Calon Ratu

Calon Ratu
22


__ADS_3

"Kerajaan Sun ini ternyata besar juga ya, sejak tadi kita terbang belum sampai juga" ucap Zhia sambil melihat-lihat kebawah. Kerajaan yang indah dan besar, pantas saja jadi kerajaan adijaya batin Zhia.


"Sebentar lagi juga kita sampai, kamu saja yang tidak sabaran Catri" kata Raja Bhian membuat Zhia sedikit cemberut karena di bilang tidak sabaran.


"Mana ada tidak sabar, Catrimu ini orang paling sabar ya Cami" ucap Zhia protes.


"Benarkah!" Zhia mengangguk yakin membuat Raja Bhian tersenyum jahil.


"Nae lebih cepat"


Burung Nae langsung saja mengapakkan sayapnya lebih kuat hingga mereka terbang sangat cepat. Zhia yang duduk di depan sampai kesulitan bernapas karena angin terlalu kencang menerpa wajahnya.


Zhia yang tidak sanggup bicara hanya bisa memukul tangan Raja Bhian yang memeluknya dari belakang. Begitu burung Nae melesat kencang, Raja Bhian pun memeluk tubuh Zhia dari belakang cukup erat.


Tapi yang tangannya di pukul malah meraih tangan Zhia dan menggenggam tangan kecil itu. Di pikirnya Zhia takut melayang dari punggung burung itu, jadi Raja Bhian memegang tangan Zhia tanpa melihat bagaimana keadaan gadis di depannya.


Zhia benar-benar sudah sangat kesulitan bernapas akibta angin kencang, dan hampir saja ia pingsan kalau saja burung besar itu masih tetap terbang. Burung Nae mendarat di halaman istana sebelum Zhia kehilangan kesadaran.


Gadis itu masih diam mematung seraya mengatur pernapasannya agar kembali normal setelah di terpa angin topan. Bahkan penampilannya pun sudah nampak kacau, yang tadinya rambutnya tertata rapi dengan beberapa penjepit rambut sekarang sudah tidak tentu arah lagi.


Bahkan jepitan rambut Zhia ada yang menggantung di ujung rambutnya dan bersiap untuk jatuh.


Raja Bhian yang sudah turun lebih dulu melihat Zhia dengan uluran tangannya. Namun pemandangan di depan matanya membuatnya menelan saliva mendadak hingga tenggorokannya terasa sakit. Ada apa dengannya batin Raja Bhian belum menyadari kesalahannya.


"Kenapa penampilanmu berantakan Catri?" tanya Raja Bhian menyadarkan Zhia.


Gadis itu menatap sengit pada calon suaminya yang terlihat biasa saja, bahkan terkesan bagai orang yang tidak melakukan kesalahan. Raja Bhian yang mendapat lampu tanda bahaya langsung siaga satu.


Benar saja tebakan pria itu, calon istrinya langsung melompat dari atas burung Nae dan menyerangnya. Raja Bhian tidak membalas hanya berusaha menghindar karena serangan Zhia yang seperti orang sedang meluapkan kekesalan bukan amarah apa lagi serius.


TAP


TAP

__ADS_1


TAP


Jepit rambut Zhia mendarat di tangan Raja Bhian dan...


TAP


TAP


Dua tusuk rambut yang menahan sanggulan atas rambut Zhia datang padanya. Pandangan pria itu langsung mengarah pada Zhia menatapnya dengan sangat kesal. Rambut Zhia sudah tidak memakai penjepit lagi hingga rambut halus itu terurai indah dengan panjang sepinggul.


"Wah cantik sekali" gumam prajurit yang berkumpul di sana saat tadi mereka melihat kedatangan Raja mereka, niat ingin menyambut jadi waspada karena Raja mereka di serang.


Tapi tidak ada satupun yang boleh maju ikut campur.


"Benar-benar cantik"


"Inikah yang namanya wujud seorang Dewi dari langit"


Bisik-bisik itu terdengar di telinga Raja Bhian hingga membuat telinganya terasa gatal dan dadanya panas. Berani sekali mereka menatap milikku begitu batin Raja Bhian jadi ikutan kesal juga.


"Zhia Bhian" panggil Ibu Suri lagi mendekati anak dan calon menantunya.


Betapa herannya wanita paruh baya itu saat mendapati kedua anaknya sedang berkelahi. Padahal tadi ia sudah sangat senang kala mendengar berita dari prajurit kalau putranya telah sampai dan berharap akan melihat hal baik. Namun apa yang di lihatnya kini berbanding terbalik pula, kedua orang yang di harapkan justru sedang adu kekuatan.


"Kalian sedang apa nak?" tanya Ibu Suri melihat Zhia dan Raja Bhian bergantian.


"Kami.."


"Kakak sepupu apa kamu baik-baik saja? tadi Wiya melihat kakak sepupu di serang olehnya" ucap Wiya yang entah datang dari mana langsung menunjukkan wajah khawatir.


Entah itu sungguhan atau hanya drama semata, hanya Wiya sendiri yang tahu jawabannya.


"Apa maksud ucapan Wiya itu nak?" tanya Ibu Suri melihat Raja Bhian yang nampak sangat kesal memandang Zhia. Tapi yang di pandang tidak perduli malah melipat kedua tangannya di dada.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa bu, nanti kita bicara lagi" Raja Bhian mendekati Zhia yang hanya tiga langkah di hadapannya lalu memanggul gadis itu di bahunya untuk di bawa pergi.


"Turun kan aku turunkan aku" kesal Zhia memukul punggung Raja Bhian dengan keras hingga suara pukulan itu dapat di dengar oleh orang-orang yang mereka lewati.


"Siapa dia? berani sekali dia memukul Yang Mulia Raja!" seru seorang prajurit menatap kepergian Raja Bhian dan Zhia dengan tidak percaya kalau ada seseorang yang berani memuluk Raja mereka tanpa rasa takut, bahkan di istananya sendiri.


"Mungkin dia calon Ratu kita!"


"Cantik dan pemberani"


"Ya sangat berani"


Mereka mengangumi keberanian Zhia yang memukul dan menyerang Raja Bhian tadi. Karena selama ini biasanya para wanita akan bersikap lemah lembut dan manja di hadapan Raja Bhian demi menarik perhatian. Tetapi gadis yang baru tiba dengan Raja muda itu justru terlihat kasar dan bar-bar.


Wiya yang mendengar pujian dari prajurit di sana untuk Zhia merasa geram. Apa lagi tadi dirinya di acuhkan dan tidak pernah sekalipun ia menyentuh Raja Bhian walau hanya ujung pakaiannya saja. Sedangkan Zhia yang merupakan orang baru bukan hanya memegang tetapi mungkin sudah lebih dari itu.


Memikirnya hal yang jauh di pikirannya membuat hati dan jiwa Wiya serasa terbakar. Apa lagi yang ia tahu kalau kakak sepupunya itu tidur di kamar Zhia saat berada di kerajaan Month. Segala dugaannya seakan semakin menguat kala melihat arah langkah Raja Bhian yang menuju bangunan pribadi utama yang selama ini di tempati Raja.


Tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana, bahkan pelayan dan prajurit yang menjagapun semua orang-orang pilihan.


Dada Wiya naik turun menahan emosi yang siap meledak itu, tapi ia sadar saat ini bukan waktu yang tepat untuk marah. Apa lagi ada Ibu Suri di sana yang baru mulai melangkah menuju vila kecil miliknya di belakang. Tak akan aku biarkan dia merebut kakak sepupu batin Wiya.


"Bibi!" panggil Wiya melangkah lebar mendekati Ibu Suri yang menghentikan langkahnya kala mendengarkan panggilan dari keponakan suaminya itu.


"Ada apa Wiya?" tanya Ibu Suri.


"Bibi lihat sendirikan bagaimana sikap wanita itu, dia bahkan tidak berpenampilan baik saat datang, sambutan bibi juga di abaikannya, wanita seperti itu tidak baik untuk tinggal di kediaman utama bibi dia bisa saja mempengaruhi kakak sepupu dengan hal-hal tidak baik" ucap Wiya dengan wajah serius dan khawatir berharap dapat mempengaruhi bibinya.


"Kalau itu kamu bilang sendiri saja pada kakak sepupu langsung, kamu sendiri tahu kalau semua keputusan di kerajaan ini Bhian yang menentukan bibi tidak bisa ikut campur karena sudah memutuskan untuk menyendiri di vila belakang, jadi apapun pendapat dan tuntutanmu sampaikan langsung padanya atau pada bawahannya" kata Ibu Suri.


"Bibi kembali kevila dulu, ingin istirahat sebentar sebelum nanti mereka menemui bibi" lanjutnya sembari melangkah pergi.


Wiya mengepalkan kedua tangannya erat dengan perasaan yang sangat marah tetapi tidak bisa di salurkan di sana.

__ADS_1


"Kurang ajar" geramnya lirih dan pelan agar tidak ada yang mendengar.


__ADS_2