
Raja Bhian membawa Zhia serta bersamanya menuju ruangan kerjanya yang ada di istana. Ruangan yang biasanya di gunakan untuk membicarakan masalah kerajaan dengan para Menterinya.
Sedangkan ruang baca di kediaman utama lebih bersifat untuk pekerjaan pribadi dan semua informasi penting kerajaan ada di ruang baca itu. Raja Bhian tidak ingin kecolongan dengan membiarkan berkas penting berada di ruangan kerjanya karena berpotensi besar di curi meski memiliki penjagaan ketat.
Zhia yang di bawa calon suaminya hanya diam saja menurut tanpa protes.
Hingga pasangan itu duduk di kursi empuk yang ada di ruangan itu. Sedangkan Jendral Loican dan Panglima Qai duduk di hadapan Raja Bhian.
"Sekarang ceritakan, bagaimana kelanjutan dari para pemberontak itu?" tanya Raja Bhian datar.
Jendral Loican mengangguk lalu mulai bercerita.
"Apa Yang Mulia ingat tentang para pemberontak lima tahun yang lalu?" Raja Bhian mengangguk sebagai respon dari pertanyaan itu.
"Para pemberontak itu menyerang bangsawan Mae dengan penyamaran seperti para prajurit saya Yang Mulia, mereka juga mengatakan dengan jelas dan berteriak kalau mereka pasukan saya dan membantai habis keluarga bangsawan itu yang sebenarnya tujuan utamanya adalah merampok"
"Bukan hanya keluarga bangsawan itu saja sebenarnya yang di bantai, ada dua keluarga lagi yang menjadi terget mereka, hanya saja pada target kedua dan ketiga mereka gagal, target kedua kami beri peringatan hingga mereka bisa pergi dari kediaman mereka tanpa di ketahui dengan bantuan kami, kami juga bisa mencegah mereka yang ingin membakar kediaman keluarga itu"
"Dan waktu aksi mereka yang terakhir itu kami berhasil menghabisi orang-orang yang selalu melakukan perampokan yang mengatas namakan pasukan saya itu, butuh waktu hampir setahun bagi kami untuk kami bisa menumpas mereka sampai habis hingga pimpinannya"
"Pimpinannya selalu berpindah-pindah tempat dari satu desa ke desa lain, mereka juga melakukan penyamaran seperti rakyat biasa dan berlaku layaknya rakyat biasa untuk mengelabui kami, empat bulan kami memantau dan mengamati semua gerak-gerik dan cara mereka bersembunyi, kami berhasil menyerang persembunyian mereka hanya saja masih ada yang lolos dan ternyata yang lolos itu lari ke bagian pesisir pantai setelah kami cari sebulan lamanya"
__ADS_1
"Kelompok itu sangat pandai menyamar, untung kami sudah mengerti trik mereka itu jadi bisa menanganinya dan di sana kami menghabisi pimpinan pemberontak itu, tapi ternyata tewasnya pimpinan mereka tidak membuat pasukannya habis karena mereka sudah menyebar ke berbagai daerah sehingga kami harus memberi peringatan juga pada yang lain untuk waspada dan mencari mereka dan hasilnya kami baru bisa benar-benar bisa menunpasnya beberapa bulan lalu Yang Mulia"
Jendral Loican menjelaskan semuanya pada sang Raja yang masih terdiam mendengarkan. Sedangkan Zhia yang kurang paham maksud dari semua perkataan Jendral di depannya masih berpikir, mencoba mencari satu jawaban.
"Bisa jelaskan apa hubungannya dengan balas dendam wanita tadi? maksudnya apa dari semua cerita tadi?" tanya Zhia dengan wajah yang benar-benar polos dan pandangan penasarannya sungguh menggemaskan.
Raja Bhian langsung menangkup kedua pipi Zhia mengarahkan wajah menggemaskan itu kearahnya.
"Lihat Cami saja, jangan lihat kesana" ucapnya dengan posesif bahkan meski wajahnya datar dirinya tidak membiarkan Zhia melihat kearah lain dan tetap menangkup wajah cantik calon istrinya.
"Tapikan Catri lagi nanyak sama tuan Jendral nya Cami.. ya harus lihat ke depan.."
"Ssstt lihat sini saja" tegas pria itu tak terbantahkan.
"Ish malu tahu!" kesal zhia memukul pelan dada pria di depannya yang malah mendekapnya.
"Jawab pertanyaan Putri Zhia Jendral" Raja Bhian menatap pria berumur di depannya.
Jendral Loican berdehem sejenak untuk menetralkan keterkejutannya setelah melihat adegan live tadi, begitupun dengan Panglima Qai. Jiwa jomblonya langsung memberontak dan berteriak melihat apa yang Rajanya lakukan.
Pasanganku oh pasanganku.. dimanakah kamu berada? batin Panglima Qai sedih karena ternyata dirinya belum punya pasangan.
__ADS_1
"Setelah mendapatkan kabar mengenai pembantaian yang terjadi pada keluarga bangsawan Mae itu saya meminta orang-orang saya menyelidiki dan mencari tahu semuanya, dan salah satu hasil yang di dapatkan adalah kenyataan kalau salah satu anak gadis keluarga Mae selamat dan di tengah pelariaannya ada salah satu pasukan tinggi pemberontak itu bertemu dengan gadis itu dan membawanya"
Setelah bertanya dan mengetahui siapa yang di tolong, orang itu melatih Rui Mae beberapa kemampuan untuk balas dendam karena mereka juga menanamkan kebencian di hati Rui Mae yang sedih dengan mengatakan kalau saya yang dalang di balik kehancuran keluarganya dan harus balas dendam, jadi karena itu pula Rui Mae melakukan segala cara untuk bisa balas dendam pada saya" jelas Jendral Loican lagi.
"Kalau kalian sudah tahu gadis itu di selamatkan pemberontak dan di latih untuk balas dendam kenapa tidak di cegah dan malah di biarkan?" tanya Zhia lagi karena rasa penasarannya belum tertuntaskan.
Meski posisinya berada di pelukan posesif calon suami tapi tidak menyurutkan keinginan Zhia untuk menuntaskan rasa penasarannya. Dari pada di tahan rasa penasarannya mending di tuntaskan kalau tidak bisa jadi bisul nanti batin Zhia.
"Saya bukan sengaja membiarkan hal itu Tuan Putri, hanya saja fokus saya saat itu bukan pada wanita yang akan balas dendam cuma karena salah paham, saya lebih mendahulukan yang sasaran utama agar tidak semakin meresahkan, dan setelah semua masalah pemberontak itu selesai saya memerintahkan seseorang untuk mencari keberadaan keturunan Mae itu, tapi sulit di dapatkan karena kami yang tidak pernah tahu bagaimana wajahnya selain dari apa yang pernah di jelaskan orang yang pernah melihatnya"
"Sampai kami mendengar penjelasan dari Panglima Qai dan mencocokkan dengan semua yang sudah kami dapatkan dari hasil pencarian dan memang saat itu saya akan menuju ke istana untuk mencarinya karena orang yang saya utus mencari keberadaannya mengatakan kalau ada jejak seorang gadis yang masuk istana menggunakan nama saya"
Zhia mengangguk di dada pria yang memeluknya sebagai jawaban kalau dia sudah mengerti.
"Kalian boleh keluar, dan untuk Jendral Loican kamu tetap harus mendapatkan hukuman karena sudah mengabaikan sesuatu yang kamu anggap sepele tapi akhirnya mengancam nyawa Putri Zhia" ucap Raja Bhian membuat Zhia mengangkat kepalanya melihat pria itu.
Sedangkan Jendral Loican yang sudah paham akan sang Raja yang tidak pernah menerima satu kelalaian yang hampir membuat orang lain celaka hanya diam pasrah.
"Baik Yang Mulia saya akan menerima hukuman itu" sahutnya menunduk.
"Kamu harus mengirimkan daging rusa dan kijang yang berasal dari hutan sana dan kamu sendiri yang menangkapnya" ucap Raja Bhian.
__ADS_1
Bukan pekara mudah mendapatkan hewan buruan di daerah hutan yang berada di kawasan pimpinan Jendral Loican. Hutan lebat yang dominan hewan buas itu membuat para pemburu hewan tidak mau masuk ke sana. Selain itu juga cukup sulit menemukan hewan buruan yang di inginkan di hutan itu.
Raja Bhian yang ingin makan daging kijang dan rusa namun belum sempat berburu, jadi memberi hukuman sang Jendral seperti itu lebih baik. Apa lagi Zhia yang juga suka makan daging hasil buruan pasti akan senang.