baru di sini, dan yang pastinya dengan kehidupan Zhia yang baru juga" Ibu suri tersenyum dan mengajak Zhia duduk di dekatnya.


Setelah duduk, Ibu Suri menatap putranya dengan pandangan menuntut jawaban.


"Kenapa banyak sekali makanan yang di bawa kesini Bhian? apa kamu mengundang keluarga pamanmu juga?" tanyanya.


Raja Bhian menggeleng mantap lalu melirik Zhia yang terlihat meneliti satu persatu makanan yang ada di hadapannya.


"Tidak! hanya kita bertiga" sahut Raja Bhian.

__ADS_1


"Lalu kenapa makanannya harus sebanyak ini Bhian? kalau tidak habis bagaimana? jangan jadi orang boros nak, tidak mungkin juga kalau nanti makanannya kita berikan pada orang karena itu sisa walaupun belum tersentuh tetap saja itu tidak sopan nak" nasehat Ibu Suri pada putranya yang hanya menunduk mendengarkan walau matanya melirik tajam pada Zhia yang seakan tidak merasa bersalah dan malah menatapnya dengan polos.


"Menantu ibu itukan tidak makan nasi, jadi mulai sekarang Bhian memerintahkan pada kepala pelayan agar pelayan di dapur membuat makanan yang seimbang, daging dan sayur harus sama porsinya supaya menantu ibu itu tidak kekurangan asupan dan bisa sedikit berisi karena tidak hanya makan daging dan ikan saja" jelas Raja Bhian membuat ibu Suri mengangguk paham.


Memang saat itu dirinya pernah bertanya tentang Zhia sedikit pada ketiga ibu gadis itu, dan ketiganya sama-sama mengatakan kalau Zhia tidak suka makan nasi walau alasannya tidak ada yang tahu pasti. Karena tiba-tiba saja gadis itu tidak mau makan nasi saat pertama kali mencoba makan ikan sewaktu kecil dulu, begitu kata permaisuri Zie pada ibu Suri saat itu dan di benarkan oleh kedua istri Raja Hilla lainnya.


"Kenapa kamu tidak mau makan nasi nak? memangnya kamu kenyang kalau cuma makan sayur sama daging aja?" tanya Ibu Suri penasaran.


"Sejujurnya waktu dulu itu Zhia pernah sewaktu makan eh di kagetin sama Zhio jadinya kesedak nasi bu sampe nasinya keluar dari hidung, sakit banget itu, nah jadinya kan Zhia kesel sama Zhio, takut di kagetin lagi sama Zhio sampe kesedak lagi jadinya Zhia tidak mau makan nasi, sekali dua kali nolak makan nasi eh jaid keterusan" jelas Zhia apa adanya.


"Selain Zhio keluarga kamu tidak ada yang tahu waktu kamu kesedak itu?" tanya Ibu Suri lagi.


"Cuma kak Ballu yang tahu karena waktu itu Zhia lagi di temenin sama kak Ballu, jadinya Zhio di marahin trus di hukum sama kak Ballu" Zhia terkekeh kecil mengingat hal itu.


"Di hukum apa?" tanya Raja Bhian pula ikut penasaran.


Hukuman apa itu batin Raja Bhian heran, kalau biasanya keluarga kerajaan lain. Melakukan kesalahan sedikit saja meski dia keluarga akan di hukum lumayan berat, tapi lain pula di keluarga Zhia yang akan memberikan hukuman yang bisa di bilang bahkan bukan sebuah hukuman melainkan perhatian seorang kakak kepada adiknya.


Sungguh keluarga yang berbudi luhur, lebih mengutamakan kekeluargaan dari pada kekuasaan batin Ibu Suri tersenyum puas karena mendapatkan besan yang bisa mendidik anak-anak mereka hingga menjadi orang-orang yang memiliki belas kasih terhadap satu sama lainnya. Tidak gila jabatan dan kekuasaan walau di keluarga itu ada empat anak laki-laki.


"Ya sudah sekarang kita makan dulu, nanti keburu dingin makanannya" ajak Ibu Suri mulai mengambil makanan untuk menantunya lebih dulu.


"Ibu, biar Zhia sendiri aja yang ambil" pekik Zhia saat calon ibu mertuanya itu mengisi piringnya dengan ikan dan beberapa lauk lainnya.


"Tidak apa-apa sayang ibu senang melakukannya" sahut Ibu Suri tenang.


"Kamu tahu! ibu sejak dulu sangat ingin memiliki seorang anak perempuan, tapi tidak pernah kesampaian dan hanya punya Bhian seorang saja, tapi ibu tetap mensyukuri itu, mungkin rezeki kami hanya satu anak saja jadi saat Bhian memutuskan untuk melamar kamu seperti wasiat kakek dan ayahnya, ibu sangat senang sekali dan begitu bersemangatnya menyiapkan segala sesuatunya" lanjut wanita itu dengan wajah yang amat sangat bahagia.


Zhia tersenyum manis pada calon ibu mertuanya yang begitu baik. Alangkah bersyukurnya Zhia karena di terima oleh ibu dan keluarga Cami nya. Walau mungkin nanti akan ada pula orang-orang yang tidak menyukainya, tapi itu urusan nanti saja. Saat ini Zhia ingin menikmati momen makan malam ini dengan bahagia bersama calon ibu mertuanya dan juga Cami nya.

__ADS_1


"Kalau begitu ibu juga harus menerima ini ya" Zhia mengisi piring Ibu Suri juga dengan makanan yang membuat hati wanita tua itu senang bukan main.


"Oh menantuku yang baik" ujarnya.


Kedua wanita itu makan dengan lahap sembari saling menyuapi layaknya ibu dan anak. Sedangkan si anak satunya hanya diam melihat kesua wanita di depannya yang mengacuhkannya.


Apa mereka sebahagia itu sampai diriku ini tidak terlihat batinnya.


"Ehem ehem" dehemnya mencoba menarik perhatian. Dan baru mendapatkan perhatian dari kedua wanita yang sedang asik itu.


"Kenapa sayang?" tanya ibu Suri pada putranya.


"Ibu melupakanku" tunjuk Raja Bhian pada piringnya yang masih kosong.


"Ah maafkan ibu sayang, ibu sampai lupa kalau kamu ini anak nakal ibu yang terkadang masih suka manja" Ibu Suri mengisi piring anaknya pula.


"Bhian tidak manja ibu, hanya sedikit kesal karena di abaikan oleh ibu dan seseorang yang menjadi Catriku" Raja Bhian melirik Zhia pura-pura tidak perduli padahal ia sedang merasa bersalah karena melupakan pria itu.


"Siapa Catri?" tanya ibu Suri setelah selesai mengisi piring anaknya.


"Di samping ibu itu" Ibu Suri menatap Zhia bingung, yang di tatap hanya nyengir saja.


"Namanya Zhia, Bhian bukan Catri" koreksi ibu Suri was-was.


Wanita tua itu takut anaknya memiliki wanita lain dan malah membahasnya di depan calon istrinya.


"Bhian tahu ibu, tapi dia itukan Catri, calon istrinya Bhian" Raja Bhian tersenyum saat mendengar dengskusan napas ibunya yang nampak sedikit kesal.


"Ibu pikir kamu sedang membahas wanita lain, awas saja kamu berani membahas wanita lain di hadapan ibu" ancam ibu Suri yang hanya di angguki oleh Raja Bhian.

__ADS_1


__ADS_2